“Iya, aku ingat janji itu.” Alista semakin memperdalam sandarannya di pundak Reynal. Kedua matanya perlahan terpejam lantaran beberapa hari belakangan ia kurang tidur. “Eh, jangan tidur sekarang dong.” “Kenapa? Akhir-akhir ini kamu telepon sampai dini hari jam tiga-an. Aku ngantuk tau enggak,” lirih Alista setengah sadar. “Maafin aku. Habisnya aku takut kamu lagi telepon teman Laki-laki kamu. Aku dengar di sekolah kamu dibenci murid perempuan di sana karena banyak murid Cowok yang suka sama kamu. Apa benar, Al? Al? Al, kamu enggak dengar aku? Al?” Reynal menengok ke samping, tepatnya ke wajah Alista yang ternyata sudah terlelap. Untuk sejenak, dia memandangi wajah itu. Jarinya menyentuh kening Alista, kemudian turun ke hidung dan berhenti di bibir. “Cantik.” “Alista? Reynal?” R

