“Citra!"
Brak!
Citra hanya terdiam tanpa berniat menghampiri seseorang yang sedang memanggilnya dengan nada keras itu, lebih baik dia menulikan telinganya.
“Heh perempuan budeg!"
Citra melirik ke arah pintu penghubung yang hanya di tutup tirai itu, “Kenapa mas?" jawabnya santai.
Melihat citra yang tampak acuh itu reno langsung meringsek maju dan menarik rambut citra dengan beringas, “kamu apakan ibu hah, jawab!" teriaknya.
Citra memegang tangan reno yang sedang menjambaknya itu, “Mas lepas sakit mas," rintihnya dengan wajah yang mendongak ke atas.
“Sakit, ini tidak lebih sakit dari ibuku. tega ya kamu mencaci ibuku mengatakan jika dia merebut jatah bulanan kamu, kamu kira kamu siapa hah! kamu itu cuma perempuan yang kapan pun bisa aku gantikan paham!"
“Kamu itu jahat mas, kamu hanya percaya pada ibumu tapi kamu sama sekali tidak bertanya bagaimana sikap ibumu kepadaku."
Brak!
Reno dengan teganya menghantam kepala Citra ke arah meja lapuk di sampingnya, “Apa yang harus aku dengar dari perempuan jahat sepertimu, apa ini didikan orang tuamu iya?" teriak reno dengan wajah merah padam.
Citra berusaha bangkit dengan tubuh yang lemas dan juga kepala yang pusing, “Jangan bawa orang tuaku, mereka mendidikku dengan baik justru kamu itu sama saja seperti ibumu, tidak tahu diri!"
Mendengar ucapan citra emosi reno kembali memuncak, reno menarik tangan citra menuju kamar mandi dan menyiramnya dengan air.
“Byur!"
“Ini hukuman untukmu yang tidak menghormati ibuku!"
Citra menatap reno dengan berang, “kau adalah laki-laki tidak bertanggungjawab, semoga Tuhan menghukummu dengan kepedihan lebih daripada yang kau berikan padaku mas!"
Pyar!
Reno melempar gayung itu hingga hancur, “ wanita jahat sepertimu tidak pernah akan bahagia, justru Tuhan tahu aku sedang membela ibuku dari wanita jahat yang ingin menguasaiku," teriak reno dan pergi dari hadapan citra.
Citra merosot ke lantai sambil menangis tergugu, hatinya benar-benar sakit mendapatkan perlakuan seperti itu dari reno dan ibunya.
Dia ingat bagaimana reno dulu memperjuangkan dirinya, meminta restu pada ayah dan ibunya yang begitu sulit dia dapatkan. padahal dulu citra sudah akan di jodohkan dengan seorang anak teman sang ayah, namun karena citra kekeh ingin bersama reno maka ayahnya merestui.
Tapi lihatlah, janji reno yang akan memberikan emas permata nyatanya hanya kebohongan semata, bahtera rumah tangga mereka bahkan sudah tidak layak untuk dipertahankan.
Tidak ada kebahagiaan sama sekali di dalamnya, hanya ada keributan, makian dan juga fitnah dari ibu mertua. selama 3 bulan pernikahan bahkan reno tidak pernah menyentuhnya, pria itu terkesan jijik pada Citra.
“Citra, citra!" teriak reno.
Citra bangkit dari duduknya, dengan posisi tubuh gemetar citra menghampiri reno.
“Ada apa?"
“Dimana beras dan juga sayuran yang di bawa orang tuamu dari kampung itu, serahkan sekarang padaku," pinta reno.
Citra menggeleng tegas, “Aku sudah membuangnya," jawab citra enteng.
“Apa kau membuangnya?" Reno mendekat ke arah citra kemudian meremas pundak citra, “aku tidak ingin melakukan hal lebih kejam citra, sekarang katakan dimana beras dan sayur itu."
Meskipun merasa sakit citra tetap kekeh pada pendiriannya, “Aku sudah membuangnya, kenapa apa ibu ingin meminta beras itu?"
Reno melepaskan pegangannya dengan kasar, “Selain jahat kau juga wanita pelit citra, apa salahnya kamu berbagi dengan ibu. aku yakin orang tuamu tidak membawa sedikit, ayo sekarang berikan pada ibu."
“Aku bilang aku sudah membuangnya!"
Citra langsung meninggalkan reno, sedangkan reno masih saja terus mengekori citra dari belakang.
“Hey citra berikan beras itu atau kamu tidak akan mendapatkan jatahmu besok."
Citra berbalik, “Aku tidak perduli, jika kamu tidak memberikan uang belanja maka kamu tidak akan makan, silahkan pergi ke rumah ibu dan makan disana," ujar citra.
“Hahkkk," Reno langsung pergi begitu saja, seperti biasa dia akan mengadu pada ibunya dan sebentar lagi pasti dua manusia itu akan kembali mendatangi citra.
Tok tok
Ceklek
“Loh reno," Mertua citra itu tampak heran melihat reno yang datang ke rumahnya.
“Kamu kenapa?"
Reno langsung masuk tanpa menjawab pertanyaan sang ibu lebih dulu, dia duduk di sofa sembari memijit keningnya.
“Reno ribut sama citra buk," jawabnya.
Bu ajeng memutar bola matanya malas,“Pasti dia nuduh ibu fitnah kan?"
Reno mengangguk sambil menopang dagunya, “Reno tu capek buk harus bertengkar setiap hari, tolonglah buk akur sama citra ya," pinta reno.
Bu ajeng melipat kedua tangannya di depan d**a, “Enak aja, kamu itu bela ibuk atau bela istri kamu itu sih? ingat ya reno yang lahirin, sekolahin bahkan biayain hidup kamu itu ibuk, bukan dia. harusnya kamu itu berbakti sama ibuk bukan sama dia, dia itu cuma orang lain, " Ujar buk ajeng.
“Huh, Reno ngerti buk udah sekarang ibuk istirahat saja."
“Mana beras dan sayurnya?" tanya bu ajeng.
Reno menggeleng, “Enggak ada buk," jawabnya singkat sambil menunduk.
“Reno, kamu itu kenapa lemah banget sama perempuan. kalo gini caranya citra itu bakal keenakan reno, harusnya kamu rebut aja beras itu dan kasih ke ibuk. biar ibuk yang atur untuk makan kita."
Reno menatap sang ibu, “Reno tahu buk, masalahnya beras dan sayur itu enggak ada. Citra bilang kalo dia udah buang semuanya buk."
“Apa?"
Bu ajeng langsung bangkit dari duduknya, dan berjalan dengan cepat keluar dari rumah. tujuannya adalah rumah reno, dia akan melabrak menantunya itu.
“Citra citra!" teriaknya dari luar membuat orang-orang yang sedang berada di luar keheranan.
Reno ikut mengekori sang ibu dari belakang, bahkan dia tidak merasa malu sedikitpun karena tingkah ibunya itu.
“Citra keluar kamu, Brak!"
Bu ajeng langsung menendang pintu rumah citra yang hanya terbuat dari triplek itu, alhasil pintu itu langsung rusak karena tendangan bu ajeng.
Citra keluar dengan wajah biasa saja, melihat sang mertua seperti itu citra tidaklah kaget karena itu hal yang biasa selama 3 bulan ini.
Orang-orang sudah berkerumun dj halaman rumah citra, sebagian dari mereka kepo dengan keributan antara bu ajeng dengan citra karena selama ini mereka tahu bahwa citra dan bu ajeng tidaklah akur.
“Kenapa bu?" tanya citra.
“Kemana beras itu, berikan pada ibu!"
“Beras apa yang ibu maksud?"
“Jangan bertele-tele citra, berikan beras itu atau kamu akan menyesal."
Citra tersenyum geli mendengar hal itu, “Beras apa bu? bukankah uang bulanan semuanya sudah pada ibu, citra hanya di jatah 20 ribu dan mas reno meminta citra untuk mencukupi semua kebutuhan dari uang itu, kebutuhan sekarang mahal loh buk," ujarnya di sambut teriakan para tetangga.