40. Pencarian

1752 Kata
Tok~ Tok~ Tok! Sebuah ketukan terdengar, jantung Asia semakin berdetak lebih cepat. Dengan tangannya yang gemetaran Asia menutup mulutnya. Dia tidak boleh mengeluarkan suara sedikitpun saat ini. “Buka pintunya.” Suara berat itu terdengar dan Asia semakin menutup mulutnya. “Seperti biasa, tidak ada siapa-siapa,” ucap Lancelot. “Selamat menikmati perjalanan pulang Anda.” Pintu kembali tertutup dan kereta kudapun kembali berjalan. Asia mendesah lega karena akhirnya dia lolos dari penjaga gerbang. “Asia, sekarang kamu bisa keluar.” Perlahan Asia mendorong bagian atasnya yang membuatnya langsung berhadapan dengan Lancelot. Lancelot mengulurkan tangannya agar Asia bisa keluar dengan mudah dari bawah tempat duduk itu. Asia menerima uluran tangan itu dan bangun dari sana. “Terima kasih.” Asia menutup kembali tempat duduk itu dan duduk di sana. Dia masih terlihat panik karena situasi tadi. “Sudah tidak ada apa-apa, kamu akan aman.” “Terima kasih, jika tidak ada Sir Lancelot dan Debora, aku pasti sudah terkurung di tempat itu.” “Sekarang aku akan mengantarmu menuju penginapan yang cukup jauh dari tempat ini. Besok pagi-pagi buta akan ada kereta yang akan menjemputmu untuk pergi ke kerajaan Ascella. Kereta yang akan pergi ke kerajaan Ascella biasanya berombongan, jadi kamu tidak perlu khawatir.” Di saat kepercayaannya dimainkan oleh Eugene yang membuatnya ragu akan orang-orang di dunia ini. Asia akhirnya sadar lagi jika di dunia ini masih ada orang baik. “Terima kasih, sekali lagi terima kasih atas semuanya.” “Ya.” Setelah melewati jalan yang di sisi jalannya ditumbuhi pepohonan, kereta kuda itu akhirnya memasuki jalan pemukiman. Asia tidak tahu ini jam berapa, tapi keadaan jalanan benar-benar sepi yang dia lihat dari jendela kereta kuda. Tok~ Tok~ Tok~ Sebuah ketukan di kaca belakang tempat Asia duduk membuat Asia menoleh. Hanya tiga kali ketukan dan Asia tidak mengerti itu tandanya apa. “Apa maksudnya itu?” tanya Asia. “Ada yang mengikuti kita dari arah rumah bõrdil.” Tubuh Asia sontak menegang. “Aku rasa mereka sudah sadar dengan kepergianmu,” sambung Lancelot. “Apa kita tidak bisa pergi lebih jauh? Bagaimana ini?” Asia benar-benar panik, tidak mungkin bukan pelariannya hanya sampai di sini. “Satu-satunya cara adalah menurunkanmu di pertokoan. Kamu harus masuk gang-gang dan saat pagi datang, kamu bisa langsung bertanya pada orang-orang tentang rombongan kereta yang akan pergi ke kerajaan Ascella.” Rencana ini jelas berbahaya, turun di tempat yang Asia sendiri tidak tahu. Apa ini berarti dia tidak bisa pergi ke penginapan? Tapi jika dipikirkan lagi, penginapan pasti akan lebih berbahaya. Asia mengangguk cepat, dia bersedia untuk segera turun dari kereta kuda Lancelot. “Pacu keretanya lebih cepat lagi dan berhenti di pertokoan!” seru Lancelot agar terdengar oleh kusirnya. Kereta kuda Lancelot kemudian semakin bergerak cepat. Kedua tangan Asia menggenggam dengan erat pinggiran tempat duduknya hingga buku-buku jarinya memutih. Dia takut jika dirinya akan dijebloskan ke dalam rumah bõrdil. “Siap-siap keluar Asia,” ucap Lancelot. Tangan Lancelot sudah berada tepat di gagang pintu kereta kuda. Asia mengangguk, dia sedikit menaikkan roknya agar dia bisa langsung loncat dari kereta kuda. Kereta kuda itu kemudian berhenti dan Lancelot dengan cepat membuka pintu. Tanpa berpamitan Asia lansung loncat dan berlari masuk ke dalam gang. Di tengah lariannya itu Asia menoleh ke belakang dan melihat kereta kuda Lancelot langsung pergi. Di ujung gang terdapat sebuah gentong besar dan Asia bersembunyi dibalik gentong itu. Asia menutup mulutnya untuk meredam suara terengah-engahnya. Di tengah suasana yang sepi ini tak berapa lama kemudian Asia mendengar suara langkah kuda yang sangat cepat melewatinya. Tubuh Asia menegang mendengar langkah kuda itu. Asia yakin jika itu adalah kereta kuda yang mengejarnya. Setelah beberapa saat berlalu Asia akhirnya bisa bernapas lega. Asia meluruskan kedua kakinya yang dia tekuk. Sepertinya malam ini dia harus bermalam di tempat ini. Di tempat yang asing dan dingin. * * * “Sialan!” Gemertak rahang Eugene terdengar. Tangannya terkepal dengan sangat kuat. Dia tidak duduk diam seperti ini. “Cedric! Apa kamu tidak bisa lebih cepat dari ini sialan!” teriak Eugene kencang. “Dari awal kita memang sudah tertinggal jauh dan dia terus-terusan berbelok di setiap gang!” balas Cedric yang sekarang menjadi kusir Eugene. “Berhentikan kereta kudanya!” teriak Eugene keras. Cedric dengan cepat memberhentikan laju kereta kudanya. Eugene yang langsung keluar dari dalam kereta kuda dengan cepat memotong tali penyambung kuda dengan kereta. Kuda itu pun Eugene tunggangi dan gunakan untuk mengejar kereta kuda yang membawa Asia.   Ini seharusnya yang Eugene lakukan dari tadi, mengambil kuda dari kereta yang ditumpanginya ini lalu mengejar kereta kuda yang membawa Asia. Eugene yakin seratus persen jika Asia ada di kereta kuda itu. Kemampuan berkuda yang sangat baik membuat Eugene dapat menemukan kereta kuda incarannya itu. Melihat kereta itu Eugene semakin cepat memacu kudanya. Saat dia akhirnya berhasil berada di samping kereta kuda itu, tanpa ragu Eugene memukul pintu kereta kuda itu. “Hentikan kereta kuda ini atau aku tidak akan segan-segan melukai kalian!” teriak Eugene. Wajahnya terlihat penuh amarah, dia terlihat seperti seseorang yang berniat untuk membunuh. Kereta kuda itu pun berhenti yang diikuti oleh Eugene. Eugene turun dari atas kudanya, begitu juga dengan pintu kereta kuda yang terbuka dan memperlihatkan Lancelot yang masih menggunakan topengnya. “Sir, tidakkah ini perbuatan yang tidak menyenangkan karena Sir tiba-tiba menghentikan perjalananku?” Tidak ada rasa takut dari Lancelot saat bertatapan langsung dengan Eugene. “Kamu membawa seseorang yang seharusnya tidak kamu bawa,” desis Eugene penuh amarah. “Aku membawa apa? Aku bahkan tidak mencuri apa-apa hari ini,” balas Lancelot santai. “Menjauh!” Eugene mendorong tubuh Lancelot agar menjauh dari pintu kereta kuda. Setelah itu tanpa permisi Eugene membuka pintu kereta kuda itu dan tidak menemukan Asia di sana. “Tidak ada bukan?” tanya Lancelot. “Bukankah sudah kukatakan jika aku tidak mencuri sesuatu hari ini?” Eugene teringat ruang penyimpanan yang ada di bawah tempat duduk. Dia kemudian membuka ruang penyimpanan di kedua tempat duduk itu dan tidak menemukan apa-apa di sana. “Tidak ada apa-apa, apakah sekarang Sir percaya?” Eugene menjauh dan berjalan mendekati kusir. “Buka bagian penyimpanannya!” teriak Eugene. Kusir itu pun berdiri dan memperlihatkan bagian dari penyimpanan yang ada di tempat duduknya. Di sana hanya ada peralatan untuk kereta kuda. Asia tidak ada di kereta kuda ini, lalu Asia pergi ke mana? Eugene kembali mendekati pria dan langsung menarik kerah bajunya. Si kusir kuda yang melihat itu tentu panik saat tuannya akan dilukai. “Sir jangan lancang dengan seorang Baron!” seru si kusir. “Alan, diam,” tegur Lancelot. Dia tidak butuh bantuan untuk menangani pria suruhan dari rumah bõrdil. Pegangan pada kerah baju Lancelot semakin menguat. “Akh!” Lancelot meringis kesakitan. “Bangsawan rendahan sepertimu jangan pernah main-main denganku!” ancam Eugene. Sebelah tangannya kemudian menarik topeng yang dikenakan oleh pria asing di depannya ini. “Jika sampai aku tahu kamu terlibat dengan kaburnya orang yang sedangku cari, aku tidak akan segan-segan membunuhmu!” “Aku hanya pelanggan tetap dan gadis yang kusukai bahkan masih berada di rumah bõrdil, bagaimana bisa aku menyembunyikan gadis lain?” Lancelot tersenyum mengejek. “Pria yang datang ke rumah bõrdil ucapannya tidak lebih sebuah bualan!” Setelah mengatakan itu Eugene melempar tubuh Lancelot dan pergi dari sana. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Eugene memacu kudanya dengan sangat hati-hati. Dia tidak boleh kehilangan fokus untuk mencari Asia di sekitaran jalan yang saat ini dia lewati dan selain itu, orang-orang lainnya juga sudah Eugene kerahkan untuk mencari Asia di sekitar rumah bõrdil Marigold. Mereka pasti menemukan petunjuk akan kepergian Asia. Malam yang sudah larut membuat jalanan kawasan perbelanjaan begitu sepi. Jika Asia benar-benar kabur, pastinya Asia tidak akan bisa berlari sejauh itu. Eugene yakin jika Asia masih tidak jauh dari area rumah bõrdil Marigold. Dari malam yang gelap dan sepi hingga pukul empat dini hari, Eugene tidak menemukan jejak Asia sama sekali. Wajahnya terlihat sangat kusut. Tidak hanya itu, Eugene yang awalnya datang ke rumah bõrdil Marigold dengan setelan yang rapi pun sekarang terlihat sangat berantakan. Eugene menghentikan laju kudanya. Dia turun dari atas kudanya dan melangkah dengan lebar menuju bagian utama dari rumah bõrdil Marigold yang menjadi area pribadi Marigold. Tok! Tok! Tok! Ketukan keras yang Eugene layangkan ke pintu yang besar itu. Pintu besar itu pun terbuka dan menampilkan sosok yang memang Eugene cari. “Eug.…” Tangan besar Eugene langsung mencengkram leher Marigold. “Aku akan membunuhmu jika Asia sampai tidak ditemukan!” raung Eugene penuh amarah. “Apa aku kurang baik padamu hingga kamu melakukan ini padaku ah?!” “Akh…. Eug… ene….” Marigold berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkraman Eugene yang ada di lehernya. Kuku panjangnya bahkan sampai melukai tangan Eugene. “Bagaimana rasanya berusaha untuk hidup?” desis Eugene. Marigold sudah tidak kuat lagi, kedua tangannya pun terkulai lemas. Saat melihat Marigold sudah lelah dan hampir tak sadarkan diri seperti itu, barulah Eugene melepaskan cengkramannya. “Haaah… haaah… haaaaah…..” Sambil memegangi lehernya Marigold mengambil napas sebanyak-banyaknya. Air matanya yang sedari tadi menumpuk di pelupuk matanya akhirnya jatuh. “Jika aku tidak menahan diri kemarin, hal ini pasti tidak akan terjadi.” “A-Asia… dia haaaah… pasti akan ditemukan.” Marigold mengambil jeda, dia menghirup napas sebanyak-banyaknya lalu kembali berucap dengan lirih, “Aku juga tengah mengintrograsi semua anak-anak.” Eugene berjalan mendekati Marigold, dia kemudian menunduk dan menjepit rahang Marigold. “Kepercayaanku sudah kamu rusak kali ini. Aku harap kamu berhasil menemukan Asia dan mengembalikannya padaku.” Tujuan Eugene memang hanya memberikan Marigold pelajaran agar Marigold tidak menganggap remeh tentang hilangnya Asia. Untuk meminimalisir perginya Asia dari pusat kota, Eugene sudah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk berjaga di setiap pintu keluar. Pusat kerajaan tentu tidak sekecil itu, Eugene tahu itu. Tapi akan lebih mudah ditemukan jika pergerakan Asia hanya sampai di pusat kerajaan. Di alun-alun Eugene dihentikan oleh Felipe salah seorang orang kepercayaannya. “Aku sudah memeriksa semua rumah bõrdil dan dan tempat perdagangan b***k, tidak ada ciri-ciri gadis yang kamu sebutkan.” “Lalu di mana Arquimedes?” “Aku melihat pasukan yang dikerahkan Arquimedes masih terus mencari di setiap penginapan.” “Penginapan di tempat ini sangat banyak Eugene, sedangkan anggota kita tidak sebanyak itu.” “Jika kekurangan pasukan, kalian tinggal mencari anggota yang lain untuk mencari Asia! Dia tidak mengerti apa-apa di dunia ini! Apa kamu berani bertanggung jika terjadi apa-apa dengannya?!” Teriakan Eugene terdengar menggelegar. Felipe yang menerima amarah Eugene itu hanya mengangguk. Baru kali ini Felipe melihat Eugene sampai semarah ini dan itu karena seorang perempuan. “Aku akan mencari anggota baru, agar pencarian lebih cepat.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN