"Dini hari sebelum matahari terbit, adalah waktu tergelap di dunia."
Darel tersentak, kedua matanya yang semula terpejam seketika terbuka kala ia baru saja mendengar suara seseorang membisikkannya sebaris kalimat barusan. Ia mendapati dirinya tengah berbaring di ranjang, pun Darel mengedarkan pandangannya, menyapu ke seluruh ruang. Ia melihat beberapa foto yang terpajang di dinding, potret dirinya dengan keenam rekannya yang lain.
"Hanya mimpi…" Lirih Darel seraya menghela napas begitu ia tersadar kalau dirinya berada di kamar tidurnya sendiri. Dan ketika baru saja Darel bangkit, mengambil posisi duduk dari rebahnya, gorden yang menutup jendela kamarnya itu berkibar sangat kencang seakan diterpa angin. Darel terperangah dibuatnya, entah kenapa lelaki itu malah bangkit dan melangkah menuju ke arah kanvas yang tak jauh dari ranjangnya.
Darel bergerak mengambil peralatan lukis yang berada di meja sebelah kanvas, anehnya ia bergerak di luar kesadaran. Seakan ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Perlahan tangan kanannya yang sudah memegang kuas mulai menorehkan sesuatu di atas kanvas tersebut. Dalam proses melukisnya, angin kencang terus menyapu seluruh ruang kamar Darel, membuat gordennya berkibar makin kencang. Pun tangan Darel terus bergerak memadukan coretan beragam warna, setelahnya kuas terlepas begitu saja dari genggaman Darel, terdampar dan menggelinding bebas di lantai.
"Hahh??" Darel sendiri terperangah melihat apa yang baru saja dilukisnya. Sebuah lukisan yang menggambarkan sosok lelaki dari garis yang abstrak, yang membuat janggal adalah ia melihat seperti ada beragam sosok dalam satu lukisan itu. Pun dengan dahi mengkerut, Darel memberanikan diri untuk menyentuh lukisan tersebut. Namun, tepat ketika ujung jari Darel menyentuhnya, tiba-tiba saja lukisan itu seakan menangis mengeluarkan cairan hitam dari matanya. Lantas Darel terkejut sekaligus takut, lelaki itu pun seketika mundur beberapa langkah. Tidak berhenti di situ, hal aneh kembali terjadi, yakni tepat ketika Darel melangkah mundur, lukisan tersebut jatuh begitu saja ke lantai dan secarik kertas yang entah dari mana datangnya terbang hingga mendarat di depan kaki Darel. Dengan tubuh yang sedikit bergetar sebab diselimuti rasa takut, Darel mencoba memberanikan diri untuk meraih kertas itu.
Ada sebuah tulisan bertinta merah di sana.
"Omelas. Darel. Tumbal…" Lirih Darel seraya menangkup mulutnya dengan kanan kiri, sementara tangan kanannya yang memegang secarik kertas semakin bergetar. Darel takut bukan main, namanya tertulis jelas di sana, yang lebih menakutkannya lagi adalah tertulisnya kata "tumbal" yang membuat Darel semakin dirundung kebingungan. Apa ini artinya…
BRAKKKK
Darel tersentak kala seseorang membuka pintu kamarnya dengan cukup keras. Lantas ia memalingkan pandangannya ke sumber suara, rekannya telah berdiri di sana.
"Darel, kau sedang apa? Dini hari sebelum mata hari terbit adalah waktu tergelap di dunia. Kau tidak tidur?"
BOOMM! Apa lagi ini? Alih-alih menjawab pertanyaan yang dilempar Brian. Darel justru membelalakan kedua matanya yang berkaca, bagaimana bisa, kalimat yang didengarnya di alam mimpi, bisa dilontarkan oleh Brian?
"Kak, bisa kita bicara?" Tanya Darel.
Brian mengangguk, pun melangkah memasuki kamar Darel setelah ia menutup pintunya.
"Kamar mu berantakan sekali," ujar Brian. Pun lelaki itu duduk di tepian ranjang Darel. Sementara pemilik kamar hanya memaksakan simpulan senyum.
"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan juga padamu, Darel." Kata Brian lagi.
"Apa itu?"
"Eum…" Brian terlihat memainkan jari-jari tangannya sendiri. Darel yang memerhatikan gerak-gerik rekannya itu pun merasa ada sesuatu yang aneh, pasti ada yang Brian sembunyikan, pikir Darel.
"Aku punya buku, apa kau mau membacanya?" Tanya Brian sembari menunjukan sebuah buku yang ada dalam genggamannya. Ya sebenarnya tujuan lelaki itu ke kamar Darel adalah ingin memberitahukan sesuatu yang ada dalam buku itu.
"Apa kau hanya ingin mengatakan itu? Buku tentang apa?" Selidik Darel, menyambut buku yang diulurkan Brian.
"Tentang Omelas, aku mendapatkannya ketika kita berlibur di sana."
"Apa menarik?"
Alih-alih menjawab, Brian malah kelihatan berpikir selama beberapa detik sebelum akhirnya melemparkan senyum pada Darel.
"Kau baca saja dulu, itu tentang kultur yang ada di sana." Ujar Brian.
Omelas.
Darel mengusap tulisan yang tertera di sampul buku usang itu. Baru saja Darel mengalami kejanggalan yang melibatkan nama kota itu, kini Brian datang memintanya untuk membaca buku mengenai kultur yang ada di sana. Apa semua ini memiliki keterkaitan? Perlahan Darel mulai menyingkap halaman demi halaman, membaca cepat namun tetap tertangkap intisarinya. Sementara Brian yang sedari tadi duduk pun akhirnya beranjak, berniat untuk meninggalkan kamar Darel dan kembali ke kamarnya.
"Siapa yang mengijinkanmu pergi, Kak?" Cetus Darel dengan fokus yang masih terpaku pada buku. Nada bicaranya terkesan dingin. Pun lelaki itu menutup buku yang telah dibacanya sebanyak setengah halaman, ia menatap lurus tepat ke dalam dua manik Brian. Ia bangkit dari duduknya, berjalan ke arah Brian dan menghentikan langkahnya tepat di hadapan Brian.
"Aku mengerti sekarang…" Darel menyerahkan buku itu kembali pada Brian. "Kota itu butuh tumbal, dan… kalian berencana menumbalkan ku. Benar begitu?" Singkap Darel yang tentunya membuat Brian terkesiap. Seketika Brian kikuk, matanya mengerjap dengan cepat.
"Aku tidak bicara begitu," sanggah Brian.
"Memang bukan kau," Darel memajukan langkahnya, membuat tubuhnya dengan Brian hanya berjarak satu jengkal.
"Tapi Black Walker… yang memberitahuku…" Bisik Darel seraya menunjukkan secarik kertas ke hadapan muka Brian. Secarik kertas yang bertuliskan,
"Omelas, Darel, Tumbal."
Sontak saja perlakuan Darel berhasil membuat Brian membeku. Rekan termudanya itu benar-benar membuat lidahnya tercekat, adapun Brian yang berusaha merapalkan sesuatu, mencari alibi yang tepat untuk disampaikan pada Darel.
"Tak usah lagi berdalih," ujar Darel, seraya melangkahkan kaki menjauh dari Brian, mengambil kanvas yang sebelumnya terjatuh dan meletakkannya lagi di tempat semula. Pun Brian sempat dibuat terlonjak kaget kala melihat lukisan yang ada di kanvas itu.
"Aku sudah tahu, Kak. Aku tahu kalau kalian akan menumbalkanku, tapi sayangnya… salah satu persyaratan dalam ritual tersebut adalah orang yang akan ditumbalkan tidak boleh mengetahui. Tertulis jelas dalam buku itu, tentu kau membacanya bukan?" Papar Darel. Sementara Brian, lelaki itu nampak mengusap wajahnya sendiri dengan tangan kanan.
"Eum… Darel," panggil Brian dengan hati-hati. "Y-ya, kau benar. Semua yang kau ucapkan itu benar, termasuk persyaratan yang kau bicarakan itu… semuanya benar." Jelasnya.
"Lalu? Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Selidik Darel.
"Mengganti rencana."
"Siapa yang akan menggantikanku?"
"Deon. Satu-satunya orang yang tidak akan pernah mengetahui kalau dirinya akan dijadikan tumbal adalah… Deon."
Kalimat yang dituturkan Brian barusan sukses membuat Darel tersentak. Lelaki itu membulatkan bola matanya, selama beberapa detik saling melempar tatap dengan Brian seakan saling memancarkan kilatan.
"K-kenapa harus Kak Deon?" Gagap Darel. Ada sedikit perasaan yang mengganjal, rasanya tidak mungkin ia mengorbankan rekan tertuanya yang sudah seperti Kakaknya sendiri itu.
"Lalu siapa lagi? Yang memberitahu tentang semuanya dan yang memberikan buku ini adalah Deon, bahkan dia juga yang menyiapkan seluruh perlengkapan untuk ritual gila itu. Jadi dia tidak mungkin mengira kalau ternyata dirinya lah yang dijadikan tumbal!" Tegas Brian.
Kini giliran Darel yang kehabisan kata.
Melihat tak ada tanggapan dari Darel, Brian menghela napasnya, melangkah mendekati rekannya yang masih geming.
"Siapkan dirimu, lusa kita berangkat!" Ucap Brian seraya menepuk pundak Darel. Dan segera angkat kaki meninggalkan kamar rekannya itu.
"Ah, iya!" Seru Brian kala ia sudah berada di ambang pintu, membuat Darel menoleh ke arahnya, keduanya berpandangan.
"Jangan lupa bereskan kamarmu!"
Dan tepat ketika pintu kamar kembali tertutup, Darel melihat pantulan dirinya di tembok, pun saat itu juga seakan ada sayap yang merekah dari punggungnya.
***
Darel mendapati dirinya terduduk di lantai ruangan yang berantakan. Benda serta serpihan kaca berserakan, sebab baru saja dirinya terlibat perkelahian dengan sang rekan, Aksa. Setelah akhirnya Brian datang dan berhasil membuat suasana agak sedikit tenang, kini hanya ada Darel seorang diri di sana. Brian dan Aksa sudah beranjak ketika Darel masih memutar ingatannya tentang kejadian kelam itu. Sudah dua tahun berlalu semenjak kepergian Deon yang entah bisa disebut sebagai "kepergian" atau Deon yang sengaja dilenyapkan, semuanya berubah seratus delapan puluh derajat. Rekan-rekan Darel, perlahan dirundung permasalahannya masing-masing, seolah kematian tengah mencekik mereka secara tahap demi tahap.
Pun perlahan Darel bangkit, melangkahkan kaki untuk meninggalkan ruangan ini dengan segala kekacauan di dalamnya.