"Mimpi indah, Yang." Tidak peduli Marco bisa menerima salamnya atau tidak, Mika tetap mengucapkannya penuh kasih sayang. Malam ini mereka tidur di kamar yang sama, Mika di atas tempat tidur sementara Marco di atas kasur lipat tipis di lantai. Mika tidur menyamping, menghadap Marco yang sedari tadi memandangi foto USG Mika. Marco sempat menggerutu, menyesalkan kepergian Mika ke rumah sakit tanpa mengajaknya. Padahal ini pengalaman permata mereka menjadi calon orang tua, sudah seharusnya mereka melakukan semuanya bersama-sama. Marco tidak ingin melewatkan momen tumbuh kembang anaknya barang sedikit pun sejak masih dalam kandungan. Diam-diam Mika terus perhatikan wajah Marco dapat dikatakan datar selama memandangi foto itu. Dia tidak tampak seantusias yang Mika pikirkan padahal sebelumny

