Mas Arman mengikuti langkah ibunya ke pintu gerbang, membantu wanita itu masuk ke dalam mobilnya, diikuti oleh aruni yang sesaat bicara padanya. Dua sejoli itu seperti membicarakan sesuatu yang serius lalu Mas Arman mengangguk sambil wanita itu mengelus bahu suamiku.
Nampaknya, sentuhan haram wanita yang bukan mahram suamiku itu, telah membuat dia lupa diri dan terpengaruh. Aruni memang cantik, tatapan dan senyumnya bisa melelehkan siapapun, tapi bagiku, semua ucapannya tak ubahnya mantra yang telah meracuni hati arman dan berubah drastis. Hubungannya yang dekat dengan suamiku telah jadi duri dalam Rumah tanggaku, jadi dilema besar yang membuat suamiku bingung untuk memilih. Harusnya kami bahagia dan suamiku fokus pada keluarganya sendiri, tapi kenyamanannya dekat dengan aruni, telah menciptakan konflik denganku.
Aku yakin suamiku jatuh cinta pada wanita itu. Sekuat apapun cara mereka menutupi, dari interaksi, pandangan, cara bicara dan bagaimana Arman selalu bergerak cepat saat dihubungi, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa mereka saling menyukai.
*
Pintu gerbang ditutup, lampu depan diredupkan kemudian pintu utama dikunci oleh suamiku. Melihatku yang masih duduk di meja makan, lelaki itu hanya menghela napas sambil menggelengkan kepala. Sepertinya lelaki itu sudah malas bicara padaku, tapi aku masih ingin menyelesaikan sebuah ini sampai tuntas.
Sejujurnya membahas hal yang sama setiap waktu, sungguh membosankan, mengurus emosi dan mental. Belum dibahas pun, hati sudah lelah, tapi kalau tidak dibahas maka jawaban tidak akan bisa ditemukan.
"Istirahatlah, kita bicara besok."
"Baik, namun aku benar-benar ingin tahu jawabanmu. Kau masih ingin tetap bersamaku atau kita berpisah saja demi iparmu."
"Cukup dulu membahas aruni, aku lelah," jawabnya sambil berlalu.
Bosan diri ini dengan sensasi sesak hati, tenggorokan sakit karena menahan kemarahan dan ucapan yang bergejolak ingin terungkap sesegera mungkin. Aku telah mengatakan keberatanku tentang hubungannya dengan Aruni, jadi, jika suamiku masih waras, maka seharusnya ia hentikan kedekatannya dengan wanita itu.
Toh, aku tidak membatasi pemberiannya.
*
Tengah malam.
Mungkin aku akan mencapai indahnya mimpiku andai ponsel suamiku tidak berdering di dekat telinga. Kupikir aku sedang dalam buaian tidur, tapi ternyata ponsel itu berdering berulang kali dengan intens.
Suamiku yang tertidur pulas, tidak menyadari ponselnya berbunyi, jadi, demi meredam kebisingan itu aku segera memeriksa Siapa yang menelpon.
Ternyata si jalang itu. Ya, siapa lagi yang akan menghubungi suami orang tengah malam begini kalau bukan dia. Tapi entah apa keperluan dan keinginannya.
"Ada apa?" jawabku tanpa basa basi lagi.
"Mana Arman!"
Beraninya dia bertanya tentang suamiku, setelah tanpa sadar kehadirannya telah menciptakan kerenggangan hubungan suami dan istrinya. Dasar gila.
"Apa kau sadar ini jam berapa, mba?"
"Gilang panas badannya, aku mencoba menghubungi saudara tapi tidak ada siapapun yang menjawab panggilanku."
"Bukankah ada taksi yang selalu tersedia 24 jam?!"
"Kau benar tapi..."
"Suamiku butuh istirahat, jadi maaf, biarkan dia tidur. Bawa anakmu ke UGD dan Jika dia harus dirawat, besok kami akan menjenguknya!" Balasku tegas.
"Kau... teganya kau mengatakan hal itu."
"Daripada berdebat denganku dan buang waktu, lebih baik segera bawa Gilang ke rumah sakit. Bukankah, kay rela menghubungi suamiku karena kau takut dan panik? Jadi, karena Suamiku sedang tidur, maka, atasilah olehmu masalahmu sendiri." Aku langsung mematikan ponsel suamiku, mematikan dalam arti yang sebenarnya, bahwa tidak akan ada lagi panggilan-panggilan yang masuk ke sana.
Ini mungkin terdengar kejam, tapi jika aku tidak mengambil sikap tegas maka dia akan terus merongrong kami. Jangankan waktu luang, bahkan waktu istirahat suamiku, dia seperti hantu yang selalu mengikuti. Dia seperti ratu yang bisa menelpon dan memerintah kapan saja. Dia menyetir suamiku seperti kehendaknya dan itu tidak boleh terus berlanjut.
Entah apa yang akan terjadi padanya malam ini, aku ingin dia mengurus dirinya sendiri. Aku ingin dia sadar bahwa tidak semua orang tersedia untuk dirinya, bahwa tidak semua orang akan selalu jadi babu yang bisa diperintah.
**
Esok pagi.
Aku sedang sibuk menyapu dan mengepel lantai saat melihat suamiku baru saja mau berangkat kerja dan menghidupkan ponselnya. Dia duduk di meja makan sambil meraih cangkir kopi lalu mengesap isinya. Di sela kesibukanku aku mendengarnya menggumam tentang ponselnya.
"Perasaan semalam aku nggak matiin ponsel deh," gumamnya.
Dan aku yakin ada banyak pesan-pesan aruni setelah aku mematikan ponsel suamiku semalam.
Tak lama setelah ponsel itu menyala bunyi pesan w******p berdenting tanpa henti, kulirik lelaki itu dan ia terlihat serius dengan layar ponselnya. Selalu tak lama ia nampak terkejut, roman wajahnya berubah, mulutnya terbuka dan dia jadi panik.
"Apa semalam aruni nelpon, Han?"
"Iya."
"Dia bilang apa?"
"Mungkin seperti yang dia ceritakan lewat pesan yang kau baca sekarang Mas!"
"Tapi kenapa kau tidak memberi tahuku?" tanyanya dengan nada sedikit marah.
Aku hanya melihatnya sambil menggelengkan kepalaku, sementara ia menunggu jawaban yang jelas.
"Wanita itu menelpon jam dua malam, di saat semua orang sedang istirahat. Aku tidak mengizinkanmu pergi, agar wanita itu bisa mengurus dirinya sendiri dan kau bisa istirahat dengan baik."
"Tapi ini masalah urgent?"
"Dia bisa pesan taksi dan buktinya dia bisa ngurus dirinya sendiri!"
"Gilang harus dirawat, ia terkena demam berdarah dan karena kau tidak memberitahuku, situasinya jadi sulit!" Lelaki itu berdiri sambil memarahiku, tatapan matanya nyalang,berkilat dan geram sekali padaku. "Tolong bedakan mana situasi darurat dan mana yang hanya kau batasi karena ego dan kebencianmu!"
Aku membeku melihatnya marah, aku terdiam dan hanya bisa tersenyum kecut melihat kemurkaan suamiku.
"Jadi aku harus bagaimana?" tanyaku pelan, "semua yang kulakukan serba salah."
"Tentu saja salah, kau sudah tahu kalau Gilang tidak punya ayah, jadi satu-satunya yang bisa diandalkan sebagai ayah penggantinya hanya aku. Kakakku yang lain tidak bisa dimintai pertolongan karena mereka tidak terlalu peduli pada keluarga! hanya aku yang telah mengambil alih tanggung jawab keponakanku. Teganya kau!" Bentaknya kencang, saking kencangnya teriakan itu anak-anak sampai terkejut dan keluar dari kamar mereka.
Putriku menatap diri ini dengan raut penasaran sementara aku hanya menggelengkan kepala dan meminta dia untuk kembali ke kamarnya.
"Aku bersimpati atas sakitnya keponakanmu Tapi aku tidak tahu kalau dia sakit serius. Kupikir hanya kemanjaan ibunya yang selama ini selalu minta diantar meski itu hanya perkara hal yang sepele."
"Meski sepele bagimu, belum tentu sepele bagi orang lain. Andai aruni tidak menemukan taksi untuk membawa anaknya, belum tentu Gilang bisa diselamatkan! Kau lihat ini!" Mas Arman memperlihatkan kondisi keponakannya yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dan ditancapi selang infus. Anak itu terlihat pucat dan lemah sekali.
"Aku minta maaf Mas!"
"Kamu udah keterlaluan, Hanifah. Kamu tidak bisa membedakan mana yang darurat dan mana yang tidak perlu dipikirkan! Kamu ceroboh dan jahat!" Ucap suamiku sambil melangkah pergi, dia lewat dengan kasar dan menabrak bahuku, meski aku memanggil dan berusaha minta maaf tapi dia sudah tidak peduli, lelaki itu naik ke mobilnya dan langsung tancap pegas pergi sementara aku hanya bisa memandang kepergiannya dengan lutut yang lemas.
Sekali lagi, aku terkalahkan oleh keadaan ini dan betapa pentingnya aruni di mata suamiku. Ah, aku harus bagaimana ini.