Bab 9: Suami ke-2

1030 Kata
Sore ini aku baru pulang ngerumpi dari rumah Rista, tidak ada rencana lain yang harus dikerjakan. Jadi aku lanjutkan dengan penyelesaian masalah DE—Disfungsi Ereksi—suamiku. Aku coret kata dokter dan obat dari daftar. Benny sudah kapok ke dokter dan minum obat. Entah dokter macam apa yang pernah dikunjungi suamiku. Aku hanya merasa aneh, karena menurut artikel yang k****a, penyakit ini bisa disembuhkan. Tapi tidak apa-apa, aku akan mencoba terus. Tidak boleh patah semangat. Berarti tinggal satu hal lagi yang bisa diusahakan. Aku intip lagi plastik yang aku bawa dari rumah Rista, aku nyengir sendirian. Ini pertama kalinya aku membawa barang seperti ini. Aku tunggu kedatangan Benny sambil nonton TV bareng Mamer dan Pamer. Ketika Benny pulang, aku cepat-cepat menyelesaikan tugasku untuk melayani keperluan Benny, lalu menemaninya makan malam. Selesai makan, aku kasi kode ke Benny agar kami bisa cepat masuk kamar. “Ma, Pa, Benny istirahat dulu, capek banget….” Benny memasang wajah kecapekan. Aku ikut pamit. Di dalam kamar, Benny menarik badanku, menciumi bibirku dalam. Aku terhanyut, melingkarkan lenganku di lehernya. “Ada apa, Sayang?” Benny menanyakan alasan aku mengajaknya ke kamar. ”Aku tadi ke rumah teman, Rista namanya, di blok C sini juga sih rumahnya. Aku pinjem CD ini….” Jreng! Aku keluarin CD BF, blue film, kaset film porno dari plastik. Benny terbelalak. “Ngapain?” Benny bertanya bengong. “Ngapain? Ya nontonlah….” Aku cepat-cepat memasang CD itu ke playernya. “Kamu sering nonton bokep ginian?” tanya Benny menginterogasi. “Nggak pernah. Ini yang pertama kali,” jawabku jujur. Ini adalah langkah terakhir usahaku untuk bisa membangunkan ‘the sleeping beauty’- nya. Aku naik ke ranjang, mengikuti Benny, bersandar ke dadanya dan kuletakkan kakiku di antara kakinya. Aku melirik Benny, dia tampak serius menatap TV. Pupil matanya membesar. Aku memperhatikan pangkal paha Benny, tidak ikut membesar. Mata visualku mulai mengirim sinyal ke otakku, otakku mengirim sinyal ke perutku, ada rasa hangat berputar-putar liar di perutku. Aku menelan ludah, memandang tidak berkedip. Benny juga tidak melepaskan pandangannya dari layar TV, beberapa kali dia mengusap leherku dengan jarinya, membuat putaran di perutku tadi turun seketika ke bawah lagi. Aku menelan ludah lagi. Ini benar-benar di luar perkiraannku. Aku kira dengan membuat Benny menonton BF, dia akan terangsang berat dan Mister Pi akan langsung tegak perkasa, tetapi ternyata ada masalah baru… aku juga jadi terangsang! Dan aku belum tahu bagaimana cara mengantisipasi maupun cara mengatasinya. Aku menggigit bibir. Aku dengarkan detak jantung Benny semakin kencang, seirama dengan detak jantungku. Tangannya yang semula di leherku, tiba-tiba sudah ada di balik bajuku. “Ben….” Aku memanggil namanya serak dan gelisah. Tanganku bolak-balik mengelus rahangnya, lehernya, dadanya. Kakiku makin merapat ke kakinya, mendekatkan pahaku ke pahanya! Bergerak-gerak liar tidak berirama. Aku menengadah dan suamiku memberiku ciuman bibir yang sangat dalam. Kami berdua sudah terhanyut dalam rangsangan. Ciumannya sangat panas, lebih dari biasanya. Lidahnya tidak berhenti mencari dan mencari di rongga mulutku. Sesekali menghisap bibirku dan menggigit perlahan. Aku meleleh dalam pelukannya. Kami berdua sudah tidak memperdulikan lagi film itu. Suamiku bergerak layaknya aktor dalam film tadi. Entah bagaimana, aku larut “Ben!!!” Aku menjerit, menyorongkan pinggulku ke atas dan membenamkan mulutnya ke dadaku. Sensasi rasanya se-terkenal namanya. Aku baru mengenal apa yang disebut orang o*****e. Aku terdiam mengatur nafasku yang tersengal-sengal. Benny tersenyum melihatku. Matanya berbinar, sangat terbaca di roman wajahnya bahwa dia mendapat suatu pencerahan. “Kamu cantik dan seksi sekali, Liana, aku mencintaimu.” Benny membaringkan tubuhnya di sebelahku, memeluk erat tubuhku yang berkeringat, menciumi wajahku berkali-kali. Aku tersenyum, pengalaman klimaksku yang pertama, seakan-akan membuka segel kenikmatan yang selama ini tertutup rapat. Aku tidak pernah mengira, sensasinya sangat luar biasa indah rasanya! Dan aku merasa menjadi rakus untuk mendapatkannya lagi, lagi, dan lagi. Aku melirik ke pangkal Benny, masih tergantung lesu. Apakah aku masih memerlukan Mister Pi lagi kalau ternyata suamiku bisa memuaskanku dengan cara lain? “Ben … kamu ... mau?” Aku ragu bertanya dalam dekapannya. Benny tersenyum lagi. “Nggak, Liana, aku sudah sangat puas melihat kamu mendapatkan hal itu. Aku memang sempat terangsang, tapi itu-ku tetap nggak bisa bangun, maafkan aku, Sayang….” “Oh, Ben … aku mencintaimu….” Aku memeluknya dengan penuh perasaan. Kami tertidur berpelukan , tidak memperdulikan lagi TV yang masih menyala. Terapi untuk Benny gagal—positive thinking—tapi berhasil buatku. *** Minggu-minggu berikutnya, aku seakan-akan kecanduan O besar itu, dan Benny selalu memberiku kepuasan, entah dengan mulutnya ataupun dengan tangannya, tanpa perlu nonton apa-apa lagi. Benny sudah sangat memahami tubuhku, bagian mana yang bisa membuatku “naik” dengan cepat, bagian mana yang justru akan merusak mood-ku. Benny pulang lebih awal dari biasanya hari itu. Wajahnya terlihat riang saat memasuki kamar kami. Di tangannya ada sebuah kotak. Aku sedang mengetik artikel tentang tempat wisata—selama setahun ini aku menjadi reporter freelance tabloid Wisata. Honornya lumayan, bisa aku kirim ke Mama buat uang sekolah adik-adikku. Tanpa mengganti bajunya, dia menghampiriku. Memberiku kecupan di bibir dan pelukan yang erat seperti biasanya. Aku memasang wajah bingung. “Aku punya sesuatu buat kamu, Sayang…” Benny berkata sambil menyodorkan kotak itu kepadaku. “Apaan ini, Ben?” Aku terima pemberian dia. Jangan-jangan perhiasan lagi, pikirku. Setelah kalung bermata amethys ungu dulu, Benny masih sering membelikanku perhiasan mewah. Terakhir dia belikan aku jam tangan yang harganya cukup untuk membayar rumah kontrakan Mama selama dua tahun. “Bukalah … aku beli online…..” Aku buka hati-hati dus panjang itu. Dan ternyata isinya adalah benda transparan warna pink, panjang … hm ... mengingatkanku…. “Apaan nih Ben? Kayaknya aku pernah lihat deh….” Benny tersenyum aneh melihatku. Aku pegang barang itu, meneliti setiap sisinya. Pas aku melihat bagian ujungnya, aku baru ngeh! Itu adalah kejantanan tiruan! Aku melongo ke arah Benny. “Dildo?” tanyaku langsung ke Benny. “Iya, Sayang … itu Dildo…. Pasti kamu suka….” Aku memegang Mister Pink itu dengan dua tangan, memperhatikan lagi detailnya, belum terbayang bagaimana cara pakai dan rasanya. “Aku tunjukkan cara pakainya suatu hari nanti, Sayang…” ujar Benny lagi, wajahnya berseri tampak puas seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru. Sebuah dildo! Aku merasa mendapat Suami kedua. Selamat datang, Sayang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN