Bab 1 Keinginanku untuk Bercerai

1180 Kata
POV Stella Rosenberg: Sudah tiga tahun aku menikah, dan suamiku Osborne Farley belum pernah menyentuhku. Sejak aku berusia15 tahun dan diselamatkan dari panti asuhan oleh kakek Osborne, James Farley, aku tinggal bersama keluarga Farley. Tak terasa, hal itu telah delapan tahun berlalu. Saat itu, aku kehilangan ingatan dan merantau dari tempat ke tempat. Pengalamanku di panti asuhan sangatlah traumatis sampai akhirnya keluarga Farley mengasuhku. Itulah saat pertama kali aku bertemu dengannya yang berusia enam tahun lebih tua dariku. Aku tak pernah melihat seorang lelaki setampan dia. Rambutnya pirang sedikit keriting, hidungnya mancung, bibirnya tebal dan selalu ia hiasi dengan senyuman. Matanya berwarna hijau danau hangat sangatlah menawan bak hari pada musim semi. Ia sangat baik padaku, lembut dan sopan. Pada usia muda saat aku mulai belajar mencintai, aku jatuh hati padanya. Namun, ia menikahiku karena sebuah kejadian tiga tahun lalu di sebuah pesta. Secara tak sengaja, ia tidur denganku dan tiba-tiba sekelompok wartawan muncul dan mengambil foto dari kejadian itu. Aku takkan pernah melupakan ekspresi yang Osborne keluaran saat ia melihatku: terkejut, curiga, dan... dipenuhi rasa jijik yang mendalam. Saat itu, perusahaannya baru saja akan go public. Di depan para wartawan, ia mengatakan bahwa akulah tunangannya. Sebulan kemudian, kami melakukan pernikahan dengan mewah. Seluruh dunia mendoakan kebahagiaan kita, tapi sejujurnya, aku jauh dari kata bahagia. Osborne sebenarnya tak menginginkanku. Ia dicecoki obat perangsang dan aku pun salah karena telah memberikan kunci kamar yang mengarahkannya ke kamarku. Semua bukti menunjuk padaku dan sejak saat itu, Osborne melihatku sebagai seorang wanita licik dan ia menghindariku seperti wabah penyakit. Di malam pernikahan kami, aku jatuh dan kepalaku terbentur, tiba-tiba, ingatanku yang telah hilang, kembali muncul terngiang-ngiang di kepalaku. Aku bukanlah anak yatim piatu. Aku adalah pewaris termuda dari keluarga terkaya di negara ini, keluarga Rosenberg! Namun saat itu, aku telah jatuh cinta pada Osborne. Jadi, aku membuat kesepakatan dengan ayahku: jika dalam tiga tahun Osborne jatuh cinta padaku, aku akan meninggalkan keluarga dan menjadi istri Osborne. Selama tiga tahun ini, aku menahan semua omongan dunia luar—pandangan sinis, hal -hal yang merendahkan, kecemburuan, dan keingintahuan. Aku menerima semuanya tanpa kejelasan, berperan diam-diam sebagai seorang istri yang baik, sambil berharap hal ini akan membuatku tetap berada di sisinya dan mempertahankan kehangatan yang telah kudapatkan saat masa-masa kesepianku, masa paling suram dalam hidupku. Tetapi kenyataan menyadarkanku bahwa diam-diam bersabar tak akan menjadikan orang-orang sekitarku menghargaiku. Aku berusaha menghitung sudah berapa malam aku menatap vila kosong itu dengan kebingungan. Sudah tiga tahun, dan aku bisa menghitung dengan jari tangan berapa kali dia pulang. Setiap kali, ia dengan cepat menyelesaikan makan malamnya dan pergi, seolah hal ini sudah jadi rutinitasnya. Aku berusaha akan selalu menjadi orang pertama dalam kehidupannya, tapi ia bahkan tak pernah memperhatikan apakah aku sudah makan atau belum. Mungkin setiap kali ia pulang, yang ia inginkan untuk ia lihat bukanlah aku. Malam itu, seperti biasa, aku tidur sendirian di tempat tidur kami, tapi aku tak bisa tidur. Tiba-tiba, aku mendengar pintu terbuka dan seseorang berjalan sempoyongan masuk ke dalam kamar. Beberapa saat kemudian, sebuah tubuh panas dan berat mendorongku. Bau wangi parfumnya yang tak asing bercampur dengan bau alkohol yang kuat mengingatkanku pada malam tiga tahun lalu. Dengan ragu, aku bertanya, "Osborne?" Nafas berat terengah engah memekakkan telingak dan suara lembutnya membuat hatiku terkejut dan melonjak kegirangan. Bisakah ia akhirnya mau menerimaku? Mengapa? Apakah ia telah tahu siapa yang sesungguhnya memberinya obat tiga tahun yang lalu dan menyadari bahwa aku tak bersalah? Tangan hangatnya meraba tubuhku dan gairah yang telah lama terlupakan membara di dalam diriku. Di bawah remang-remang cahaya bulan, aku bisa melihat siluet wajah tampannya dan tubuh kekarnya. Dia dengan kasar melepaskan gaun tipisku dan salah satu tangannya bergerak meraba bawah tubuhku hingga mencapai bagian indah tubuhku. Nafas hangatnya menyentuh dadaku, dan bibir yang selama ini kubayangkan pelan-pelan menghisap putingku dengan lembut, membuat tubuhkuku bergetar. "Osborne, aku... mmm!" Sebuah jari kasar masuk ke dalam tubuh indahku, memisahkan lipatan-lipatan kecilku dan menekan dengan tekanan yang berbeda, membuat bagian perut bawahku terasa nyeri tetapi memuaskan, mengirimkan gelombang kebahagiaan langsung ke tulang belakangku. Kemudian, cairan kegairahan mengalir keluar, membasahi jari-jarinya yang panjang dan elegan. Osborne tertawa dengan lembut, menarik keluar jari nya. Aku merasa kekosongan melanda dan saat itu, sesuatu yang lebih tebal dan lebih panas menggantikannya, menggoda pintu masuk tubuhku. Kepala yang besar menembus bagian tubuh indahku, membuka tembok-tembok yang lembut, dan semakin tenggelam hingga mencapai bagian inti tubuhku. Gelombang kenikmatan menyapuku saat suara desahan tubuh kami mengisi kamar itu. Aku tak bisa menahan diri untuk menggerakkan tubuhku untuk memuaskan hasratnya sebagai pengisi kegugupan antara kami. "Osborne... oh... Aku... Aku sangat menyukainya..." "Nina..." Suaranya yang serak memekakkan telingaku seperti guntur dan aku merasakan seluruh tubuhku menegang, tangan dan kaki membeku dalam sekejap. Nina? Nina Merchant? Nina adalah cinta pertama Osborne. Dia pergi ke luar negeri segera setelah kita menikah dan berada di luar negeri selama bertahun-tahun ini. Tapi dia kembali kemarin. Dan dia mengirimkan beberapa pesan singkat yang mengolok-olokku. Nina: Stella, gue udah balik. Nggak ada tempat buat lo di Farley! Nina: Osborne sama gue gede bareng ya. Lo pasti mikir kalo sksd ke dia bertahun-tahun bisa bikin dia takluk sama lo, lo nggak akan pernah bisa gantiin gue di hatinya. Balik deh ke panti asuhan. Itu kan tempat lo! Nina: Lo anggak tau segede apa cinta dia ke gue, kan? bahkan kalo dia tidur bareng lo di ranjang kalian berdua, dia bakal nyebut nama gue. Lo cuma pengganti gue ya, Stella! Gimana perasaan lo? Sampai sekarang, aku telah menipu diriku sendiri, percaya bahwa aku adalah istri sah bagi Osborne, bukan pengganti seseorang! Tetapi dihadapkan pada kenyataan ini, aku benar-benar kalah! Air mata tak terbendung mengalir saat hatiku mati rasa karena rasa sakit. Aku mendorong Osborne menjauh dari tubuhku dan aku lari ke ruang tamu, tempatku menghabiskan malam itu. ***** Keesokan paginya, cahaya matahari yang terang membuka mataku. Ketika aku membuka mata, Osborne sudah berpakaian, duduk di sofa di depanku, terlihat tak seperti orang semalam. Begitu melihat aku bangun, wajahnya penuh kemarahan. "Selama tiga tahun terakhir ini, aku pikir kamu sudah berubah. Tapi kamu masih sama kejamnya!" Aku bingung ketika dia melanjutkan, "Kamu pikir memberiku obat lagi akan membuatku tinggal denganmu?" Memberikannya obat? Aku tiak tahu dia bicara apa. Gelombang kesedihan melanda diriku. Osborne sama sekali tidak mempercayai diriku. Inilah lelaki yang sangat aku cintai. Selama bertahun-tahun, aku telah berhati-hati, mencoba menyenangkan hatinya. Aku bahkan berhenti bekerja untuk menjadi istri yang baik bagi Osborne. Ibu Osborne, Heather Farley, dan saudara perempuannya, Emma Farley, sering mencemooh dan mem-bullyku karena mereka tidak tahu latar belakangku. Aku menahan semuany karena aku tak ingin menambah masalah untuk Osborne. Bukankah aku sudah cukup rendah hati untuk mendapatkan cintanya? Aku tertawa getir. "Kamu punya bukti aku nyekokin kamu obat?" Osborne mengerutkan kening, nada suaranya tegas. "Siapa lagi kalau bukan kamu? Kamu punya riwayat memberiku obat!" Aku merasa sangat kecewa. "Oh begini kamu memandangku?" Osborne tak menjawab, tapi raut jijik di wajahnya sudah menjawab semuanya. Sangat lucu, semua usahaku selama tiga tahun terakhir ini tidak berarti apa-apa! Jika ini cara dia melihatku, tidak ada gunanya mempertahankan pernikahan kita lagi. Aku meluruskan punggungku, mencoba mendapatkan keberanian yang diperlukan. "Aku ingin bercerai."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN