Apakah aku benar-benar menyukai wanita itu sebagai lawan jenis atau hanya sebatas kagum pada kepribadiannya? Atau memang rasa sukaku sudah habis?
—Dominic Molchior
_______________________________________
Musim gugur
Phoenix, 29 Oktober
20.03 p.m.
Prosesi pernikahan Thomas dan Benita berjalan lancar. Hingga resepsi detik ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Begitu pula denganku. Sungguh mengejutkan, ketika diriku sendiri bisa berdiri tegak sebagai groomsman bersama beberapa teman dekat kami meski tidak menampilkan senyum sedikit pun.
Sebagai sahabat yang baik, aku juga bisa mengatasi penyiksaan mereka kala meminta pendapatku untuk memilih wedding vendor. Mulai dari merekomendasikan D’Lule langganan ibuku sebagai dekorasi—walau masih berupa lini baru di negara ini, tetapi bunga-bunga dari toko itu terlihat segar dan sesuai selera Benita—lalu kudapan, pengiring musik pernikahan dan resepsi yang kusarankan memilih pianis muda berbakat dari Indonesia bernama Galaxy Andromeda, pembuat kartu undangan, juru foto untuk pre wedding, dan lain-lain.
Tamu-tamu yang diundang pun tidak sembarang orang. Selain seluruh teman kantor, mereka juga mengundang orang tua serta adikku. Namun, adikku tidak hadir karena masih berada di negara lain. Sedangkan orang tuaku, selepas mengucapkan selamat dan bercakap-cakap dengan beberapa rekan, mereka kemudian pulang.
Ada juga beberapa orang hebat seperti Jayden Wilder yang datang bersama istrinya. Dia adalah anggota Yardies (mafia Inggris) yang pensiun, lalu memutuskan untuk melepas perusahaan ayahnya yang sempat dia ambil alih dan banting stir menjadi pengusaha Casino serta kelab malam. Tempat itu juga yang menjadi langgananku, Benita, dan Thomas untuk sekadar hang out seperti beberapa waktu lalu.
Perusahaan ayah Jayden yang saat itu sedang bekerja sama dengan perusahaan Utama Raya di bawah pimpinan Erlang Eclipster pernah tersandung kasus bea cukai karena ulah mafia lain. Terpaksa, keduanya pun harus terlibat dengan polisi dan bolak-balik melakukan sidang banding ke pengadilan. Katanya, itu jugalah yang membuat ke mana pun Jayden pergi selalu bersama sang istri, serta tangan-tangan kanannya yang bernama Tito, Liam, dan wanita bernama Dahlia. Dahulu, ada satu orang lagi bernama Alfred, tetapi dia sudah meninggal kala mengurus kasus itu. Bukan hal tabu, jika pertarungan antar mafia memang mengerikan dan sering memakan korban.
Meski menakutkan karena berteman dengan orang seperti mereka, orang-orang justru memercayainya untuk membantu masalah pembebasan lahan dengan cara legal. Sekitar beberapa bulan lalu, aku juga meminta bantuannya mengurus masalah pembebasan lahan untuk kantor liniku di Texas. Hasilnya, sama sekali tidak mengecewakanku.
Selain mereka, ada arsitek langganan Cozivart Company yang juga menangani kantor lini Texas bernama Gideon Ford—sudah otomatis menjadi temanku dan Benita—datang bersama model yang sedang naik daun. Kemudian Lee Devoughn―pemilik Heaven Flied, juga datang bersama istrinya yang sedang hamil.
Well, kupikir alunan indah musik klasik hasil dentingan pianis Galaxy Andromeda yang memenuhi setiap penjuru ruangan ini berhasil membuat banyak orang tersihir, sehingga mereka menggunakan kesempatan itu untuk berdansa. Meski begitu, rupanya ada sesuatu yang tidak mereka diskusikan denganku. Mungkin karena berpotensi melahirkan kerutan-kerutan pada keningku. Tentu saja. Apalagi kalau bukan penampilan grup band underground pada puncak acara.
Aku mendesis sambil memijat pelipis. “Sulit dipercaya. Thommy menyewa grup band underground dan Jayden Wilder ikut bernyanyi bersama mereka? Beruntung para tamu tidak kabur,” gumamku yang tertelan alunan musik ruangan ini.
“Kau tidak tahu, kalau grup band ini sedang digandrungi anak muda di seluruh Amerika?” Tiba-tiba temanku yang duduk di kursi khusus undangan VIP tepat di sampingku menyahut.
Rupanya, gumamanku terdengar olehnya. Kedua alisku semakin mengerut, mataku pun menyipit. “Apakah aku terlihat seperti remaja yang menggandrungi hal seperti itu?” tanyaku tersinggung.
Temanku tertawa lebar. “Jelas tidak. Dengar, Bung. Apa kau lihat gitaris wanita itu?”
Kedua iris biru terangku mengikuti pandangan temanku ke arah panggung mini yang bersebelahan dengan pelaminan. “Yang berambut merah?” tanyaku retoris sekaligus untuk meyakinkan. Walau seluruh orang yang berada di ballroom ini juga tahu, bahwa dialah satu-satunya gitaris wanita di grup band yang tampil itu.
“Iya, benar. Kudengar dia adiknya Lee Devoughn. Nama panggungnya Cassy, tetapi nama aslinya Lea Devoughn. Sssttt … ini rahasia.”
Aku mencebik bosan. “Aku tidak tahu kalau pria juga suka bergosip.”
Bertepatan dengan mulutku yang terkatup, pramusaji pembawa senampan minuman kebetulan melewati kami. Aku memberhentikan pria dengan balutan kemeja putih serta vest hitam bergaris putih vertikal itu untuk mengambil segelas minuman. Temanku juga mengikutinya.
“Mau ke mana Dom?” tanya temanku saat aku berdiri.
“Mencari ketenangan.” Sebelum mendengar protes atau lebih banyak gosip-gosip yang keluar dari mulutnya, aku menepuk pundak pria itu dan melesat dari sana.
Pandangan yang seirama dengan kedua kaki, kubawa menyisir tempat ini. Beberapa kawan groomsman terlihat berhamburan bersama pasangan mereka masing-masing. Ada yang bernyanyi sambil berjoget mengikuti alunan musik underground, ada juga yang menikmati hidangan di kursi bermeja bundar sambil mengobrol.
Langkah dan pandanganku menerobos lebih jauh. Napas lega terembus begitu melihat balkon kecil yang diapit dua pilar besar, sehingga kupikir tempat itu cocok untuk mencari ketenangan. Jadi, kuputuskan untuk ke sana.
Musim dingin hampir tiba. Seharusnya udara yang menusuk kulit dan membuat tulang ngilu sudah mulai melanda diriku sejak berdiri di sini. Nyatanya, aku tak peduli. Ditemani sayup-sayup suara musik hasil permainan grup band underground itu, sesekali aku menyesap minuman sembari memperhatikan kegelapan yang menggantung di langit, juga balkon yang menyuguhkan pemandangan kolam renang di bawahnya. Ada lampu-lampu di dasar kolam itu yang menyorot ke atas sehingga menghasilkan sajian air yang terlihat biru jernih.
Beberapa saat kemudian, sedikit ketenangan yang baru kurasakan mendadak sirna oleh kehadiran seorang wanita. Mungkin karena pilar besar ini, dia jadi tidak tahu kalau aku juga berada di sana. Ketika aku ingin pergi dari sana, kesempatan itu lenyap dalam sekejap dan aku sudah terjebak oleh percakapan telepon wanita itu yang seharusnya tidak kudengar.
“Halo, maaf, saya tidak bisa mendengar suara Anda tadi. Sekarang saya sudah mencari tempat yang sepi. Maaf, jadi apa yang Anda katakan tadi?” Terdengar jeda sesaat sebelum wanita itu kembali bersuara. “Tunggu sebentar, Mrs. Brighman. Bagaimana bisa? Saya sudah membayar deposito untuk apartemen itu. Seharusnya tidak ada masalah. Putri Anda sendiri yang menerima uang tunainya dua hari lalu. Kenapa sekarang malah jadi seperti ini?”
Oh, aku sungguh tidak tertarik pada kehidupan orang lain. Karena itulah, seharusnya otakku mencari cara menghilang dari sana untuk menemukan ketenangan di tempat lain. Namun, rupanya tubuhku tidak bisa diajak kompromi untuk melakukannya. Seolah disetel harus mendengar percakapan itu sampai tuntas.
Kepalaku yang semula menghadap depan, dalam beberapa detik kemudian kutelengkan ke samping kanan. Melihat satu tangan wanita itu bergerak-gerak di udara, mengikuti ucapannya. Sedangkan tubuhnya, sama sekali tidak kelihatan sebab tertutup pilar besar.
“Tidak bisa seperti itu, Mrs. Brighman,” ucapnya lagi yang terdengar putus asa. “Bagaimana Anda bisa melakukan ini pada saya? Semuanya sudah jelas jadi—halo? Mrs. Brighman? Halo? Ah, sial!”
Wanita itu mengumpat pelan di akhir kalimat, lalu suara sepatu yang beradu dengan lantai mulai menyusupi pendengaranku. “Is everything all right, Honey?” Tiba-tiba seorang pria bertanya demikian. Kuasumsikan sebagai kekasih wanita itu.
Biar kutebak. Pasti wanita itu akan menangis dalam pelukan kekasihnya, lalu pria itu akan memanfaatkan kerapuhannya supaya bisa menidurinya. What a bastard think.
“Ya. Semuanya baik-baik saja. Mrs. Brighman hanya menanyakan kenyamananku tinggal di apartemen itu. Ya … hanya hal-hal semacam itu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Gelombang kejut menyerbu tubuhku tanpa permisi. Apa wanita ini baru saja menyangkal bahwa dia memiliki masalah dengan apartemennya pada sang kekasih?
Hah, syukurlah kalau ternyata dia cukup pintar untuk mengelak.
Tunggu sebentar! Apa pula? Kenapa aku mengurusi hal itu?
“Kau yakin?” Aku mendengar pria tadi bertanya lagi.
“Ya. Seratus persen yakin. Ngomong-ngomong, bisakah kita ke meja perjamuan dulu sebelum pulang? Aku ingin mencicipi beberapa makanan lagi.”
“Tentu saja. Ayo, kita ke sana.”
Bunyi sepatu hak tinggi dan pantofel mengetuk lantai yang bersahut-sahutan perlahan menghilang. Kupikir, mereka sudah pergi. Jadi, aku menggerakkan kedua kakiku menuruni anak tangga menuju belakang gedung. Tepat seperti dugaanku. Di sini sepi. Cocok untuk mencari ketenangan lebih. Suara musik tidak lagi terdengar sekeras di balkon dan jelas, tidak ada yang sedang menelepon.
Kudaratkan diri di salah satu bangku besi taman yang terasa dingin. Gelas dalam genggamanku kuletakkan di sebelahku duduk. Aku melonggarkan dasi kupu-kupu dan menyandarkan diri di punggung bangku, menikmati penghujung musim gugur yang menenangkan. Kuanggap, daun-daun yang berserakan di bawah kaki dan tertiup angin menjadi musik bagi diriku sendiri.
Setidaknya, itu lebih baik dari suasana berisik di ballroom. Oh, ya, setelah kupikir-pikir, rasanya tidak sesakit yang kubayangkan melihat Benita menikah dengan Thomas. Aku bicara jujur. Tidak mengada-ngada. Bukan karena egoku menolak setiap kata yang diutarakan hati serta lidahku, tetapi memang benar adanya. Sehingga aku semakin berpikir, apakah aku benar-benar menyukai Benita sebagai lawan jenis atau hanya sebatas kagum pada kepribadiannya? Atau memang rasa sukaku sudah habis?
Ya. Mungkin aku sudah tidak lagi memiliki perasaan padanya. Aku tidak akan memedulikan itu lagi. Yang terpenting, Benita sudah bahagia bersama orang yang tepat. Sekarang, aku fokus saja pada pekerjaan. Peresmian kantor lini di Texas dan juga welcome party pegawai baru berlangsung di hari yang sama dalam waktu dekat ini. Ya, dua hal itu yang paling penting untuk dipikirkan.
Kedua kelopak mataku lantas terpejam, dengan wajah menengadah. Angin dingin menerpa wajahku dan itu membuatku tenang.
***
Musim dingin
Texas, 3 November
16.00 p.m.
Acara peresmian itu berjalan lancar. Jajaran direksi lama yang kupindah tugaskan semuanya hadir, juga beberapa pegawai baru yang telah mengikuti seleksi lowongan kerja. Malam harinya, diadakan pesta kecil-kecilan. Sedangkan aku, lebih memilih untuk terbang kembali ke Phoenix, khawatir akan terlambat datang di acara welcome party pegawai baru kantor pusat. Aku juga tidak ingin absen untuk meneliti wajah-wajah serta tingkah laku para pegawai baru. Semacam menjadi hiburan tersendiri bagiku.
Aku menyandarkan kepala sambil memejamkan mata. Kursi tunggal berlengan jet pribadi yang kutumpangi bagian punggungnya kurobohkan sedikit. Bermaksud santai sejenak. Belakangan ini, rasanya aku terlalu bekerja keras untuk menaikkan profit perusahaan. Atau ... entahlah. Hanya menyibukkan diri mungkin.
Mulanya, aku sempat berpikir Thomas akan marah ketika Benita harus mengurusi segala keperluanku ke Texas, tetapi dia ternyata sudah berencana menyusul ke sana, menjemput istrinya yang akan absen di acara welcome party. Suatu kebetulan itu kugunakan untuk memberikan tiket bulan madu ke Venesia yang terjadwal akhir tahun, bertepatan dengan keluarnya Benita dari kantor sebagai hadiah pernikahannya dan Thomas.
“Apakah semuanya baik-baik saja, Tuan Muda?”
Suara butler estate-ku menembus pendengaran di sela-sela suara halus mesin pesawat. Kedua kelopak mataku terpaksa membuka untuk melihatnya. Beruntungnya, aku tadi sempat memanggil pria tua seumuran ayah yang masih sehat dan segar bugar itu ke Texas. Tentunya untuk menggantikan Benita mengurusku.
Kadang aku kasihan padanya. Oleh sebab itu, aku semakin tidak sabar mengganti Benita dengan pegawai baru supaya butler estate-ku tak perlu ikut jauh-jauh terbang ke sana-kemari untuk menggantikannya.
“Ya … hanya … sedikit lelah,” jawabku santai.
“Apa Tuan Muda berencana membatalkan kehadiran di acara welcome party?”
“Oh, tidak. Aku akan tetap hadir.” Aku lantas melihat jam tangan yang menunjukkan pukul enam lewat setengah jam. Artinya, sebentar lagi aku akan tiba di Phoenix dan langsung ke acara itu. “Tolong siapkan suit-ku.”
“Baik, Tuan Muda,” jawab pria yang selalu membingkai wajahnya dengan senyuman.
Tidak lama setelahnya, jet pribadi yang kutumpangi tiba di bandara Sky Phoenix. Kegelapan langit menyambut, serta mengiringi perjalananku menuju hotel tempat diselenggarakannya welcome party. Kurang lebih lima belas menit berikutnya, petugas valet membukakan pintu mobil yang kunaiki dan mempersilakanku masuk.
Acara ini merupakan pesta semi formal. Orang-orang tidak membutuhkan kode pakaian khusus saat menghadirinya. Namun, begitu aku tiba di ballroom, pemandangan para wanita mengenakan gaun malam dan pria ber-suit memenuhi indra pengelihatanku.
Beberapa jajaran direksi yang melihatku kontan menyapa secara diam-diam. Memang sudah kupesan begitu. Semua pegawai baru tidak boleh ada yang mengenaliku di pesta ini. Tujuannya jelas, aku tidak ingin merusak suasana sehingga menjadi canggung.
Berbincang-bincang sedikit mengenai perjalananku dari Texas kemari, para direksi juga sedikit-banyak membahas tentang bisnis. Selayaknya basa yang sudah basi sampai akhirnya menciptakan kebosanan dan rasa lelah yang semakin menerjangku.
Pandanganku menjelajah untuk mencari pramusaji pembawa minuman, tetapi tidak ketemu. Jadi, kuputuskan untuk bergeser ke bagian meja kudapan yang terhalang pita-pita hiasan dempet sehingga siluet bisa menyembunyikan wajahku dengan baik, supaya tidak dikenali orang lama maupun orang baru tentunya. Berikutnya, kukeluarkan ponsel untuk menelepon butler dan memintanya memesankan kamar sebab tempat tinggalku lumayan jauh. Kurasa, menginap semalam untuk melepas lelah sebelum pekerjaan Senin menyambut adalah ide yang bagus.
Lima menit kemudian, butler memberi kabar. “Maaf Tuan Muda, president suit sudah penuh malam ini. Hanya tersisa satu kamar—”
“Tidak masalah. Pesankan saja,” potongku cepat. Lelah berdebat.
“Baik, Tuan Muda. Kamar Anda nomor 3031. Sebentar lagi akan ada yang memberikan kunci kartunya pada Anda.”