Sebelum Stella tersadar, teman baiknya dari panti asuhan sedang sakit parah. Ia telah memohon mohon untuk uang kepada Heather.
Heather dengan sombong mengeluarkan kartu bank, tapi bukannya memberikannya, ia memamerkannya. "Tebak berapa banyak uang di sini? Satu juta dolar. Kamu belum pernah lihat uang sebanyak itu dalam hidupmu kan? Tapi kalaupun aku pakai untuk beli makanan anjing, aku nggak akan sudi meminjamkan uang ini kepadamu! Karena teman miskinmu itu lebih tak berharga dibandingkan anjing peliharaanku."
Stella menggenggam tinjunya, mata sinisnya terlihat.
Jika diberi kesempatan, ia ingin memberikan pelajaran untuk Heather dan Emma! Untuk melampiaskan kemarahannya!
Saat ia sedang berpikir mengenai hal ini, seseorang tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dari belakang.
Stella berbalik dan melihat Heather.
Heather angkuh, ekspresinya penuh dengan keremehan dan ketidakpuasan. Di belakangnya ada beberapa wanita kaya, membawa tas belanja, terlihat seolah-olah mereka baru saja selesai berbelanja.
Stella dengan tenang menyelipkan kartunya ke dalam tasnya, suaranya dingin. "Apa?"
Heather terkejut, tak menyangka sikap Stella yang begitu dingin karena Stella dulu sangat penakut di sekitarnya.
"Kamu sudah selesai melakukan pekerjaan rumahmu itu? Makan siang sudah siap? Kamu ngapain di sinii?! Dan kenapa kamu berpakaian seperti itu? Sudah bertahun-tahun kamu nikah sama Osborne, tapi kamu masih kek gembel. Malu-maluin!"
"Aku? Malu-maluin?"
Stella tertawa seolah mendengar lelucon terlucu di dunia. "Setelah aku menikah dengan Osborne, kamu dengan sengaja memecat pembantu, memaksaku untuk berhenti bekerja dan memerintahkanku mengerjakan semua pekerjaan rumah sebagai 'istri yang baik'. Aku udah melakukan semua itu, tapi apa yang aku dapatkan? Nggak ada! Kamu menuduhku mencuri perhiasanmu untuk membeli saham yang diberikan Kakek James padaku dan membuatku berlutut di tengah-tengah hujan sebagai hukuman. Puas? Apakah semua ini terdengar indah bagimu?"
Para wanita kaya di belakang Heather menghela nafas. Mereka tahu Heather keras terhadap menantunya Stella tapi tak menyadari bahwa ia sebenarnya sedang menganiaya gadis miskin itu.
Merasa tegang, para wanita dengan cepat menemukan alasan untuk pergi.
"Kamu... kamu berbicara omong kosong!"
Heather mencoba beberapa kali untuk menghentikan Stella tetapi dicegah oleh kata-kata cepat Stella.
"Kamu sok tau kalau apa yang aku omongin omong kosong atau bukan," kata Stella dengan dingin, dagunya tegak, matanya tajam.
"Dulu aku menanggung hidupmu, tapi sekarang tak lagi. Jika kamu menggangguku lagi, aku akan membuatmu membayar harganya!"
Heather terkejut oleh aura Stella.
Apakah ini masih menantunya yang penakut?
"Oh, jadi kamu hanya berpura-pura selama ini!"
Heather marah, menggeretakkan giginya. "Kurang ajar kamu ya Aku akan bilang ke Osborne agar menceraikanmu! Aku akan mengusirmu! Tak ada yang bisa kamu lakukan untuk mengubahnya!"
Stella mengejek, wajahnya penuh dengan pandangan rendah.
"Haruskah aku bercerita? Baru sepuluh menit yang lalu, Osborne dan aku sudah bercerai. Kamu bisa menceritakan apa pun yang kamu mau padanya. Aku tak peduli."
Bercerai? Baru sepuluh menit yang lalu?
Bagaimana mungkin? Gadis desa ini telah bertahan dengan Osborne begitu lama dan sekarang ia bersedia pergi?
Heather memandangi sosok Stella yang meninggalkan dengan curiga dan segera menelepon Osborne untuk mengonfirmasi.
"Osborne, apakah kamu benar-benar sudah bercerai?"
"Ya, kita baru saja menandatangani surat-suratnya. Siapa yang memberitahumu?" jawab Osborne, mengerutkan keningnya.
"Kamu pikir siapa? Aku bertemu dengan Stella. Si perempuan menjengkelkan itu berteriak padaku!"
Kemarahan Heather dengan cepat berubah menjadi kegembiraan saat dia menyadari bahwa perceraian itu nyata. "Tapi itu tak akan jadi masalah karena kamu akhirnya terbebas darinya. Yatim piatu itu tak pernah pantas mendapatkanmu. Ia seharusnya sudah pergi dari dulu..."
Osborne meremas bibirnya, merasa persis berlawanan dengan kegembiraan Heather.
Bahkan ia merasa terganggu dan bersalah.
Sebelum ini, ia pikir Stella tak akan setuju dengan perceraian secara mudah. Ia sudah menyiapkan tiga juta dolar dan sebuah vila sebagai kompensasi, tapi malah ia yang memulai perceraian dan tak meminta sepersen pun.
Sekarang setelah mereka bercerai, ia tak punya uang dan tidak ada keluarga. Bagaimana ia akan hidup?
Tapi, ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tak perlu khawatir tentangnya. Ketika ia mencapai titik terendah, ia akan datang padanya.
*****
Stella naik taksi kembali ke villa tempat dia tinggal bersama Osborne selama tiga tahun terakhir, tempat yang penuh dengan kenangan pahit.
Kenangan itu terlalu berat dan ia tak ingin merenungkan hal itu.
Setelah melewati taman kecil di depan rumah, ia langsung naik ke lantai atas untuk mengemas barang-barangnya. Setelah selesai, ia menuju pintu dengan bagasinya karena ia tak ingin tinggal di villa tersebut lagi.
Namun, saat dia turun ke lantai pertama, dia melihat sosok yang akrab di ruang tamu.
Itu adalah Nina, mengenakan gaun putih murni, tersenyum lembut. "Stella, sudah lama tak bersua."
Stella sejenak terdiam, tak mengharapkan melihat Nina di sini.
Mereka baru saja bercerai dan Osborne sudah memberikan kunci villa mereka kepada Nina?
Ia sungguh-sungguh ingin segera memindahkannya, bukan?
Rasa jijik melanda Stella, tapi ia tetap tersenyum dengan anggun saat ia turun tangga.
Senyum Nina terhenti sejenak saat ia melihat sikap tenang Stella, tapi ia segera mendapatkannya kembali. "Stella, hanya beberapa tahun saja dan kamu sudah benar-benar seperti istri Osborne sekarang."
"Ups, saya salah bicara." Nina menutup mulutnya dengan tawa malu palsu. "Aku lupa bahwa kamu bukan istrinya lagi."
Stella tidak marah. Senyumnya tetap ada.
"Osborne hanya seorang pria yang membuatku merasa jenuh. Tapi jikalau kamu suka lelaki yang saya cerai, kamu bisa mendapatkannya. Hanya jangan bertingkah terlalu putus asa, atau kamu akan terlihat murahan seperti selingkuhan cabul."
Dengan begitu, ia bergerak untuk berjalan melewati Nina, tapi pergelangan tangannya tiba-tiba digenggam.