Semua yang ada di sana sangat kaget. Semua pandangan tertuju pada Risty. Tatapan itu seolah-olah mengatakan bahwa mereka percaya pada Nindy. “Ck…jangan berhalusinasi. Isteriku tidak seperti itu.” Rion menghampiri Risty, lalu mengusap puncak kepalanya. “Tapi, tadi mereka mesra sekali! Aku enggak terima!” “Stop!”kata Rion. “Nindy, ini sudah malam. Mama sama Papa sangat capek, jangan bikin ribut,”kata Mama. “Tapi, Ma...” Nindy mengepalkan kedua tangannya. Rion menggenggam tangan Risty.”Kita mau pergi besok, sayang. Jangan pikirkan ucapan-ucapan sampah itu. Aku percaya kamu.” “Aku enggak bicara sampah!”teriak Nindy. “Kamu ini kenapa, Nindy?”tanya Mama kesal. Menantunya itu seperti sedang mencari-cari masalah. “Tadi aku lihat mereka sangat mesra di dapur. Bahkan…bersentuhan.” Nindy ta

