Langkah Vallen sedikit tertatih. Ia dipaksa mengikuti Lee yang berjalan cepat menuju lift, tanpa memperdulikan sekelilingnya, seolah sedang melarikan diri dari bahaya besar. Jane pun setengah terseret di belakang mereka.
“Sebentar, pelan sedikit!” protes Vallen sambil menahan sisi pinggangnya yang masih nyeri akibat benturan tadi.
“Aku kesusahan — Dokter Lee! Dokter Lee!?”
Begitu pintu lift tertutup, Lee akhirnya melepaskan cekalannya. Tarikan napas Jane terdengar jelas, seperti orang baru saja diseret lari marathon.
“Sebenarnya ada apa dengan Anda?!” tanya Vallen tanpa basa-basi.
Tatapan Lee yang tadi penuh amarah dan d******i perlahan mengendur. Alih-alih menjawab, ia kembali menangkap tangan Vallen, memeriksa kulitnya dengan gerakan yang nyaris obsesif.
“Maaf,” ucapnya rendah. “Aku, sedikit kesusahan mengontrol diri kalau menyangkut dirimu.”
Vallen menatapnya lama, menunggu jawaban yang lebih logis. Namun Lee justru membuang muka, rahangnya mengeras seolah sedang menelan sesuatu yang pahit.
“Bagaimanapun,” lanjut Lee akhirnya, “kamu adalah asetku yang paling berharga. Maha karyaku yang paling sukses. Jadi, aku tidak ingin siapa pun merusaknya.”
Tawa Jane langsung pecah tanpa bisa ditahan. Tapi begitu Lee menatapnya, ia buru-buru mengatupkan mulut sambil menunduk, bahunya masih berguncang menahan geli.
Vallen justru diam. Tak tersinggung, tapi juga tidak tahu harus merespons apa. Kalimat itu tak asing — ia sudah mendengarnya dari profesor. Ia juga tahu, dirinya adalah karya terakhir Lee sebelum dokter itu memutuskan mundur dari dunia bedah estetika. Satu-satunya pasien yang menjalani remake total. Yang paling sempurna.
Karena itu, ia percaya dengan mudahnya saat Lee memperlakukannya dengan baik.
“Kulitmu sensitif. Jangan sering-sering mencengkeram lengan sendiri kalau kau marah atau nervous. Ada reaksi inflamasi ringan,” ucap Lee lembut, menyentuh lengan Vallen dengan ujung jarinya.
“Ayo obati dulu.”
Lagi-lagi, Vallen tak berdaya saat Lee menariknya lagi keluar dari lift. Gerakannya lembut, tidak memaksa, tapi Vallen justru tak bisa memberontak atau menolak.
Ia menoleh beberapa kali ke belakang, melihat Jane yang hanya mengikuti sambil menghela napas panjang, seperti sudah terbiasa menghadapi pria itu.
Bahkan saat Lee membuka pintu kamar miliknya di sudut koridor, mereka masih diam, saling menatap bingung penuh isyarat yang tak bisa diucapkan.
“Duduk dulu, aku ambil salepnya,” ucap Lee pelan. Ia melepaskan tangan Vallen dan langsung membongkar tas di atas nakas, mencari sesuatu dengan cekatan.
“Kenapa Anda ada di sini?”
Pertanyaan yang sejak tadi mengganjal akhirnya lolos juga dari bibir Vallen. Ia menatap Lee sejenak, kemudian berpindah ke Jane yang sudah duduk nyaman sambil menikmati beberapa butir anggur. Padahal pertanyaan itu juga berlaku untuknya.
Namun, Jane masih menggunakan isyarat kedikan bahu dan menunjuk ke arah Lee dengan dagunya.
“Aku datang menghadiri undangan Tuan Deric Senan,” jawab Lee singkat tanpa menoleh.
Ia menemukan salepnya, lalu kembali mendekat dan mulai mengoleskannya ke kulit Vallen dengan gerakan lembut namun tegas.
“Anda juga dapat?” tanya Vallen. Sedikit penasaran, bagaimana bisa seorang pengusaha seperti keluarga Senan bisa mengundang dokter estetika yang berasal dari benua Asia.
Lekat Vallen menatap ke arah Lee, menunggu. Namun pria itu memilih membisu. Dengan tenang menutup salep, menaruhnya begitu saja ke atas meja. Seolah pertanyaan Vallen bukan hal penting.
Lalu ia berdiri dan melepas coat panjangnya, memperlihatkan kemeja putih yang terpasang rapi di tubuh proporsionalnya.
“Kita hampir terlambat.”
Tangan Lee sibuk mengambil jas dan dasi dari gantungan. Ia memakainya dengan cekatan — kecuali dasi hanya ia sampirkan di lehernya. Lalu, tanpa menunggu, ia melangkah mendekati Vallen.
“Bisa bantu aku pasangkan?”
Vallen terdiam sejenak, tanpa sadar matanya justru melirik ke arah Jane.
“Jangan menatapnya,” komentar Lee datar, seolah tahu persis arah pikiran Vallen. “Dia memang tidak bisa memasang dasi. Tangannya hanya terlatih memegang jarum bedah.”
Jane ikut mengangkat tangan seolah mengakui perkataan Lee. “Serius, aku tidak bisa. Kakakku saja selalu minta tolong mommy pasang dasi. Dokter jenius memang nol skill untuk urusan begini.”
Vallen mendesah pasrah. Waktu acara hampir tiba, dan tentu saja ia tak boleh terlambat. Jadi ia berdiri, mendekat, lalu meraih ujung dasi itu.
Saat jari-jarinya mulai membenahi simpul, jarak mereka hanya beberapa inci saja. Napas hangat Lee meluncur turun, menyapu lembut keningnya. Aroma halus mint dan antiseptik bercampur, membuat fokus Vallen sedikit goyah.
Simpul dasi selesai dalam beberapa detik, tapi Lee tetap tidak mundur. Vallen menelan ludah, jari-jarinya refleks mundur namun tubuhnya masih terperangkap dalam jarak yang ganjil.
Sampai ….
“Kehm.” Jane berdeham keras, sengaja — dan efektif.
“Sudah waktunya,” lanjutnya dengan nada yang dibuat se-casual mungkin, meski jelas-jelas ia menahan senyum geli sekaligus ingin menutup adegan itu secepat mungkin.
***
Namun tindakan agresif Lee tak berhenti sampai disitu.
Di ruang pesta, ia tetap menunjukkannya, tanpa banyak bicara, tanpa perlu menyentuh, namun kehadirannya menjadi pagar yang terus mengitari Vallen. Ia berjalan di sisi Vallen dengan jarak yang tepat, terlalu dekat untuk disebut profesional, terlalu menjaga untuk dianggap kebetulan.
Bahkan ketika menyapa tuan rumah sekalipun, langkahnya tak pernah benar-benar meninggalkan Vallen. Setengah langkah saja pun tidak.
Vallen mulai gelisah. Berkali-kali ia menarik ujung gaun Jane — yang hari ini menyamar sebagai asistennya — namun balasan Jane masih sama, hanya gelengan tak berdaya.
“Dokter Lee?” Seorang wanita paruh baya, anggun, menyapa dengan sopan.
“Saya sudah lama melepas gelar dokter, Nyonya. Anda bisa memanggil saya Lee Jaeha saja,” sela Lee ramah.
“Itu tidak keren, Dokter.” Sang wanita terkekeh lembut. “Biarkan saya tetap memanggil Anda seperti itu.”
Lee hanya tersenyum tipis, tidak menolak.
“Ngomong-ngomong, siapa ini?” Tatapan wanita itu beralih kepada Vallen.
Ia meneliti dari kepala hingga kaki, seperti sedang menilai sebuah karya yang sudah lama dibicarakan orang.
“Bukankah ini si cantik Vallen Losa? Ballerina yang akhir-akhir ini jadi perbincangan?” lanjutnya, matanya membulat spontan.
Vallen membalas dengan tersenyum ramah. “Anda berlebihan, Nyonya.”
“Tidak berlebihan, kenyataannya begitu.” Nadanya jenaka, tetapi matanya memperhatikan interaksi Vallen dan Lee dengan rasa ingin tahu yang mencolok.
“Tapi, Nona Losa … bagaimana Anda bisa datang bersama pria sedingin ini, hmm? Apa ada hubungan yang—”
“Ada.” Lee menyela begitu cepat sehingga Vallen bahkan belum sempat bernapas.
“Nona Losa adalah orang yang berharga bagi saya,” lanjutnya tenang, tatapannya tetap lurus ke depan.
“Dan kebetulan, kami bertemu di lobi. Saya tidak bisa membiarkan seorang wanita sehebat dia berjalan sendirian.”
Pernyataan yang mirip seperti alasan, sekaligus terdengar sebagai deklarasi.
Jane meringis pelan saat tangan Vallen meremas lengannya terlalu keras. Namun bibir Vallen tetap mengulas senyum manis, seakan semuanya baik-baik saja.
Di ujung ruangan, Damien melihat segalanya. Sejak tadi.
Mata itu memaku sosok Vallen tanpa berkedip, wajahnya mengeras, urat di lehernya menegang jelas di bawah kulit pucatnya. Napasnya tampak menahan sesuatu — marah, gelisah, atau keduanya sekaligus.
“Tuan Harper, Anda datang sendiri?” Seorang pria paruh baya menghampiri Damien, berbasa basi seperti biasa. “Di mana istri Anda?”
Damien mengulas senyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya — karena matanya masih terpaut pada Vallen, tak pernah berpaling meski sedetik.
“Istri saya …” Ia menjawab pelan, suaranya sedikit serak. “…dia tidak suka acara seperti ini. Dia lebih suka menghadiri lelang sosial.”
Kata-katanya mengalir mulus, tetapi bohongnya terlalu sempurna.
Pria paruh baya itu mengangguk pelan. Tapi ekspresinya tak bisa menyembunyikan ribuan tanya yang berseliweran dalam kepalanya.
“Apa … aku salah dengar? Seingatku, Bianca Noir sangat mengilai pesta seperti ini, justru … yang suka lelang sosial, malah mendiang mantan istrinya kan? Hera Rhodes?” batinnya.
Ia menelan ludah, memilih diam meski pikirannya tak berhenti berisik.
***
Mobil melaju menembus gelapnya malam, hanya ditemani dengung mesin dan lampu kota yang berlari mundur di kaca.
Di kursi belakang, Damien duduk menunduk, kedua siku bertumpu di lutut, kepalanya tertunduk di atas kepalan tangannya. Bayangan pesta, bayangan Vallen yang tersenyum, berputar seperti film rusak di kepalanya.
“Shin … Shin … Shin.” Panggilan itu bergema pelan, tapi menusuk. Penuh tekanan yang membuat bulu kuduk Shin merinding.
“Ya, Tuan?” Suaranya nyaris tercekat.
“Kau belum menemukan apapun tentang istriku?”
Shin menelan ludah. “Saya sungguh minta maaf, Tuan. Jejaknya terlalu rapi.”
Damien menarik napas panjang. Napas berat yang seakan mencabik dadanya sendiri. “Tak masalah jika dia akhirnya mati.”
Pandangannya tetap menunduk, tapi kepalan tangannya mengerat kuat hingga buku jarinya memutih. “Cukup katakan, Shin. Dimana mayatnya.”
“Saya bersumpah tidak mengkhianati Anda, Tuan,” ucap Shin cepat, hampir seperti memohon. “Saya sungguh membawanya naik malam itu. Nyonya masih bernapas saat itu.”
Damien mengangkat kepalanya, tatapannya menyala dingin. “Jadi, dia masih hidup? Atau sudah mati, hmm?”
Shin tersentak, ragu. “Nyonya …”
“Katakan saja, Shin.” Suara Damien merendah, berat, syarat akan bahaya. “Firasatku akhir-akhir ini kacau. Jangan sampai aku salah langkah … dan membunuhmu.”
Tangan Shin mencengkeram setir lebih kuat. “Nyonya masih hidup. Saya yakin, Tuan. Bukankah kita juga berhasil mendapatkan sampelnya juga?”
Ia mengatur napasnya, gugup. “Tapi setelah itu … jejaknya menghilang. Saya juga tidak bisa mendapat informasi perubahan wajah nyonya.”
Keheningan pekat mengisi mobil. Damien memejamkan mata sejenak — bukan untuk tenang, tapi karena perasaan yang mencengkram dadanya terasa seperti kutukan.
“Lalu…” suaranya berat, retak. “… perasaan ini apa?”
Shin tak berani menatap kaca spion. Ia hanya fokus pada jalan, padahal tangannya dingin dan berkeringat.
Beberapa detik kemudian, suara Damien terdengar lagi, “Antar aku ke tempat tinggalnya.”
Shin menoleh sedikit. “Maksud Tuan?”
“Ke apartemen Vallen Losa. Hanya ada satu jalan jika ingin memastikan. Yaitu merasakannya langsung!”
“Bukankah begitu, Shin?”
“Aku masih mengingat rasanya dengan baik.”