Tempat tinggal Baru Anne

1181 Kata
Matahari mulai terlihat, pesawat yang mereka tumpangi segera mendarat. Bryan membangunkan Anne dengan mengusap bibir dan pipi wanita itu."Anne..." Mata Anne terbuka,dan saat itu juga mata mereka saling bertemu hingga menciptakan semburat merah di wajahnya. Wanita itu cepat-cepat menyingkir dari lengan Bryan."Maaf..." "Tidak apa-apa. Bangunlah, karena kita sudah hampir mendarat." Anne merapikan rambutnya."Iya...." Mereka bertiga berjalan beriringan keluar bandara. Di sana sudah ada limosin yang menunggu dan siap membawa mereka ke tempat tujuan akhir. "Ayo masuk,"kata Bryan. Anne melirik Kevin yang sekarang memakai kaca mata hitam, berdiri saja dengan wajah yang dingin."Kalian saja duluan masuk." "Masuklah!"Kevin bersuara. Anne menelan ludahnya."Ba...baik." "Kevin...kau yakin tidak pulang saja dulu?"tanya Bryan saat Anne sudah masuk ke dalam Limosin. "Ya. Aku harus menemui Paman Sebastian sekarang juga. Aku sedang menunggu mobilku datang. Kalian pulang saja,Bryan. Urus Anne dengan baik,"kata Kevin sambil melirik jam tangannya. "Baik, semoga urusanmu segera selesai." Bryan masuk ke dalam Limosinnya. "Kevin tidak ikut bersama kita?"tanya Anne saat ia merasakan mobil sudah berjalan meninggalkan bandara. "Iya. Dia pria yang sangat sibuk. Kita pulang saja duluan." Bryan tersenyum penuh arti. Kemudian ia duduk dengan nyaman sambil memeluk pundak Anne."Kau...punya kekasih selama di sana?" "Ah...kekasih? Tidak." "Oh, baiklah." "Ada apa?" "Tidak, hanya saja aku memikirkan bahwa kekasihmu pasti sedih saat kautinggalkan dengan jarak yang cukup jauh." "Aku tidak pernah memiliki kekasih." Anne tertunduk malu. "Itu bagus..." "Bukankah itu menyedihkan?"tanya Anne. "Tidak, tentu saja tidak. Kau bisa mendapatkannya nanti. Atau...aku akan menjadi kekasihmu saja." Bryan tertawa. Anne pun ikut tertawa mendengar ucapan Bryan. Kehadiran pria itu mampu membuatnya tidak begitu menghabiskan waktu untuk berduka. Sepanjang jalan, pria itu menceritakan banyak hal, seolah-olah mereka adalah teman yang sudah cukup lama bersama. "Ini rumahku dan Kevin sekarang,"kata Bryan saat mereka sudah tiba. "Sudah sampai?" Bryan mengangguk. "Syukurlah sudah tiba." Anne bernapas lega. "Kita sudah sampai, mari turun, Tuan Puteri,"kata Bryan sambil menggenggam jemari Anne. Anne merasa tersanjung dengan perlakuan Bryan padanya."Terima kasih, Bryan." Mereka memasuki rumah besar dengan perabot mahal. Tak lupa lukisan-lukisan tua, furniture unik dan langka, juga desainnya yang sangat klasik. Bryan membawa Anne naik ke lantai dua. Di sana ada sederetan pintu-pintu cokelat dengan ukiran kuno. "Yang ini kamarku....dan kamarmu yang ada di sana,"tunjuknya. Anne melihat ke arah kamar yang dimaksud Bryan."Itu...." "Bukan, di sebelahnya. Yang kau tunjuk adalah kamar Kevin." Anne cukup terkejut karena kamarnya bersebelahan dengan kamar pria dingin itu."Baiklah, Bryan." Bryan membukakan pintu kamar Anne, tentunya kamar yang cukup luas dan nyaman untuk ditempati seorang wanita seusia Anne."Ini kamarmu...,jika kau kurang suka dengan desainnya. Kita bisa ganti nanti." "Terima kasih." Anne duduk di sisi tempat tidur sambil memerhatikan sekeliling kamar. "Ini barang-barangmu. Oh ya...sebaiknya kita istirahat. Kau lapar?" Anne menggeleng."Tidak. Aku sangat mengantuk." Bryan tertawa seraya mengusap puncak kepala Anne."Istirahatlah, selamat istirahat. Jika kau butuh, ketuk saja pintu kamarku." "Baiklah." Anne segera menutup pintu setelah Bryan keluar. Wanita itu melepaskan semua pakaiannya, menyisakan celana dalam dan bra, lalu tertidur. ? Kevin baru saja pulang usai bernegosiasi panjang dengan Sebastian, salah satu teman orangtua mereka. Ia melangkah cepat dan berpapasan dengan Bryan. "Dimana Anne?" "Ada di kamar, sebelah kamarmu,"jawab Bryan santai. Kemudian pria itu turun ke lantai satu. Mata Kevin tertuju pada kamar Anne, ia melangkah dengan pelan. Memegang handle pintu, mencoba membukanya. Ternyata pintunya memang tidak dikunci. Ia melangkah masuk, bibirnya melengkung saat melihat Anne tertidur dengan pulas hanya mengenakan bra dan celana dalam. Cukup lama ia memerhatikan gadis itu, hingga Anne terbangun. Anne langsung bangkit saat menyadari ada orang yang tengah mengawasinya. "A...apa yang kau lakukan di sini, Kevin?" "Aku hanya memastikan kau baik-baik saja, An. Kebetulan kamar kita bersebelahan,"jawab Kevin santai. "Terima kasih,"kata Anne malu sambil menutupi bagian tubuhnya yang terbuka. "Tidak usah ditutup, aku sudah melihatnya tadi. Ukuran dan bentuk yang sempurna." Kevin segera keluar dari kamar Anne setelah mengatakan hal tersebut. Wajah Anne terasa panas mendengarkan ucapan Kevin. Sungguh ia tidak akan menyangka Kevin akan masuk ke dalam kamarnya. Ia pikir, pria itu tak akan peduli. Perut Anne terasa lapar, ia segera bersiap-siap untuk mencari Bryan. Ya, lebih baik ia mencari Bryan dan memberi tahu ia sedang lapar. Kevin berdehem saat melihat Anne berjalan pelan dan menoleh ke sana ke mari. Wanita itu tampak kaget. "Cari siapa, An?" "Di...dimana Bryan?"tanyanya takut. "Aku di sini, Anne, ada apa?" Bryan muncul dengan membawa segelas air mineral. Anne menoleh ke arah Kevin sekilas, lalu menghampiri Bryan."A...aku lapar." "Kami juga lapar, kau bisa masak?"tanya Bryan. Anne menggeleng malu. Maksudnya, ia bisa masak tapi sungguh tidak percaya diri jika dua pria itu makan masakannya. Bisa saja rasanya akan aneh. Kevin tertawa."Baiklah, aku akan masak untuk kalian berdua." Anne menatap Kevin dengan heran."Apa tidak apa-apa Kevin memasak untuk kita?" Bryan menggeleng."Tidak apa-apa. Kemampuannya ya...lumayanlah." "Kita harus membantu Kevin, Bryan,"kata Anne. "Oke." Pria itu menarik tangan Anne menuju dapur. Kevin melirik kedua orang yang baru saja tiba di dapur. Pria ity tersenyum sambil menggulung lengan kemejanya. "Apa tidak sebaiknya kamu ganti pakaian dulu?"tanya Anne pelan. Kevin melirik tajam ke arah Anne yang kini menunduk."Tidak perlu." Pria itu memakai celemeknya. "Ah, baiklah..." Anne menoleh ke arah Bryan yang justru duduk di kursi makan. Pria itu memang payah, bukankah tadi mereka sepakat untuk membantu Kevin. "Ann!"panggil Kevin. "Ya, Vin?" "Duduk saja di sana. Aku saja yang memasak,"ucapnya sambil membuka lemari pendingin. "Baiklah." Karena tidak bisa berbuat apa-apa, Anne menuruti permintaan Kevin. Ia bergabung bersama Bryan, selayaknya dua anak kecil yang sedang menunggu Papa atau Mama memasakkan makanan kesukaan mereka. Usai makan malam, Kevin langsung pergi untuk menyelesaikan beberapa urusan. Tapi, sayangnya pria itu tidak mengatakan akan pergi kemana. Tinggallah Anne dan Bryan yang masih duduk di meja makan. "Kevin itu orang yang sibuk, ya?" "Lumayan, bahkan...bisa dikatakan hidupku sangat bergantung padanya,"jawab Bryan diiringi senyuman tipis. "Oh, ya? Kenapa bisa begitu?" "Kevin itu orang yang sangat mandiri, sementara aku...anak yang manja. Secak kecil Kevin memang ditekankan untuk bisa meneruskan Perusahaan. Sementara aku, si Anak bungsu yang manja." Bryan tertawa lirih. "Nanti kamu juga akan seperti Kevin,kan? Semua ada waktunya,"kata Anne menghibur Bryan. Bryan mengangguk-angguk,"ya begitulah...kamu istirahat aja, Anne. Ayo, kuantar ke kamar,"kata Bryan. Anne mengangguk. Bryan ikut masuk ke dalam kamar Anne untuk memastikan wanita itu tidak kekurangan sesuatu apa pun. "Oke. Semuanya sudah aman,"ucap Bryan puas, kemudian ia mengernyit melihat Anne berdiri kebingungan. "Kau butuh sesuatu, Anne?" Anne duduk di sisi tempat tidur."Ya. Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal padamu mengenai rumah ini. Maksudku...mulai besok aku akan beraktivitas. Apa yang akan kulakukan di sini selama kalian pergi atau bekerja?" "Jika kau tidak keberatan, kau di rumah saja...membantu kami menyiapkan sarapan. Maksudku, bukan kami ingin menjadikanmu asisten rumah tangga. Hanya saja kami tidak ingin membuatmu terlalu sibuk dan lelah. Tapi, jika suatu saat nanti kau menemukan pekerjaan yang kau inginkan, tentu saja kau boleh bekerja." ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN