XXV. Gara-gara

1546 Kata

Jakarta, 2021. Langkah kaki Grizella terhenti begitu dirinya berbelok menuju ke koridor anak kelas XI. Alasannya adalah anak baru yang kini melipat kedua tangannya dengan begitu angkuh di depan Grizella. Tidak hanya Fania, tapi juga ada Marsha. “Kemarin Raka, terus Marva, sekarang Juna?” tanya Marsha dengan nada yang jelas mengejeknya. Grizella ikut melipat tangannya, menatap dua gadis di depannya dengan tidak kalah mengejek. “Gue cantik dong ya, banyak yang suka soalnya.” “Nggak ngerasa jadi perebut lo?” Grizella memicingkan matanya. “Gue?” Dia menunjuk dirinya sendiri. “Kalau ngerebut berarti ngambil, ‘kan? Kalau ngambil berarti tangan gue berusaha buat pegang. Tapi....” Grizella mencondongkan badannya. “Gue nggak lakuin itu, mereka datang sendiri,” bisik Grizella. Senyum pua

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN