Musim semi 2018.
Dengan napas yang sedikit terengah, Nevan menempati kursi kosong dekat jendela. Rupanya supir bus menyadari kalau tadi Nevan berlarian demi tidak ketinggalan bus-nya, alhasil ia memutuskan untuk menunda keberangkatannya sejenak.
Nevan mengeluarkan earphone berwarna putih dari dalam ransel selempangnya. Sedang bingkisan dari pemilik toko, ia letakkan di kursi sebelahnya yang kosong.
Kepala Nevan bergerak mengikuti alunan musik sambil melihat pemandangan yang dilewati sepanjang jalan.
Sebentar lagi, bus akan berhenti di pemberhentian berikutnya. Beberapa penumpang yang akan turun sudah beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah pintu menunggu bus benar-benar berhenti. Setelah supir menekan tombol untuk membuka pintu, penumpang yang harus turun lebih dulu keluar melalui pintu sebelum calon penumpang yang menunggu di halte memasuki bus dengan tertib.
Nevan tak begitu mengindahkan, ia terhanyut dalam alunan musik yang tengah didengarkannya melalui earphone, sebelum seorang lelaki tiba-tiba melepas sebelah earphone dari telinga Nevan dan memasangnya pada telinganya sendiri. Lelaki itu tanpa berdosa menempati kursi di sebelah Nevan yang sebelumnya Nevan tempatkan oleh bingkisan dari pemilik toko, kini bingkisan tersebut malah berada di pangkuan lelaki itu. Sontak Nevan pun menoleh dan bersiap memaki sebab ada seseorang yang mengganggunya. Namun, setelah melihat sosok lelaki yang duduk di sebelahnya itu, bukan makian yang terlontar dari mulut Nevan melainkan tawa.
"Kau ini! Kukira siapa!" Ujarnya sambil menyenggol lengan lelaki di sebelahnya, pun lelaki itu hanya tersenyum jahil.
"Apa yang kau bawa ini?" Tanya lelaki tersebut, sambil melongok isi bingkisan yang ada di pangkuannya.
"Kue, dari pemilik toko. Katanya hadiah untuk kelulusan Darel." Jelas Nevan, lelaki di sebelahnya itu hanya membulatkan mulutnya menyerupai huruf O sambil mengangguk.
Percakapan mereka berhenti sampai di situ. Namun beberapa detik kemudian, Nevan seperti teringat akan sesuatu. Ia melirik ke arah arloji di tangan kanannya kemudian melirik ke arah lelaki yang berada di sebelahnya.
"Oh, ini sudah terlalu sore. Kenapa kau baru pulang, Mirza?" Tanya Nevan.
"Rekanku yang masuk siang datang terlambat. Jadi aku belum bisa meninggalkan pekerjaanku sebelum ada yang menggantikannya." Jawab lelaki itu yang ternyata si barista tampan, tiada lain ialah Mirza.
"Ey, apa bosmu sekejam itu sampai melarang mu pulang sebelum ada yang menggantikan?" Kritikan Nevan jelas langsung disanggah dengan gelengan kepala oleh Mirza.
"Tidak. Tidak begitu. Itu kemauanku sendiri. Bagiku, itu merupakan salah satu bentuk tanggung jawabku terhadap pekerjaan." Paparnya. Sontak Nevan langsung menatapnya dengan tatapan kagum sekaligus meledek.
"Oow, Tuan Barista! Ternyata kau ini bukan saja tampan tapi juga pekerja yang baik, ya!" Entah penuturan Nevan itu bisa dikategorikan sebagai pujian atau justru sebaliknya. Namun Mirza menanggapinya dengan membanggakan diri. Menaik-turunkan alisnya sekaligus mengumbar senyum kotaknya.
"Oh, kita sudah hampir sampai!" Seru Nevan yang tersadar ketika melihat jalanan melalui jendela. Lantas keduanya segera bangkit dari kursi menuju ke arah pintu. Untung saja Nevan cepat melihat ke luar jendela, karena kalau tidak, keduanya bisa-bisa terlewat dari pemberhentian yang menjadi tujuan mereka.
***
"Pap pap pararap five six seven eight!" Setelah menyerukan kalimat barusan, lelaki berbalut kaus putih oversize dengan celana training abu-abu itu mulai menggerakan tubuhnya di depan tembok cermin. Terlihat begitu lihai, diikuti oleh beberapa orang yang ada di belakangnya.
"No no! Tidak begitu!" Serunya lagi kala ia mendapati ada kesalahan gerakan pada salah seorang di belakangnya. Matanya memang begitu jeli mengoreksi gerakan demi gerakan melalui tembok cermin yang mengelilingi ruangan tempat dirinya berada sekarang.
"Oke sekarang kita coba dengan musik, ya!" Usulnya.
Pun ia melangkahkan kakinya menuju pengeras suara di sudut ruang, menekan salah satu tombol hingga dentuman musik mulai menyelimuti seluruh penjuru ruang.
"Five six seven eight mulai!" Ujarnya dengan sedikit berteriak sebab suaranya kalah dengan dentuman musik.
Lelaki itu berkeliling melalui tepi ruang sambil terus memerhatikan gerakan demi gerakan dari lima orang yang tengah meliukkan tubuhnya mengikuti alunan musik.
"Powernya jangan lupa keluarkan!" Serunya lagi, kali ini sambil bertepuk tangan mengikuti irama. Setelahnya ia berdiri di sudut ruang. Senyumnya tersimpul kala dirinya tak lagi mendapati kesalagan gerakan dari lima orang tersebut.
"Bravo! Bravo!!" Ujarnya sambil bertepuk tangan heboh dan menampilkan wajah cerianya.
"Yaaa kalian benar-benar hebat! Baiklah, kurasa untuk hari ini sampai di sini dulu. Kalian juga pasti lelah, selamat beristirahat!" Katanya sambil merapikan perlengkapannya, memasukkannya ke dalam ransel hitam miliknya.
"Baik. Terima kasih banyak, Kak Arvin!" Seru yang lainnya, kala Arvin menggendong ranselnya dan berlalu meninggalkan ruangan sambil melambaikan tangan, meninggalkan senyuman hangat serta semangatnya yang selalu membara.
***
"Kalian pulang bersama?" Tanya Aksa yang baru saja keluar dari kamarnya, melihat Nevan dan Mirza memasuki rumah.
"Iya. Di mana Darel?" Kini giliran Nevan yang melempar tanya.
"Dia baru saja memintaku untuk mengajarinya matematika, mungkin sekarang di kamar." Sahut Aksa, lelaki itu menuruni anak tangga, melangkah menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan.
"Ahh apa otaknya baik-baik saja belajar setiap saat seperti itu?" Keluh Mirza sambil merebahkan tubuhnya ke atas sofa.
"Itulah. Aku takut dia jadi gila." Timpal Aksa.
"Otaknya baik-baik saja karena dia tidak seperti kalian." Celetuk Nevan sambil menapaki anak tangga menuju kamar Darel.
"Sialan kau bantet!" Protes Aksa.
"Kak, apa kau pernah mendengar istilah maling teriak maling?" Pertanyaan yang dilempar Mirza tentu membuat Aksa yang tengah mengorek isi lemari pendingin menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.
"Rasanya istilah itu bisa digunakan untukmu yang baru saja berteriak bantet pada Nevan." Kata Mirza, melengkapi penuturannya barusan.
"Sial. Sepertinya rumah ini dihuni oleh para b******n yang selalu mengolok-olok ku."
Mendengar hal itu, Mirza tertawa puas.
***
Tok tok
"Darel, apa kau di dalam?" Panggil Nevan.
Pun Darel yang tengah berkutat dengan lembaran-lembaran soal itu segera beranjak untuk membukakan pintu kamarnya.
"Kak Nevan? Ada apa?" Tanyanya, setelah mendapati kalau ternyata Nevan lah yang mengetuk pintu kamarnya.
"Ini untukmu," Nevan menyodorkan bingkisan yang dibawanya. "Pemilik toko memberiku kue kering. Katanya ini sebagai hadiah kelulusanmu."
"Wah!!" Darel nampak berbinar dan begitu antusias menerima bingkisan tersebut.
"Sampaikan rasa terima kasihku kepada ibu pemilik toko, ya, Kak!" Ujar Darel.
"Aku tidak mau!" Nevan memalingkan wajahnya seolah sedang merajuk. Seketika binar dalam mata Darel pun meredup. Melihat ekspresi rekan termudanya itu, Nevan tak kuasa menahan tawa.
"Mampirlah ke toko! Sampaikan terima kasihmu sendiri!" Kata Nevan sambil terkekeh.
"Darel! Kemarilah! Jangan kebanyakan belajar nanti kau bisa gila!!" Teriak seseorang dari lantai bawah, yang Darel dan Nevan ketahui itu suara Mirza.
"Kau dengar, 'kan? Ayo kita ke bawah!" Ajak Nevan, lelaki itu berusaha merangkul Darel meski harus berjinjit karena Darel jauh lebih tinggi darinya.
"Aku tahu kau jenius, tapi otakmu ini juga butuh istirahat, kau tahu?" Nevan memijit kening Darel dengan lengan yang satunya.
"Oh, Nevan? Berhenti berusaha seperti itu. Aku kasihan melihatmu yang kesulitan menjangkau Darel!" Celetuk Mirza.
"Sialan kau!" Umpat Nevan.
"Mulutmu ini seperti orang yang tak pernah membaca kitab!" Cetus Aksa yang sudah berada di antara mereka sambil membekap mulut Mirza selama beberapa detik.
"Ah, Kak Aksa! Kalau habis dari toilet cuci dulu tanganmu menggunakan sabun sampai bersih!" Protes Mirza.
"Apa kau baru saja mengatakan tanganku ini bau?"
"Tidak, Kak. Kurasa bukan tanganmu yang bau, tapi karena mulut Kak Mirza terlalu dekat dengan hidungnya sendiri." Timpal Darel.
"Yaa!! Siapa yang mengajarkanmu berkata seperti itu hah? Anak ini benar-benar!" Geram Mirza. Namun tidak betulan geram, terbukti dengan tawanya yang beberapa detik kemudian pecah.
***
"Baik, kalau begitu rapat hari ini saya tutup. Jangan lupa segera kirimkan berkas yang mesti saya tinjau melalui surel, ya?"
"Siap, Pak Deon. Akan segera saya kirimkan."
Pun Deon menganggukkan kepalanya. "Maaf sepertinya saya harus segera pergi. Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini, selamat beristirahat!" Pamit Deon. Tangan kanannya harus membawa laptop beserta berkas lainnya. Sementara tangan kirinya merogoh saku celana sebab ponselnya di dalam sana bergetar.
Deon mengerutkan kening begitu melihat layar ponselnya yang menyala karena panggilan masuk.
"Papa?"