Lolla tertawa. "Nada? Pengkhianat?" "Kenapa lo ketawa?" Sakka sudah bicara seserius mungkin, dan malah Lolla tertawakan. "Lucu aja. Ka, dia itu satu-satunya orang yang tetap tinggal di saat semua orang jauhin gue..." Sakka mengangguk. "Lo dulu belom kenal gue, sih." "Lo kali yang sering cabut dan nggak pernah merhatiin gue." Lolla mendengus dan melipat tangannya. "Gue merhatiin lo. Buktinya, gue bikin julukan 'Tuan Putri' buat lo." Sakka ikut melipat tangannya. Menirukan Lolla. Pipi Lolla mulai merona, ia membuang pandangannya, dan berlagak tidak percaya. "Lo pasti bohong. Mana mungkin lo merhatiin cewek penyakitan kayak gue?" "Gue nggak pernah menganggap lo penyakitan."

