Nada mengernyitkan dahinya. "Lo mau jadi pacar Lolla? Apa lo gila?" Sakka mengedikkan bahunya. "Yah, gue emang gila karena suka sama cewek bawel dan aneh kayak Lolla. Tapi, siapa yang peduli? Love is love." Jantung Lolla terasa loncat-loncat sejak Sakka bilang ingin menjadi pacar Lolla. Dan sekarang, Sakka dengan jujur mengakui kalau dirinya gila karena hal itu. "Ka, lo mungkin salah paham." Sakka bertopang dagu, memandang Lolla. "Salah paham? Maksud lo apa?" "Lo bukan suka sama gue. Mungkin, lo cuma kasihan atau ... ngerasa kita senasib." Sakka mengerutkan alisnya. "Gue nggak b**o, Lolla. Gue bisa bedain, mana suka dan mana kasihan. Dan gue ... suka sama lo." "Ini terlalu cepat, Ka. Dan g

