"Bagaimana? Beres?" "Iya, Pak. Sepertinya dia tidak akan berani lagi." Suara di seberang menyahut dengan percaya diri. "Bagus. Tetap pantau dia selama sebulan ini, aku hanya ingin memastikan dia tidak mengganggu anakku lagi." "Iya, Pak. Kami akan terus pantau Irwan. Saya pastikan, anak Bapak tidak akan tersentuh oleh tangan lelaki tersebut." "Pastikan itu!" Lelaki yang menelepon meminta kepastian. "Siap Pak, dia–" "Siapa Mas? Wajahnya serius sekali?" Khanza mendekat. Bintang segera mematikan sambungan telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. "Bukan apa-apa. Cuma Boy," jawab Bintang melebarkan kedua sudut bibirnya, berbalik arah menatap istrinya penuh cinta. Nama yang disebut Bintang membuat kening Khanza mengkerut. "Tugas apa yang mau Mas berikan? Bukan sesuatu ya

