29. Undangan Pesta

2242 Kata
Alista berlari ke halaman belakang sekolah. Hanya di sinilah dia bisa menangis dan mengeluarkan semua rasa sesaknya. Harga dirinya sudah hancur saat ini. Bagaimana bisa Altair yang ia kira baik, ternyata hanya seorang lelaki bersikap rendahan Seperti itu yang tega mempermalukannya di depan umum. Gadis itu berjongkok, punggung rampingnya menyandar di tembok yang sudah terdapat lumut-lumut hijau. Ia tak peduli. Alista menunduk terisak-isak, mengisi keheningan. "Enggak boleh nangis sendirian. Katanya di sini bekas kuburan." Alista memandang ke samping. "Gue nggak butuh bujukan buat berhenti nangis dari lo." katanya lugas. Marsel justru tersenyum membuat Alista merasa tidak bersalah karena sudah berbicara kasar. "Gue nggak menghentikan Lo buat nangis. Lo boleh nangis dan ngeluarin semuanya mumpung bel masuk berbunyi lima menit lagi." Alista mengalihkan pandangan. Isak tangisnya terdengar kembali. Marsel memejamkan mata. Sebagai teman Gadis itu, dia juga marah. Yang bisa dia lakukan adalah datang dan menemani Alista menangis untuk menghindari hal-hal buruk yang akan dilakukan Gadis tersebut. "Nih," Marsel menyerahkan sapu tangan miliknya. "belum dipakai sama sekali." lanjut Marsel meyakinkan. Alista menerimanya. "Dari sekian banyaknya temen gue, kenapa harus lo yang datang, sih?" dia mengusap air matanya menggunakan benda tersebut. Walau sudah diusap, rasa sesak di dadanya tidak hilang. "Berarti lo bisa bedain mana teman yang tulus dan yang enggak." "Alista!" Karisa berlari mendatangi. Ia berjongkok, matanya mengamati seluruh tubuh Alista untuk memastikan. "Lo enggak pa-pa, kan? Maafin gue. Tadi gue enggak bisa menghentikan Mereka. Astaga, Al. Maafin gue," mata Karisa memanas. Hatinya tersentuh melihat Sahabatnya menangis seperti ini. "Gue baik-baik aja. Lo enggak perlu minta maaf, Kar." Karisa melirik ke arah Marsel. Buat apa laki-laki itu di sini. Alista yang mengerti maksud gerakan Karisa pun langsung menunjukkan sapu tangan yang ia pegang. Karisa menatap lama sebelum akhirnya ia mengangguk paham. "Sepertinya tugas gue udah selesai. Gue balik dulu ke kelas." Marsel berdiri, berjalan meninggalkan Mereka berdua. "Kok dia baik banget, sih. Pake ngasih sapu tangan segala." Karisa menatap curiga. "Sejak tiga hari lalu, dia udah sadar, tapi gue masih belum bisa percaya sepenuhnya." "Jangan pernah percaya dia. Kita bicarakan itu nanti. Sekarang gue mau bilang sesuatu yang parah. Banget malah, tapi menurut gue setimpal sama apa yang diperbuat dia." "Kenapa?" Alista jengah dengan kebiasaan Karisa yang kebanyakan basa-basi sebelum membicarakan sesuatu. "Kakak lo berantem sama Altair." "Hah?" **** Teriakan heboh dari mulut Para perempuan menggema ke seluruh ruangan yang tengah menjadi pusat perhatian ini. Tidak ada yang berani melerai. Semuanya bagaikan pengecut. Tapi masalah menyoraki nama orang yang Mereka dukung, Merekalah juaranya. Arsen menarik kuat-kuat kerah seragam Altair. Tangannya mengepal kuat-kuat hingga urat-uratnya kelihatan. Untuk kesekian kali, dia layangkan ke rahang tegas Altair. "Arsen! Ampun. Salah gue apa woy?!" pekik Altair, menyeka darah yang ada di sudut bibirnya. "Salah Lo..." Nafas Arsen terengah-engah. "Berbicara sembarangan tentang dia!" Bugh! Kepalan tangan itu meninju lagi. Altair menoleh ke samping. Wajahnya terasa sakit serta pegal. "BERHENTI!" Pak Siswo, sang guru BK datang sambil membawa sebuah cambuk. Murid yang berkerumun kompak menengok dan memberi jalan untuk Beliau. "Sekali lagi Lo nyebar berita bohong tentang dia, hidup Lo nggak akan tenang." bisik Arsen dengan penuh penekanan. Altair yang menatap ketakutan pun hanya bisa mengangguk-angguk. "Arsen! Ikut saya sekarang!" Alista yang melihat itu langsung menghela nafas lega. Dia jadi tidak perlu repot-repot lagi memisahkan keduanya, tapi tatapan Alista kini teralih mendapati Altair tengah menatapnya. Alista mengalihkan pandangan, enggan balas menatap. Saat Altair melintas di sampingnya, Laki-laki itu berhenti. "Gue minta maaf, Al. Serius gue enggak bermaksud jahat ke lo," ***** Satu bulan kejadian itu berlalu, Semuanya berjalan normal kembali. Bahkan menjadi lebih baik. Rifka meminta maaf atas kesalahannya karena sudah terlalu antusias menyebarkan berita itu. Altair juga. Cowok itu trauma setelah dihajar Arsen habis-habisan. Sementara Rachel, tidak ada yang berubah dari Gadis itu. Masih sama saja. "Jangan lupa dateng, ya!" Murid perempuan berawakan tinggi dengan rambut digerai indah itu menyerahkan sebuah kartu undangan di satu persatu meja adik kelasnya, kemudian melenggang pergi. "Wah, parah! Dia ngundang DJ." kata Rifka takjub. Dia memutar bangku, menghadap Alista dan Karisa. "kita berangkatnya bareng, gimana?" "Boleh, gue tunggu Lo di kafe Bubbles. Kita ngumpul di sana sebelum jam tujuh." usul Alista. "Eum, enggak deh." gumam Karisa. "Loh, kenapa?" tanya Rifka. "Nyokap gue lagi sakit. Jadi gue harus jagain dia. Kalian pergi berempat aja," "Yah, kalau enggak ada Lo, sepi." ucap Kiara. "Enggak sepi, Ra. Itu ada si Rifka. Dia, kan, paling jago bikin suasana enggak garing." "Ye, bisa aja Lo." "Ekhem! Ekhem! Perhatian, guys." Antensi kelas memandang ke arah pintu. Di sana ada Brian dengan gitar yang ia curi dari ruang musik. Semuanya langsung bertanya-tanya. "Itu anak salah masuk apa," desis Alista. "woy, Bri! Ini kelas jurusan IPA." lanjutnya setengah berteriak. "Mungkin dia suka sama anak di kelas ini." bisik Karisa. "apa jangan-jangan dia suruhan Marsel buat nyatain perasaannya ke lo?" Karisa terkikik geli. "Enggak mungkin." "Hah?! MARSEL SUKA SAMA ALISTA?!" tanya Rifka heboh. Seisi kelas menganga terkejut dan saling bergantian menatap teman sebangkunya sekaligus berbisik-bisik. "Weh! Berarti si Marsel ke sini buat nembak dong! Ayo, gaes! Videoin! Videoin!" "Males gue liatnya." "Baru aja gue mau ngegebet dia, eh udah mau sold out aja," "Al! Jangan terima. Mending sama gue aja. Muka gue ganteng, Lo mau apapun, gue kasih!" "Lah, si Jamal. Pede amat Lo," "Semua orang harus PD, bro. Udah diem. Lo masih bocah. Belum ngerti apa-apa," "Kayak lo udah punya KTP. Lo belum punya, kan? Nih! Gue udah punya!" "Enggak nanya." Derap langkah seseorang terdengar masuk ke dalam ruangan itu. Siapa lagi kalau bukan Marsel. Laki-laki tersebut berhasil membuat para murid perempuan terpana. "Jadi gue ke sini buat seseorang." Marsel kini sudah berdiri di depan papan tulis, menghadap semua murid yang ada di sana. "WOOOOO! SIAPA TUH!" "PASTI GUE, KAN! GUE WAKTU ITU DITOLONGIN DIA WAKTU ITU!" "Udah, jangan pede. Paling gue yang dimaksud dia," "Marsel! Pasti gue orang yang Lo maksud, kan?!" Di tengah-tengah murid yang berteriak penuh percaya diri, Rachel berdiri dari duduknya. "Cewek itu gue," katanya membuat semua murid ternganga tidak menduga. Bagaimana bisa Marsel suka dengan Rachel, sementara mereka tidak pernah terlihat berdua apalagi dekat. Rachel maju dan berdiri tepat di depan Marsel. "Minggu lalu, ibu kamu bilang, kamu suka sama aku. Iya, kan?" tanyanya malu-malu. "Weh! Jangan kepedean dulu, Mbak." sergah Brian, melerai dan berdiri di tengah-tengah Mereka. Rachel mendesis. "Punya masalah apa, sih, lo?" "Gue? Enggak punya masalah apa-apa. Gue cuma mau meluruskan kesalahpahaman aja, Mbak!" jawab Brian dengan logat jawanya. Semua murid terkekeh. "Jadi Marsel itu ke sini sebenarnya buat--" "Menggantikan saya untuk menjelaskan materi kimia hari ini." Mampus. Pak Adrian datang dengan buku tebalnya. Mendadak suasana kelas hening. Tidak ada yang berani angkat suara karena Beliau juga termasuk guru killer di sekolah ini. "Brian, Marsel, ada apa gerangan ke sini?" "Anu, Pak itu..." Brian mendadak jadi gagu. "tanya Marsel aja, Pak. Dia yang suruh saya ke sini." lanjutnya lantas ngibrit lari begitu saja melantarkan seisi kelas ini tergelak. Sedangkan Marsel yang dituduh tergemap. Brian sialan. Harga dirinya turun hari ini. "Permisi, Pak. Saya ke kelas ini cuma mau pinjam sapu," jawab Marsel dengan tenang walau wajah Pak Adrian tidak bersahabat. Laki-laki tersebut meraih sapu. "Jangan lupa kembalikan." langsung dibalas anggukan oleh Marsel. Dia melenggang pergi. Pelajaran pun dimulai, namun Alista tidak fokus sebab sedari tadi ia memikirkan tujuan Marsel ke kelas ini untuk apa. *** "Al, tunggu." intruksi Arsen setengah berbisik. Ia memandangi sekitar, untung saja tidak ada siapapun. "Lo?" Alista menengok ke kanan kiri. Aman. Tidak ada satupun temannya yang terlihat. "Apa maksudnya? Marsel suka sama lo? "Eum, iya. Dia... sebenarnya udah bilang itu waktu gue terkunci di kamar mandi, "Jangan." Alista mengadahkan kepala, menatap Arsen dengan tidak mengerti. "Hah?" "Jangan terima dia. Dia bukan cowok baik-baik. Lo masih ingat, kan, sikap dia beberapa tahun belakangan ini?" Alista melenggut. Meski begitu ada keraguan di dalam hatinya. "Gue harus ngelakuin apa biar Lo percaya kalau gue benar-benar tulus minta maaf dan udah berubah?" Marsel berjalan mendekati Mereka berdua. Saat itu juga gigi-gigi Arsen menggeletuk. Memori di mana saat Ibunya dihina oleh Marsel, kini terputar otomatis di benaknya. Arsen masih belum bisa menerima ini. "Jauhin adik gue. Jangan deketin dia lagi." "Gue nggak akan berniat buruk sama dia. Gue murni suka sama adik angkat lo," respons Marsel dengan raut tenang. Keputusan Arsen tidak berubah. Ia tetap bersikukuh. "Al, apa lo percaya kalau gue udah berubah?" "Dia enggak akan bisa percaya permintaan maaf Lo," tekan Arsen, memegang pergelangan lengan Alista. Tanpa berkata apapun dia membawa Adiknya untuk pergi menjauh dari sana. Marsel memandangi punggung Mereka yang kian menjauh. Tangannya terkepal kuat. Kepalan itu akhirnya meninju tembok di dekatnya. "Eh, Bos. Ngapain di sini?" tanya Brian yang kebetulan melintas. Marsel menengok dengan sirat mata yang membuat nyali Brian menciut. "Hal apa yang disukai Cewek?" Brian mengerjap terkejut. Why? Pertanyaan Marsel yang tiba-tiba seperti itu membuat dia terheran-heran. Pasalnya Marsel bukan tipe Cowok yang ribet soal wanita dan ini untuk pertama kalinya Marsel bertanya tentang perempuan. "Ya..., banyak, Bos. Cokelat, boneka beruang. Paling suka, sih, Cowok yang duitnya banyak atau Lo bisa tembak dia di tengah lapangan. Udah pasti jantungnya jedag-jedug enggak karuan tuh terus dia suka sama lo, deh, tapi itu tergantung masing-masing Cewek, sih." "Semudah itu Lo bilang? Alista bukan Cewek gampangan seperti yang sebelum-sebelumnya. Semua cara itu monoton. Apa gak ada cara lain?" tanya Marsel, ia juga mulai ikut berpikir. "Sebentar," Mereka berdua diam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing sampai Brian mengangkat jari telunjuk. Wajahnya bersikap sumringah seakan sebuah lampu menyala muncul di atas kepalanya. "Gue punya ide, Bos!" *** Di saat Rifka, Karisa dan Kiara sibuk membuat sebuah konten video di aplikasi yang digemari remaja zaman sekarang, Alista diam dengan segala pemikirannya yang berkerumun di otak. Melihat wajah Marsel yang tulus itu, membuat dia bimbang. Kasihan juga kalau tidak dimaafkan. Tapi Kakaknya itu berulang kali mengingatkan untuk jauh-jauh dari Marsel. "Al! Ikut kita ngonten, yuk!" Kiara datang dan menarik lengan Alista. Lamunan Gadis itu terbuyar. "Enggak ah." "Ayo buru," desak Kiara. "Enggak mau, Ra." jawab Alista bersikukuh. Bahu Kiara merosot lemas. Dia lantas menyambar tempat duduk milik Rifka yang ada di depan Alista. "Lo mikirin apa, sih? Dari tadi ngelamun mulu. Hati-hati, loh, Al. Di sini banyak penunggunya." kata Kiara. "Gue enggak percaya begituan," "Ya terus Lo mikirin apa?" "Gue mikirin..." "Kamu yang namanya Alista, kan?" Wanita dengan rambut sebahu itu mendadak sudah ada di depan Alista dengan senyum ramah. Tidak diragukan lagi, Gadis itu adalah Kakak kelasnya. "Iya. Kenapa, Kak?" "Dia titip surat ini buat kamu," Gadis bername tag 'Rini' itu menyerahkan sebuah lipatan kertas. Alista menatap kebingungan. Ia memandang Kiara, sebelum akhirnya menerima surat itu. "Permisi," pamit Rini. "Terimakasih, Kak." "Ingat, jangan buka surat itu di depan orang lain, ya. Privat. Surat itu khusus buat kamu dan penulisnya gak mau ada orang yang tau isi surat itu selain kamu." jelas Rini, langsung dibalas anggukan paham oleh Alista. Selang Beberapa detik setelah Rini tidak terlihat lagi, Alista berdiri membuat kepala Kiara mendongak penasaran. "Eh, Lo mau ke mana?" "Gue pamit dulu. Sebentar kok, Ra." setelah itu, Alista berjalan keluar dari kelas itu tanpa mendengarkan jawaban dari Kiara. Alista berhenti di depan lab. IPA yang tengah sepi. Setelah melihat sekitar dan tak mendapati satu orang pun di sana, Alista mulai melihat pesan itu. [Al, ketemu gue di warung depan sekolah pulang nanti. Please. Gue harap lo buka kesempatan buat maafin gue. Setiap orang pernah punya kesalahan di hidupnya, kan? Gue tunggu sampai jam enam sore.] "Jangan datang." suara berat itu mengalihkan perhatian Mira. Gadis dengan tatapan waspada itu menengok ke belakang dan menghela nafas lega usai mendapati Kakaknya lah yang ada di sana. Arsen merebut surat itu dan menyobeknya hingga berkeping-keping. Dengan mudahnya, Laki-laki itu membuang sobekan surat tersebut ke tong sampah. Alista diam melihat tingkah Kakaknya sampai akhirnya berkata, "Apa kita enggak buka satu kesempatan buat dia?" "Gak." singkat Arsen, lantas beranjak melenggang pergi dari sana dan meninggalkan Alista yang tengah diselimuti rasa bingung. Marsel yang melihat perbuatan mereka sedari tadi pun hanya bisa bersembunyi di balik pohon dan menahan diri agar tidak menghajar Arsen. Berani-beraninya Cowok itu membuang surat yang ia buat. Marsel menendang asal botol di dekatnya. "SIAPA YANG LEMPAR BOTOL INI!" Marsel membelalakkan mata. Gawat. Botol yang tadi ia lempar kini mengenai kepala Pak Ikram. Dia langsung berjalan menuju tempat lain dengan langkah biasa saja sebab takut dicurigai. "Bos kenapa?" tanya Brian cengo melihat gerak-gerik Marsel sedari tadi. Dia juga berusaha mati-matian menahan tawanya yang sebentar lagi akan meledak. "Enggak usah banyak tanya. Sekarang Lo bilang ke Pak Ikram kalau Lo yang lempar botol itu," "Idih. Ogah. Gue enggak mau dihukum," "Enggak usah nolak. Mau gue bangkrutin perusahaan Ayah Lo?" Alista geleng-geleng kepala menyaksikan interaksi mereka berdua. Dia jadi tidak yakin kalau Marsel benar-benar sudah berubah. Tidak ingin mendengar keributan dari mereka, Alista berjalan masuk kembali ke kelas. Sisa beberapa langkah lagi, seisi kelas malah berhamburan keluar. Dia menghentikan langkah. Pandangannya teralih pada gerbang di sana. Seketika matanya membulat sempurna melihat Sesil ada di sana bersama dengan Farhan, ayah tirinya. Dia sama sekali tidak tertarik untuk ke sana. Tidak. Alista tak ingin membuka luka lama. Gadis itu melanjutkan langkahnya kembali untuk masuk. Di sana ternyata ada Karisa yang tengah duduk sambil meminum air. "Al, Lo baik-baik aja, kan?" tanya Karisa, memperhatikan wajah Alista dari samping yang terlihat kecewa. Alista menoleh, "Baik. Kenapa tiba-tiba nanya gitu ke gue? Gue enggak apa-apa kok." katanya lantas menyunggingkan senyum. "Ada Ayah sama adik Lo yang datang ke sekolah ini. Adik Lo mau pindah sekolah di sini?" "Enggak tau, Kar. Kan, gue bukan siapa-siapanya mereka. Lagian juga Mereka nggak pernah cerita apapun ke gue,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN