Bab 2.

1161 Kata
Ibu melihatku dengan tatapan tidak suka. Aku segera menunduk. Tidak enak hati rasanya. Seumur-umur baru kali ini ibu menatapku seperti itu. Aku segera bergegas masuk ke dalam kamar. Otakku masih dipenuhi kata-kata Mas Gilang tadi. Tahu dari mana Mas Gilang tentang lelaki yang bernama Fajar? Mengapa dia melarangku menerima pinangannya? Adakah sesuatu yang ganjil? Jangan-jangan, itu hanya dalih Mas Gilang saja. Bukannya ibu tadi mengatakan, kalau Mas Fajar tidak segera meminangku, maka Mas Gilang yang akan meminangku? Apakah mereka bersaing? Aku tersenyum kecut jika mengingat perlakuan Mas Gilang selama ini. Mana mungkin dia mau meminangku. Menatap saja dia seolah enggan. Seringnya hanya tersenyum sinis. Tapi, mengapa tiba-tiba dia melarangku menerima pinangan lelaki bernama Fajar? Kududukkan badanku ke sisi ranjang. Aku seperti orang linglung. Memikirkan mau dipinang orang saja kepalaku sudah terasa pening. Apalagi Mas Gilang menambah masalah dengan melarangku menerima pinangan lelaki yang akan segera datang berkunjung. Ah, bodo amat! “Lho, Ndhuk. Kok belum siap-siap?” tanya Bulik Diah. Kepalanya menyembul dari sela-sela pintu. Lalu membuka pintu kamarku dan masuk ke dalam. “Memang mesti bagaimana tho, Bulik?” tanyaku. Aku rasa aku sudah cukup berpenampilan sopan untuk menemui tamu. Tunik selutut dipadu celana bahan dan jilbab instan. Bulik Diah menatapku sambil menggelengkan kepalanya. Memang, aku lihat Bulik Diah dan Bude Siti pun memakai baju yang tidak biasa. Tapi bukannya mereka hanya mengatakan bahwa tamu akan datang dan berkenalan saja? Bulik Diah berjalan ke arah lemari baju di kamarku. Disibakkannya baju yang tergantung disitu. Lalu beliau mengambil salah satu dress yang kupakai terakhir kali di acara wisuda. Dress berbahan satin dengan dipadu broklat. “Kok pake baju kayak gini?” Aku menggeleng. Keningku berkerut tanda aku tidak mengerti. Bisa-bisa aku jadi salah kostum. Dikira aku ke-GR-an. Toh, katanya hanya kenalan. “Sudah kamu pakai saja,” kata Bulik sambil menyuruhku ke kamar mandi untuk cuci muka. Katanya wajahku harus sedikit dirias agar segar. Haduh? Apa lagi ini? Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. Drttttt Segera kuraih ponsel yang aku taruh di atas meja. Alisku bertaut. Ah iya, baru ingat, nomor Mas Gilang belum kusimpan. Aku memang tidak punya nomor Mas Gilang dari dulu. Buat apa? Orangnya dari dulu jutek dan selalu menolak jika aku meminta tolong, dengan alasan kalau aku ini nyusahin. [Kalau Fajar kasih kamu cincin, jangan diterima] k****a pesan dari Mas Gilang. Heleh, apa-apaan sih. Kayak ABG labil cemburuan saja. Kalau lelaki yang bernama Fajar memberiku cincin memang kenapa? Segera aku letakkan kembali ponselku. Aku tidak terlalu menggubrisnya. Sementara Bulik Diah sibuk menyapukan make up di wajahku. “Nah, itu tamunya datang,” kata Bulik Diah saat kami mendengar suara deru mobil berhenti di depan rumah. Segera bulik dengan sigap membenahi jilbab di kepalaku yang entah di model apa. Bulik Diah memang bekerja sebagai rias pengantin. Wajar jika bulik ahli merias dan menata jilbab. Ibu segera mengajakku ke ruang tamu. Kulihat di sana sudah ada Pakde, Paklik, dan juga Bapak. Sedangkan Ibu, Bude dan Bulik duduk di dekatku. Sementara tamunya ada sepasang suami istri yang seusia ibukku dan juga seorang pemuda berbaju batik. Aku sebenarnya penasaran dengan pemuda itu. Tapi, entahlah mengapa rasa takut tiba-tiba menyelimutiku. Aku merasa segan dan malu untuk menatapnya. Aku hanya menunduk dan sibuk memainkan ujung outer broklat yang kukenakan. Sedangkan ibu tampak sangat akrab bercakap-cakap dengan ibu pemuda itu yang juga adalah teman sekolah ibu. Sesekali Bude dan Bulik turut menimpali. Tak begitu aku dengarkan apa yang mereka perbincangkan. Otakku berkelana entah kemana. Aku tidak mengerti apa arti semua ini. Rasanya tegang sekali pikiranku. Hingga tiba-tiba... “Sekar, sini.” Suara bapak memanggilku untuk mendekat. Segera aku beranjak setelah Ibu memberi kode untuk mendekat ke Bapak. Tiba-tiba mataku terbelalak. Teringat kata-kata Mas Gilang. Lelaki itu membuka kota kecil dengan cover berbahan beludru warna hitam. Sudah bisa ku tebak itu adalah cincin. Tiba-tiba kepalaku serasa berdenyut ketika bapak memintaku mengulurkan jari manisku. “Jangan!” Sebuah suara lantang terdengar dari arah pintu. Semua orang menatap ke sana. Seorang lelaki tampan berdiri di ambang pintu. Tiba-tiba aku merasa semuanya gelap! --- Kukerjapkan mata. Ternyata aku sudah berada di dalam kamar, terbaring lemah di ranjang. Siapa yang memindahkan aku ke sini? Aku pun tak tahu. Terakhir aku berada di ruang tamu, dan melihat ada Mas Gilang di ambang pintu. Akan tetapi, mengapa aku jadi berada di sini? Baju yang kukenakan pun masih sama. Gamis satin dengan outer broklat warna abu. “Kamu sudah sadar, Sekar?” tanya Bulik Diah yang duduk di sisi ranjang. Beliau segera berdiri dan mengambil cangkir berisi teh panas dari atas meja belajarku. Kulihat asap teh itu masih mengepul. Tandanya, isinya masih panas. “Minum dulu, biar kamu ada tenaga,” tukas Bulik Diah sambil mengangsurkan cangkir teh tersebut. Kudengar sayup-sayup suara tamu masih ada. Sepertinya mereka masih berbincang di ruang tamu. Tak lama, kulihat ibu membuka pintu kamar. Lalu beliau masuk dan duduk di sisi ranjang, bersisihan dengan Bulik Diah. “Ndhuk, kamu masih lemes?” tanya ibu. Aku hanya mengangguk. Sepertinya aku ingin lebih baik di kamar, malas rasanya keluar. Suasana sangat canggung. “Nduk, Bapak dan Ibu sudah menentukan hari pernikahanmu dengan Mas Fajar. Sebulan lagi. karena Mas Fajar mau promosi dan mutasi ke Makassar. Jadi harus segera menikah sebelum pindah,” kata ibu. Mendengar itu, kepalaku menjadi kembali berdenyut. Mengapa ada pernikahan? Bukannya janjinya hanya kenalan? “Wis ngga usah banyak dipikir. Kamu manut saja. Semua akan diurus sama keluarganya Mas Fajar,” imbuh ibu sambil bangkit dan berlalu meninggalkanku. Sementara, Bulik tersenyum sambil mengusap lenganku, seperti hendak berkata, tenang saja, semua akan berjalan lancar. Aku kembali memejamkan mata. Aku baru ingat, sepertinya aku tadi belum makan siang. Sejak tiba dari Jakarta, aku langsung di suruh ibu nganter kue ke rumah Bude Hanum. Pulang-pulang sudah ada bulik dan bude. Pantesan, badanku terasa lemah. Tapi, tunggu. Bukannya tadi ada Mas Gilang? Mengapa tiba-tiba menghilang. Bahkan, ibu tidak mengatakan apa-apa tentang Mas Gilang yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu. Kupejamkan mataku rapat-rapat. Lalu aku berusaha mengerjapkannya kembali. Ini seperti halusinasi. Otakku pun kuajak bekerja keras. Jadi, Mas Fajar buru-buru menikah karena mau promosi ke luar Jawa. Apakah hanya itu alasannya? Atau, ada alasan lainnya? Di luar terdengar sudah mulai senyap. Suara deru mobil meninggalkan halaman rumah pun sudah sejak sepuluh menit yang lalu. Artinya, tamu sudah pulang. Beruntung aku tidak disuruh untuk keluar kamar. Lagi pula, aku tak tahu harus berbuat apa jika keluar. Pendapatku pun seolah tiada guna. Aku hanya diperintahkan untuk manut saja. “Jadi, Sekar. Empat minggu dari sekarang acaranya,” kata Ibu sembari duduk di sisi ranjang setelah pakde, bude, palik dan bulik pun pulang. Lalu Ibu memintaku mengulurkan tanganku untuk memasangkan cincin di jari manisku. “Nanti Mas Fajar akan menemuimu di Jakarta. Ibu sudah memberikan nomor telponmu dan juga alamat kosmu,” kata ibu lagi. Aku hanya mengangguk lemah. Syukurlah masih ada empat minggu lagi. Artinya, masih ada harapan untuk mengenal siapa Mas Fajar sesungguhnya. Jangan sampe deh aku menikah dengan orang yang tidak aku kenal. Ini jaman revolusi industri 5.0. bukan jaman Siti Nurbaya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN