Sampai Jumpa

1144 Kata

Darel terpaku. Lelaki itu masih meratapi kepergian Mirza beberapa hari lalu. Ia berdiri di ruang tengah kediamannya yang telah ia tempati bertahun-tahun, yang kini menjadi semakin sunyi dan dingin. Satu persatu penghuninya telah pergi, menyisakan Darel seorang yang diselimuti penyesalan dan sebongkah kerinduan. Darel terus menyesali akan kejadian hari itu, andai saja kalau bukan Deon, andai saja kalau Darel tidak mengetahui itu sebelumnya, mungkin tidak akan terlalu banyak kata andai yang menggelayuti pikirannya sekarang. Pun Darel menghela napas, ia meletakkan buku bersampul merah di atas meja tamunya, yang selama ini disimpan rapi dalam kamar Deon. Setelahnya, Darel membawa kakinya keluar meninggalkan rumah yang tak dihuni oleh orang lain lagi selain Darel. Pekatnya langit juga udara d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN