Tangannya menarik Gladys hingga dia berada di bawah. Hujaman demi hujaman terus Zeo lakukan. Mereka seperti tanah gersang yang tersiram air hujan. Saling bergayut dan bertautan, tak ada malu di antara mereka. Semuanya kini sudah sama-sama polos dan saling menikmati. Sekali-kali Zeo mengerang begitu juga dengan Gladys. "Eag." Seolah sedang diuji keimanannya mereka berdua berhenti dalam gejolak gaya yang sedang membara. "Gladys." Zeo mencoba menahan tangan istrinya. "Kau sungguh akan meninggalkanku dalam keadaan seperti ini?!" "Anak kita menangis, aku tak tega membiarkannya begitu saja. Tenang, Tuan, saya bisa memulainya dari awal." "Tapi semuanya tidak akan sama, jangan biarkan aku dalam keadaan seperti ini, aku membutuhkanmu." "Anak kita juga membutuhkan saya, Tuan." Gladys dengan k

