ilang menatap Sakina. Begitu pula sebaliknya. Pemuda itu terdiam. Tapi, kemudian ingat kalau dia harus segera pergi sebelum Fajar melihat keberadaannya. Dia ingat kalau Fajar sangat posesif. “Sekar, ayo kita pergi!” Gilang menarik tangan Sekar. Namun, wanita muda itu menepiskannya. Sekar masih menatap Sakina dengan nanar. Marah bercampur kesal. Karena wanita itu masih saja berhubungan dengan suaminya. “Kin, kita duluan,” pamit Gilang. Dia sudah melihat Fajar yang sudah beranjak dari duduknya. Sepertinya lelaki itu memahami ada kegaduhan di luar restoran. “Tunggu!” Fajar sudah berdiri di ambang pintu restoran. Lelaki itu berjalan mendekat. “Selamat ya atas pernikahan kalian. Kamu menang,” ujar Fajar sambil menepuk pundak Gilang. Tentu saja Gilang gelagapan. Sakina di depannya ju

