"Tunggu, aku segera kesana!" Seru Brian yang baru saja keluar dari kamarnya sembari mengenakan jaket dan pergi dengan tergesa. Darel yang baru saja ingin masuk kamar pun menatapnya bingung, kemudian ia melempar tatapan yang menyiratkan "ada apa?" Kepada Nevan, yang juga baru saja keluar dari kamarnya namun malah disambut gelengan kepala serta bahu yang terangkat, menandakan kalau Nevan pun tidak tahu apa yang terjadi.
Brian benar-benar pergi dengan tergesa bahkan terkesan panik. Meninggalkan tanda tanya besar kepada seluruh penghuni rumah, Aksa dan Arvin yang sedang menonton acara televisi di ruang depan pun saling menerka-nerka. Pasti ada sesuatu yang terjadi.
Brian menengadah ke langit, hujan mengguyur dengan derasnya. Tak mau buang waktu lelaki itu menerobosnya begitu saja menuju mobil yang terparkir di halaman. Tak memedulikan pakaiannya yang basah, Brian segera mengenakan sabuk pengaman dan tancap gas dengan kecepatan penuh.
Meskipun terhambat oleh hujam yang masih deras, tapi mata Brian tak luput memeriksa sekitaran jalan yang dilaluinya. Sampai akhirnya kedua matanya menangkap sosok lelaki yang terduduk lemas di dalam kotak telepon berdinding kaca. Brian segera menepikan mobilnya, dan berlari menerobos hujan untuk menghampiri sosok yang memang dicarinya itu.
"Mirza!" Panggil Brian, pun Mirza mendongak untuk melihat siapa yang datang. Selama beberapa detik lelaki itu diam terpaku melihat kehadiran rekannya itu, tapi kemudian, ia akhirnya bangkit dan segera menghambur mendekap erat tubuh Brian. Pun dalam dekapan Brian itulah, tangis Mirza benar-benar pecah. Lelaki itu meraung seakan menumpahkan seluruh masalahnya.
Brian tak meminta rekannya untuk berhenti menangis atau pun segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya. Ia hanya menyediakan tubuh sebagai tempat rekannya menuangkan air mata untuk merayakan kesedihan. Selama beberapa detik Brian membiarkan Mirza dalam posisi seperti itu, setelah tangis Mirza sudah mulai reda, lelaki itu pun menjauhkan tubuhnya sendiri dari dekapan Brian. Menyeka air mata serta mengatur napasnya. Brian menuntun lelaki itu untuk masuk ke mobil, keduanya sudah basah kuyup. Ya mau bagaimana lagi? Brian tidak memiliki payung untuk melindungi mereka dari hujan.
Sepanjang perjalanan, Brian membiarkan Mirza untuk tenang terlebih dahulu, ia tak akan melempar tanya sebelum Mirza yang benar-benar mulai bercerita. Pun Brian juga tak langsung membawa Mirza pulang, lelaki itu menepi ke sebuah tempat makan yang agak sepi. Memang kondisinya sudah lumayan larut ditambah lagi hujan yang belum juga berhenti.
Brian memesan dua mangkuk nasi lengkap dengan sup hangat, untuk dirinya dan sang rekan makan malam. Sebab Brian tau pasti lambung Mirza belum tersentuh makanan sekali pun. Terbukti dengan begitu lahapnya lelaki itu menghabiskan makanannya, Brian hanya memerhatikan dengan menyimpul senyum tipis.
"Mau pesan lagi?" Tawar Brian.
Seketika Mirza menghentikan aktifitasnya untuk menatap Brian, sebelum akhirnya menundukkan kepala.
"Pelayan! Bawakan satu porsi lagi!" Pinta Brian.
Dengan sigap sang pelayan pun segera bergerak, tak perlu menunggu lama, semangkuk nasi serta sup hangat yang sama telah kembali disajikan di atas meja Brian dan Mirza.
"Terima kasih!" Ucap Mirza kepada pelayan. Pun ia segera mengeksekusi kudapan ronde ke-dua-nya.
Sampai seluruh makanan dilahap habis, Mirza masih belum juga mengeluarkan sepatah kata pada Brian. Keduanya bahkan kini sudah kembali menuju ke mobil setelah sebelumnya Brian menyelesaikan pembayaran.
Jalanan nampak sepi, hanya ada satu atau dua kendaraan yang melintas. Ya maklum, hujan masih belum juga berhenti. Sepertinya tidak akan berhenti semalaman. Brian mengemudi dalam hening, fokus pada jalan dan hanya terdengar deru mesin serta rintikan hujan dari luar. Mirza yang duduk di sebelahnya sesekali melirik ke arah Brian, pun Brian sadar itu.
"Eum… Kak." Ini yang ditunggu! Mirza akhirnya buka suara, sontak saja Brian langsung menolehkan pandangannya sejenak untuk menatap Mirza sebelum akhirnya kembali fokus pada jalanan di depan.
"Ya, ada apa?" Kata Brian.
"Aku.…"
***
"Malam sudah semakin larut, kenapa Kak Brian belum juga kembali?" Gumam Darel yang berdiri di tepian jendela menatap ke arah luar, menanti kehadiran Brian.
Darel mendengar dentingan piano yang menggila dari kamar atas. Pun ia mengalihkan pandangannya, menatap pada satu pintu kamar bercat putih yang tertutup rapat. Itu kamar Aksa, belakangan ini, lebih tepatnya semenjak kepergian Deon, Aksa sering kali mengalunkan nada-nada gila dari tuts pianonya. Bukan hanya Aksa, rekan-rekannya yang lain pun seketika berubah, seperti halnya Mirza yang tiba-tiba saja pergi dari rumah. Kehangatan tak lagi ditemukan di rumah ini, semuanya tak lagi sama seperti dulu kala.
"Kau sedang apa?" Tanya Nevan yang baru saja keluar dari pintu kamarnya, melempar tatapan datar ke arah Darel. Sementara Darel berusaha menyimpulkan senyum manis gigi kelincinya.
"Tidak, Kak." Jawab Darel. Kemudian Nevan hanya berlalu begitu saja, memasuki pintu kamar lainnya yang Darel ketahui adalah kamar milik Arvin. Mendadak Nevan menjadi sangat akrab dengan Arvin, bahkan ia sering menemani rekannya itu untuk periksa ke rumah sakit, sebab belakangan ini kesehatan Arvin sedikit agak terganggu. Lagi-lagi semuanya terjadi semenjak kepergian Deon.
***
Suara ban berdecit nyaring terdengar akibat dari gesekan dengan aspal yang basah. Brian menghentikan mobilnya tanpa aba-aba, membuat dirinya juga Mirza yang duduk di kursi penumpang sempat tersentak ke depan. Brian melempar tatapan penuh tanya sekaligus menunjukkan rasa terkejutnya ke arah Mirza.
"Kau sudah gila?" Sentak Brian.
Pun helaan napas Mirza terdengar, "ya, aku memang sudah gila," jawabnya dengan kepala tertunduk.
"Kesalahanku tak pantas untuk diampuni. Aku… sejujurnya aku malu untuk kembali ke rumah." Ujarnya lagi.
Brian kembali melajukan mobilnya, ia melirik sekilas ke arah rekannya yang masih tertunduk.
"Itu adalah retakan pertama pada sandaran hidupmu, bahwa setiap individu harus dihancurkan terlebih dahulu barulah bisa menjadi dirinya sendiri. Retakan dan celah seperti itu akan kembali seperti semula, disembuhkan kemudian dilupakan." Tutur Brian.
Mendengar itu, Mirza pun menolehkan pandangannya, menatap penuh makna ke arah wajah Brian yang tengah fokus mengemudi. Apa yang dikatakan Brian benar, semua yang dialami Mirza mungkin akan mendewasakan dirinya. Tapi ada satu hal yang benar-benar tak bisa terampuni bahkan oleh dirinya sendiri, yaitu sebuah fakta bahwa Mirza telah menghabisi nyawa sang ayah juga kakak perempuannya dengan tangannya sendiri. Kesalahan itu menjadi kesalahan terbesar bagi Mirza di sepanjang hidupnya.
"Apa kau akan bermalam di mobil? Turunlah! Kita sudah sampai." Ucap Brian, yang memecah keheningan di antara keduanya, sekaligus membuyarkan lamunan Mirza yang masih meratapi kesalahannya. Lantas pandangan Mirza menyapu sekelilingnya, hujan sudah reda, menyisakan dedaunan serta tanah yang basah di halaman rumah.
Lantas Mirza segera membuka sabuk pengamannya menyusul Brian yang sudah mendahului, kemudian keduanya bergegas membuka pintu mobil.
"Mirza, retakan itu memang kelak akan sembuh dan dilupakan. Namun jauh di relung yang terdalam, mereka terus hidup dan mendarah." Ujar Brian seraya menepuk pundak rekannya itu sebelum ia memasuki rumah. Sementara Mirza terpaku di tempatnya berdiri, penuturan Brian barusan terngiang di telinganya, dan perlahan mulai terpatri di pikirannya.
***
Aku tahu, setiap kehidupan adalah sebuah film. Kita mendapat bintang dan cerita yang berbeda, kita mendapat malam dan pagi yang berbeda. Skenario kita tidak hanya membosankan. Aku rasa film ini benar-benar menyenangkan, aku ingin melakoni adegan demi adegannya dengan baik setiap hari, tapi sebuah insiden selalu membuatnya berantakan.
Aku hanya berdiri di tengah kegelapan, ketakutan diam-diam kembali dan meraih tanganku. Dunia adalah nama lain untuk berputus asa. Orang-orang dalam kegelapan tampak lebih bahagia hari ini, hanya aku yang berjalan tak berdaya.
Ini rahasia, aku akan memberitahumu sesuatu, hanya kau yang dapat menyimpan rahasia. Aku tak tahu harus memulainya dari mana. Aku merasa sakit yang teramat sakit, sehingga aku tak dapat lagi menahannya. Aku terlalu menyesal. Lebih dalam dan semakin dalam, luka hanya akan menjadi semakin dalam, seperti potongan-potongan kaca yang tidak bisa kita kembalikan lagi. Lebih dalam, dadaku sakit setiap hari.
"maaf" hanya itu yang mampu ku tuliskan. Apa yang harus kulakukan? Luka ini terlalu dalam, sakit ini terlalu menyerang. Untuk kesekian kalinya, aku hanya dapat menangis, menangis, dan menangis lagi. Tajamnya kenyataan aku rasakan setiap hari. Darah dari tercabiknya kenyataan, berubah menjadi merah. Aku tidak pernah berpikir kebodohanku bisa menjadi terompet yang menyerukan neraka. Napas, Aku kehabisan napas. Aku menutup mataku untuk suara kotak musik yang tragis ini. Beritahu aku, bagaimana caranya agar bisa dibersihkan dari dosa ini.
Tak kan hilang dari ingatanku. Di tengah kegelapan, sebuah benda tajam berhasil ku daratkan pada tubuh mungil nya. Tubuh yang kuat namun juga amat lemah. Hujan yang turun amat deras itu bersatu dengan cairan merah kental yang mengalir dari tubuhnya.
Iblis berhasil menguasaiku. Kini aku sendirian, aku telah membiarkan satu satunya yang paling berharga di dunia ini meregang nyawa dihadapanku. Dan aku benci sebuah fakta kalau akulah yang melakukannya. Aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf, Kakak.
Beritahu aku apa yang seharusnya kulakukan. Bahkan, jika aku menyembunyikannya, dan jika aku menghilang, dosa ini tidak akan pernah bisa terhapus.
Kepada cahaya, tolong terangi kejahatanku, tolong hukum aku. Kumohon beri aku hukuman atas kejahatannku. Aku memang bodoh, aku pantas untuk dihukum. Kakak, maafkan aku. Maaf atas kebodohanku, maaf atas kejahatanku.
Air mata lagi-lagi membanjiri wajah Mirza, bahkan menetes membasahi kertas tempatnya menorehkan tinta. Mirza benar-benar tidak tahu mesti bagaimana lagi, ia hanya mampu menyuratkan permintaan maafnya, entah untuk siapa, entah akan terbaca atau tidak, Mirza hanya ingin isi hatinya sedikit tercurahkan.