Tak Ada bulan Madu

1615 Kata
Pagi pun tiba. Sara masih tertidur saat Robin terbangun dan menyadari ada seseorang yang berbaring di sisinya. Perlahan Robin mengelus rambutnya sendiri, seolah mencoba mengumpulkan nyawanya dari tidurnya yang begitu lelap tadi malam lalu menatap Sara dalam. Mereka masih dalam keadaan tanpa sehelai benang di tubuh di dalam selimut tebal yang menutupi seluruh ranjang. Sara masih tertidur lelap di sudut ranjang dengan sedikit meringkuk, seolah mencoba melindungi dirinya dari 'serangan' Robin. Soal hubungan intim, biasanya Robin tak pernah melakukannya hanya sekali saja, tapi kali ini, bersama Sara ia merasa berbeda. Kejadian semalam tak hanya menguras fisiknya tapi juga perasaannya. Entah kapan terakhir kali Robin bisa tertidur lelap seperti tadi malam. Karena biasanya ia tak pernah tidur lebih dari 3 jam, tapi kali ini ia tertidur begitu lama setelah bercinta dengan Sara. Robin bangkit dan melangkah perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Perlahan ia membasahi tubuhnya dibawah shower dengan air dingin dan berdiri mematung sambil mengatur nafasnya. Tak hanya Sara yang harus beradaptasi dan menerima status barunya, tapi juga Robin. Dibawah guyuran air dingin ia mencoba menyadari dan mencerna bahwa ia kini adalah suami resmi dari Sara yang merupakan anak dari seseorang yang sangat ini sangat ia benci. Perasaannya kembali bergemuruh dengan perasaan marah dan dendam tapi berubah menjadi birahi saat ia ingat apa yang ia lakukan bersama Sara tadi malam. Robin memukul tembok perlahan saat ia sadar bahwa tubuh bagian bawahnya mengkhianati pikirannya, karena tiba-tiba saja tubuhnya menginginkan kembali untuk menikmati tubuh Sara. Selesai mandi Robin menatap dirinya di cermin, tampak ada bekas cakaran di bagian leher dan d**a. Ada senyum kecil yang tersungging di sudut bibirnya, tak ada satupun orang yang berani melukai Robin, tapi perempuan ini berhasil menggores banyak cakaran ditubuhnya. Robin segera mengenakan T Shirt dan celana panjang lalu merapikan rambutnya. Pagi ini ia akan pergi untuk menyegarkan tubuh dengan bermain golf dengan sahabat-sahabat karibnya. Robin pun keluar dari ruangan pakaian dan melihat Sara masih tertidur. Perlahan ia membuka selimut dan melihat ada bercak darah yang cukup banyak di sprei. "Apakah ia melakukannya terlalu kasar?" pikir Robin bertanya dalam hati. Walau begitu hatinya tak bisa bohong untuk mengakui bahwa istri barunya ini masih bisa menjaga kesucian dirinya dan ia orang pertama menerimanya. Robin segera meninggalkan kamar dan menguncinya dari luar. Kejadian semalam membuatnya sedikit melunak untuk ‘menyiksa’ Sara. Robin memutuskan untuk mengunci istri barunya dikamar, karena ia khawatir Sara akan menyelinap keluar dan lari. Tak hanya dikunci, Robin pun mengambil dompet dan handphone milik Sara, agar perempuan itu tak bisa menghubungi siapapun. Ia harus menjaga agar Sara tetap di dalam genggamannya. *** Sara terbangun dari tidurnya dengan merasakan kesakitan dan pegal disekujur tubuh. Perlahan Sara menoleh kearah samping dan menghembuskan nafas lega karena tak menemukan Robin disisinya. Ketidakhadiran Robin seolah memberinya waktu untuk mengumpulkan energi agar bisa bangkit untuk membersihkan diri lalu pergi dari tempat itu. Sara pun mencoba untuk bangun, lalu mencari koper yang kemarin ia bawa, tapi tak bisa menemukannya. Pakaian yang ia kenakan kemarin sudah terkoyak dengan kancing yang terlepas karena perbuatan Robin. Ia segera membersihkan diri dan hanya menggunakan salah satu bathrobe bersih milik Robin yang masih terlipat rapi di lemari handuk di dekat kamar mandi. Didepan cermin ia banyak menemukan bekas memar memar kecil di tubuhnya. Rasa sakit percintaan mereka tadi malam membuat Sara merasa trauma. “Siapa bilang malam pertama itu indah!” pekiknya dalam hati. Ia merasa kesakitan yang luar biasa dan rasanya tak ingin melakukannya lagi. Apa mungkin karena ia melakukannya bukan dengan seseorang yang ia cintai? Tapi terpaksa melakukannya hanya karena membayar hutang sang ayah yang melakukan kesalahan. Sara mencoba mengingat sosok Robin, walau terlihat kasar padanya tadi malam, tetapi saat bercinta ia melakukannya cukup lembut. Walau terasa sakit, Robin selalu berbisik untuk mencoba menenangkan Sara. Selesai membersihkan dirinya Sara mencoba untuk mengambil sebuah kemeja milik Robin dan mengenakan kembali celana panjang miliknya yang masih utuh. Ia harus segera keluar dari sini. Sara segera menyambar tas tangan miliknya yang berada diatas meja dan mulai membuka pintu tetapi pintu itu terkunci. "Halooo … Ada seseorang diluar sana?! Tolong bukakan pintunya...," pinta Sara sambil memukul-mukul pintu dengan keras, berharap para asisten rumah tangga diluar sana mendengarnya. Sara mulai panik saat sadar tak ada yang merespon teriakannya. Ia mulai berjalan menuju jendela besar dan menatap keluar. Ia menjerit kesal saat ia tak bisa membuka jendela karena terlalu besar dan tinggi. Selain itu, jika ia berhasil memecahkan kaca dan melompat, pasti ia akan jatuh dan mematahkan beberapa tulang ditubuhnya. Sara baru menyadari bahwa handphone dan dompetnya pun juga tak ada, saat ia mencoba mencari pertolongan. Bahkan ia berniat akan mencoba menelpon polisi agar ia bisa terbebas dari kamar ini. Sara terduduk lemas, ia lupa bahwa Robin bukan orang sembarangan yang bisa ia lawan. Jika bisa melawan, mungkin saat ini Sara sudah berada jauh dari Robin dan tak menikah dengannya. Sara duduk meringkuk dibawah jendela. Perutnya lapar tapi tak ada satupun yang datang untuk menawarkannya makanan. Ia hanya bisa menghela nafas panjang dan mencoba bersabar dan menenangkan pikirannya sampai Robin kembali. Waktu menunjukan pukul 11 pagi, saat Robin kembali dari aktivitasnya bermain golf. Sara yang tengah duduk disofa sambil menonton tivi sontak berdiri dan menatap Robin canggung. Pria itu masuk kedalam kamar dan melangkah melewati Sara tanpa mengatakan apa apa. Ia mencuci tangannya lalu duduk di sofa yang baru saja Sara duduki tanpa berbicara sepatah kata pun. Sedangkan Sara hanya berdiri mematung tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba Robin menoleh ke arah Sara dan memperhatikan kemeja yang Sara kenakan. "Itu bajuku?” tanya Robin. Sara hanya mengangguk sambil tertunduk. "Barang- barangku entah mengapa tak bisa kutemukan. Maaf, aku terpaksa pinjam baju ini." suara Sara terdengar pelan karena tak enak hati. "Aku sudah membelikanmu pakaian baru dan aku juga yang suruh agar barang barangmu dibawa keluar. Aku tak ingin pakaianku bercampur dengan pakaian usang," jawab Robin angkuh. "Ohya, bolehkah kuminta kembali handphone dan dompetku?" pinta Sara perlahan saat melihat Robin tampak mau berkomunikasi dengannya. "Tidak." "Tapi, Mas..." "Kenapa? Kamu mau lari dari sini?" "Tentu tidak, tapi aku butuh handphone untuk berkomunikasi dengan teman- temanku." "Gak." "Tapi Mas..." "Aku bilang tidak!" Sara terdiam dibentak seperti itu.Ia merasa takut dan tak ingin memancing kemarahan Robin, apalagi ia tak tahu apa yang akan dihadapi nanti. Tiba-tiba perut Sara berbunyi, menandakan tubuhnya sudah tak bisa menahan rasa lapar. Robin menyadari kalau Sara belum mendapatkan makanan apapun. Lalu dengan santai ia mengangkat intercom dan menyuruh para pelayan untuk mengantarkan makanan. Tak lama kemudian pintu kamar diketuk dan seseorang masuk mengantarkan makanan. "Makan, karena setelah ini kita harus pergi." Robin berkata sambil berdiri dan berjalan menuju ruang ganti pakaian. Perlahan Sara menghampiri meja yang penuh dengan makanan, kemudian tanpa ia sadari perempuan itu mulai makan dengan lahap. "Jika sudah selesai makan, temani aku mandi," ucap Robin saat keluar dari ruang ganti hanya mengenakan selembar handuk yang menutupi tubuhnya dari pinggang ke bawah dan membuat Sara hampir tersedak makanan saat melihatnya. Sara pun mulai melambat menghabiskan makanannya, ia sangat enggan untuk mengikuti keinginan Robin. "Ayo cepat!" panggil Robin berteriak dari dalam kamar mandi dan terdengar suara air yang mengalir memenuhi bathtub. Tanpa menghabiskan makanannya, Sara melangkah menuju kamar mandi dan melihat Robin tengah membasuh dirinya di bawah shower sebelum ia masuk ke dalam bathtub. Gadis itu pun segera memalingkan wajahnya ketika tanpa risi Robin berjalan dan masuk ke dalam bathtub dalam keadaan telanjang. "Kenapa? kamu malu?" Robin seolah mengejek saat melihat Sara salah tingkah berdiri di dekat pintu. "Kenapa mesti malu? Kamu lupa kalau tadi malam kita menghabiskan malam tanpa mengenakan apa apa? Apa bedanya dengan sekarang?" Robin seolah balik bertanya pada Sara. "Buka pakaianmu … sini, ikut aku berendam!” ajak Robin tiba-tiba. Sara memundurkan tubuhnya perlahan. "Aku sudah mandi...," tolak Sara halus dengan suara pelan sambil menunduk. "Aku tak peduli! Mulai saat ini, jika kusuruh kamu kesana kesini dan melakukan ini itu, kamu harus menuruti semua kemauanku!" "Tapi…." "Tidak ada tapi! kamu itu milikku! Tak ada negosiasi!” ucap Robin ketus. Sara terdiam, ia merasa takut tapi ia juga harus bisa mengendalikan emosi Robin agar tak semakin terpancing semakin marah padanya. Sara terkesiap saat Robin tiba-tiba berdiri dan keluar dari bathtub lalu menarik Sara untuk ikut masuk ke dalam bathtub. "Mas!" pekik Sara mencoba menahan tubuhnya agar tidak jatuh dan masuk ke dalam bathtub. Tanpa ragu, Robin segera membuka kemeja yang digunakan Sara dan menarik celananya. "Masuk kataku!” ucap Robin kasar dengan tatapan dingin. Dengan ragu, Sara segera membuka pakaiannya yang telah terkoyak dan masuk ke dalam bathtub perlahan. "Mas, jangan...," ucap Sara lirih saat tubuhnya ditarik kedalam pelukan Robin. Robin tampak tak peduli. Ia seolah sengaja ingin mempermalukan Sara dengan menggerayangi tubuhnya dan mencoba menciumi Sara. Sara mencoba menahan tubuh Robin dengan kedua tangannya didepan d**a saat Robin seolah akan mengajaknya bercinta disana. "Mas.... Jangan…;" ucap Sara memohon hampir menangis karena merasa dilecehkan. Robin seolah tak peduli. Air pun terciprat kemana-mana karena Robin dan Sara seolah membuat gelombang besar di dalam bathtub. Robin yang awalnya berniat hanya ingin membuat Sara tak nyaman merasa terangsang karena sikapnya sendiri. Saat tak tahan dengan hasratnya, Robin segera berdiri dan memanggul Sara seperti mengangkat karung keluar dari bathtub dan dalam keadaan basah kuyup, mereka menghempaskan diri ke atas ranjang. Sara mencoba meronta diantara rasa dingin karena tubuhnya yang basah dan terkena dinginnya Ac, tapi Robin terlalu kuat, dengan perawakannya yang tinggi dan kekar membuat Sara tak memiliki kekuatan melawan Robin saat mencumbu tubuhnya. "Panggil namaku!” pinta Robin dengan suara serak dan terengah engah penuh hasrat. "Mas…," Sara berkata dengan suara lirih penuh rasa takut. "Panggil namaku!" "Ro..robin..akkh!” pekik Sara saat Robin menyatukan tubuh mereka. "Kamu pasti menyukainya bukan?! Jangan munafik! Kamu marah?! Percuma! karena kamu milikku! Dan aku bisa memperlakukanmu semauku!” bisik Robin dengan suara serak diantara hasrat birahinya yang memuncak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN