Anne tidak menyesali apa pun yang akan terjadi pada dirinya. Entah besok, atau mungkin malam nanti. Ketika Bryan dan Kevin pulang. Justru, ia ingin kembali disentuh oleh keduanya sekaligus. Dirinya tidak bisa menampik, bahwa ia sebenarnya sangat menginginkan hubungan seks. Ini terdengar gila. Namun, sejak usia remaja, ia kerap membayangkan melakukan hubungan intim dengan pria. Tentu saja dengan pria tampan, yang memanjakannya di atas ranjang. Tapi, lelaki mana yang akan tertarik padanya. Dulu, ia dididik begitu keras. Anne harus rajin belajar, agar kelak kehidupan mereka membaik.
Mereka lupa, di era sekarang, mendapatkan pekerjaan itu sangatlah sulit. Pintar dan berpendidikan tinggi tidaklah cukup. Kita juga harus memiliki tingkat keberuntungan yang tinggi. Penggangguran dan kemiskinan. Itulah yang sempat melekat pada Anne. Ia tidak menyangka, kalau memiliki saudara jauh yang kaya raya. Biar pun begitu, ia sangat merindukan kembali ke rumah. Menghabiskan malam bersama kedua orang tuanya di teras.
Suara jam dinding terdengar sembilan kali. Ini sudah jam sembilan malam. Baik Bryan maupun Kevin, keduanya belum kembali. Anne merasa bosan. Wanita itu melangkah menuruni anak tangga. Kaki mungilnya telanjang menapaki lantai kayu, menuju sebuah ruangan kecil berisi rak-rak buku. Ruangan itu cukup nyaman, ditambah banyak sofa-sofa empuk, dan tempat tidur kecil dengan bantal-bantal di atasnya.
Anne membaringkan tubuhnya di atas sofa. Terasa sangat nyaman bisa ada di sini. Bahkan, ia ingin menjadikan ruangan ini menjadi kamarnya. Kecil, sederhana, dan menyenangkan. Mengingatkannya kembali pada rumahnya dahulu. Kamar yang diberikan Bryan dan Kevin terlalu besar. Andai saja, sebelum Mama dan Papanya meninggal, Anne bisa membelikan rumah yang layak. Wanita itu tersenyum lirih. Hatinya tergores semakin dalam.
"Anne! Ann!" Terdengar suara Bryan memanggil-manggil. Anne buru-buru menunjukkan dirinya.
"Aku di sini, Bry!"
Pria itu berhenti, menoleh ke sumber suara."Ah, kau di sana. Aku mencari di kamar."
Anne tersenyum. Ia mendekat pada Bryan."Sudah lama? Maaf, aku bosan. Jadi, mencari kesibukan. Itu perpustakaan?"
"Ya, punya Kevin."
Anne terkejut. Ternyata pria pendiam itu suka membaca."Sebanyak itu?"
"Dia mengoleksinya sejak kecil. Jadi, sebanyak itu." Bryan tersenyum. Kemudian, memerhatikan penampilan Anne. Gadis itu tampak cantik memakai gaun berbahan katun dengan motif bunga-bunga.
"Ada apa?" Anne merasa dirinya diperhatikan begitu intens.
"Cantik sekali." Bryan memeluk Anne.
"Terima kasih. Di mana Kevin?"
"Masih di kantor. Mungkin, tidak pulang. Apa kau menunggunya?" Bryan memberikan tatapan menggoda.
Wajah Anne merona."Ah, tidak. Hanya saja, aku ingat kalau dia masih sakit."
"Ya, katanya, ia akan segera ke dokter." Bryan memeluk pundak Anne."Ayo kita ke kamar. Ini sudah malam, kenapa belum tidur?"
"Ah, aku belum ingin tidur, Bry." Anne mencium aroma tubuh Bryan. Miliknya langsung bergetar.
"Bagaimana di rumah hari ini?"
Bryan menutup pintu kamar, ketika keduanya sudah di dalam. Anne baru menyadari kalau ini adalah kamar Bryan.
"Ya, aku baik. Hanya saja, aku belum menemukan cara untuk mengatasi kebosanan." Anne tersenyum tipis.
"Nanti, kau akan temukan, Ann." Bryan berdiri di hadapan Anne, merapikan rambut gadis itu. Kemudian meraih dagu, dan mengecup bibir gadis itu. Mata Anne terpejam. Suasana menjadi hening dalam hitungan detik.
Bryan melumat bibir Anne, dan langsung mendapatkan balasan dari gadis itu. Dalam hitungan detik, lumatan mereka semakin menuntut, namun, masih tetap tenang. Bryan menurunkan tali gaun Anne. Kemudian meloloskannya. Pria itu baru menyadari bahwa Anne tidak memakai bra. Seakan wanita itu memang sudah mempersiapkan diri saja.
Anne merapatkan pahanya, ketika bibir Bryan menelusuri bagian dadanya. Pria itu menggendong Anne ke tempat tidur. Lalu, dengan leluasa mencumbu. Anne meraih wajah Bryan, mencium lelaki itu dengan menuntut. Tentu malam ini Bryan mendapatkan kejutan. Anne cukup aktif di ranjang kali ini. Semoga saja ia tidak gagal memasuki Anne. Bukankah, Kevin sudah meniduri Anne. Tentu saja, ia tidak akan gagal.
Anne meremas rambut Bryan. Pria itu menciumi leher, d**a, serta bagian perutnya. Ini sungguh gila. Anne tidak bisa menahan diri. Desahannya memecahkan keheningan malam.
"Bee..." Anne bersuara.
"Yes, honey?" Bryan membalas mesra.
"Apa...kau bisa melakukannya sekarang?"tanya Anne tercekat.
"Kau sudah menginginkannya?"
Anne mengangguk cepat."Ya. Lakukanlah."
Bryan mengangguk, kemudian mengarahkan miliknya pada Anne. Anne memejamkan mata, merasakan miliknya ditusuk-tusuk oleh benda tumpul. Namun, sayangnya, Bryan belum berhasil melakukannya. Pria itu terus berusaha, tetapi, tidak kunjung berhasil. Sampai akhirnya, ia sudah berada di puncak kenikmatan.
"Ah, sial, Kevin belum melakukannya,"sungut Bryan dalam hati. Ia harus kembali dipermalukan oleh kenyataan. Bahwa ia selalu saja ejakulasi dini. Bryan menatap wanita di bawahnya, lalu, tersenyum malu."Maaf..."
Anne tersenyum kecewa."Its Okay, Bee. Kita bisa melakukannya lain kali." Anne tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya pusing bagaimana dirinta bisa terbebas dari hasrat yang terus-terusan membelenggunya.
✨✨✨