Sepanjang perjalanan, Asia terus-terusan teringat tentang bibirnya yang tidak sengaja bersentuhan dengan bibir Eugene. Bersentuhan, itu sama saja dengan mengecup. Eugene adalah pria pertama yang melakukan hal itu dan apakah dia juga menjadi perempuan pertama bagi Eugene? Tapi ini jelas pikiran bodoh bukan?
Asia mencuri pandangan ke arah Eugene yang tampak tertidur dengan posisi menahan keningnya. Eugene yang tampak biasa saja, dia pasti sudah terbiasa dengan itu semua. Asia menghela napas, dia tampak sedih memikirkan jika Eugene bisa saja sudah memiliki seorang kekasih atau bahkan orang yang dia anggap spesial walau Eugene sendiri mengatakan jika dia belum menikah.
Apa kisah cintanya akan terus-terusan berakhir buruk? Apa tidak ada sedikit kebahagiaan di tempat yang membuatnya jauh dari keluarganya ini?
“Ada apa dengan wajah sedihmu itu?”
Suara Eugene yang tiba-tiba terdengar membuat Asia terperanjat kaget. Dia menatap Eugene dengan horor. “Kamu mengagetkanku,” keluhnya kesal.
“Ada apa dengan wajah sedihmu itu?” ulang Eugene sekali lagi. Suaranya terdengar lebih rendah dari ucapan pertamanya. Tatapannya bahkan terasa lebih menusuk.
“Tidak, aku tidak sedih.”
“Kamu tidak bisa membohongiku, Asia.”
“Aku….” Asia meneguk ludahnya. Dia tampak bingung harus mencari alasan agar Eugene tidak tahu perihal perasaannya. Posisinya belum terlalu kuat, jika dia mengatakan ‘aku mencintaimu’ sudah bisa dipastikan dia akan diusir oleh Eugene.
“Aku apa?” tanya Eugene tak sabaran.
“Aku memikirkan kehidupan di pusat kerajaan.” Akhirnya satu alasan yang tiba-tiba muncul langsung diutarakan Asia.
“Kamu tidak perlu memikirkan itu. Kamu akan hidup aman selama kamu bersamaku.”
“Bagaimana dengan keluargamu? Apa keberadaanku tidak akan mengganggu mereka?” Ya, ini pembicaraan yang bagus, Asia bisa mengorek informasi tentang kehidupan Eugene dari topik ini.
“Tidak akan ada yang menganggapmu sebagai penganggu.”
“Bagaimana dengan kekasih atau orang yang spesial bagimu? Aku harus memikirkan perasaan mereka juga.”
Melihat Eugene yang tersentak kaget membuat Asia menggigit bibir bawahnya. Apa Eugene akan mengatakan jika kekasihnya atau istrinya tidak akan masalah dengan kehadirannya?
“Bukankah aku sudah mengatakan jika tidak memilikinya?”
Kalimat itu sukses membuat Asia mendesah lega. Dia benar-benar lega, akhirnya dia tahu jika Eugene benar-benar tidak memiliki seseorang yang spesial. Entah itu istri, kekasih, ataupun seseorang yang dianggapnya spesial.
“Tampaknya kamu sangat lega dengan jawabanku.”
Seketika Asia tersentak dan tampak panik. Ya Tuhan, harusnya dia bisa lebih mengontrol dirinya agar tidak membuat Eugene curiga. Bisa-bisa Eugene langsung mengerti kenapa dia sampai selega ini.
“I-iya itu… itu karena aku tidak ingin me-membuat orang merasa tidak nyaman dengan kehadiranku,” ucap Asia canggung.
“Kamu sadar diri juga.”
“Jadi aku juga membuatmu merasa tidak nyaman?” Air muka Asia seketika muram. Dia tahu dia hanya beban bagi Eugene, tapi mendengar kalimat menyakitkan itu tetap saja terasa sakit baginya.
“Tidak,” jawab Eugene singkat. Dulu mungkin dia akan menjawab iya, tapi sekarang dia sudah terbiasa dengan kehadiran Asia di sisinya.
“Lalu kenapa kamu mengatakan itu?”
“Ya agar kamu sadar jika kamu hanya boleh merepotkanku.”
“Ah?” Sekarang Asia tak mengerti dengan apa yang diucapkan Eugene.
“Jangan membuat kehadiranmu mengganggu orang lain dan apa pun yang ada di pikiranmu itu, kamu bisa mengatakannya padaku. Hanya aku yang bisa kamu percaya Asia.”
Sekarang Asia mengerti, Eugene mau dia hanya bergantung pada dirinya seorang. Ini juga yang Asia inginkan. Dengan hal ini, dia bisa semakin dekat dengan Eugene.
“Apa kamu mengerti?”
“Aku mengerti. Aku tahu jika tidak ada orang yang bisa kupercaya selain kamu.” Asia tersenyum. “Hanya kamu yang aku miliki di sini,” tambahnya lagi.
Sambil memejamkan matanya Eugene berucap, “Benar, Asia.”
Asia mengambil kertas dan pena yang ada di samping kursinya. Sudah dua hari berlalu dan selama perjalanan Asia terus menggambar. Dia awalnya tidak begitu pandai menggambar, tapi karena jurusannya mengharuskannya menggambar, Asia jadi mulai terbiasa dengan menggambar dan menjadi suka.
Dia ingin menggambar Eugene lagi. Sudah satu gambar Eugene yang Asia buat dan ini akan menjadi gambar yang kedua. Posisi Eugene yang tengah menahan kening dengan tangan kanannya terlihat sangat indah.
Cahaya jingga yang masuk dengan malu-malu dari celah korden juga membuatnya semakin terlihat indah. Jika ada pensil warna, mungkin gambarannya semakin terlihat indah. Jauh lebih bagus jika ada ponsel sebenarnya. Dengan ponsel Asia bisa memfoto Eugene. Jika dia rindu, dia hanya perlu membuka galeri dan melihat foto itu.
Begitu malam tiba, kereta kuda masih terus berjalan. Kereta kuda itu baru berhenti di sebuah penginapan. Jika dua malam kemarin Asia harus tidur di dalam kereta sendirian, sekarang dia bisa tidur di atas tempat tidur lagi.
“Aku tidak percaya ada penginapan di tempat seperti ini.”
Dari tadi mereka hanya melewati pepohonan yang rimbun dan tau-tau mereka menemukan penginapan.
“Hutan di sini tidak akan ada monster karena berada di dalam kawasan kerajaan. Dan juga, kita sudah tidak akan melewati hutan lagi. Selanjutnya akan lebih banyak rumah pendudukan dan juga ladang.”
“Aku tidak sabar untuk melihat lebih banyak tentang dunia ini.”
“Aku juga tidak sabar untuk memperlihatkannya padamu.”
Eugene keluar dari kereta kuda dan membantu Asia untuk turun. Mereka berdua bersama-sama masuk ke dalam penginapan. Saat Eugene tengah menunggu memesan kamar untuk mereka. Asia teringat kusir kereta kuda yang bersama mereka.
“Apa kamu hanya memesan satu kamar?”
“Bukankah kita sudah terbiasa berbagi tempat tidur?” Eugene mengambil kunci kamar yang tersodor ke arahnya.
“Bukan untukku, tapi untuk kusir itu.”
“Tidak, dia sudah terbiasa dengan hal ini. Ayo jalan.”
Asia memandangi punggung Eugene yang menjauhinya. Dia tidak percaya Eugene melepaskan tanggung jawabnya begitu saja.
“Asia!” panggil Eugene sedikit keras.
“Iya-iya.”
Dengan sedikit berlari Asia menghampiri Eugene. Baru saja Asia tiba di samping Eugene, Eugene langsung menggenggam tangan Asia. Pandangan Asia langsung tertuju pada tangannya yang digenggam dengan erat oleh Eugene.
Jemari Eugene yang tidak terlindungi sarung tangan terasa mengalirkan sensasi dingin. Rasanya sangat nyaman saat tangannya yang hangat bersentuhan dengan tangan yang terasa dingin.
“Tubuhmu selalu terasa hangat bahkan di udara dingin. Aku merasa ini salah satu alasan kenapa kamu bisa bertahan hidup saat pertama kali aku menemukanmu.”
Apa yang dikatakan Eugene terasa sejalan dengan apa yang Asia pikirkan. Mereka sama-sama merasakan sensasi yang tercipta karena tangan mereka yang bersentuhan, dan baru kali ini Eugene berani mengutarakan pendapatnya tentang sesuatu yang terasa lebih intim. Asia senang mendengarnya.
“Seingatku, teman-temanku mengatakan jika aku memiliki tubuh yang hangat. Apa karena aku tinggal di tempat yang panas? Aku juga kurang mengerti dengan hal itu.”
“Mungkin saja.”
“Aku malah selalu berharap memiliki tangan yang terasa sedikit dingin seperti tanganmu. Tubuh yang terasa hangat membuatku kadang tidak nyaman.”
“Baru kali ini aku mendengar ada yang ingin memiliki tubuh yang dingin.”
“Daripada kepanasan, aku lebih baik kedinginan.”
“Jangan karena ingin kedinginan kamu malah melempar tubuhmu ke dalam danau.” Eugene membuka pintu kamar mereka. “Aku lelah menyelamatkanmu,” tambahnya.
“Kalau aku tenggelam lagi, kamu tidak akan menyelamatkanku, begitu?”
“Kamu selalu saja salah paham.”
Eugene sedikit menarik tangan Asia agar masuk ke dalam kamar mereka. Dengan sedikit kasar Eugene menutup pintu itu.
“Aku berkata seperti itu agar kamu tidak bermain-main lagi dengan nyawamu. Apa kamu pikir kamu memiliki banyak nyawa?”
“Aku hanya bercanda.” Asia mencoba melepaskan tangannya namun genggaman tangan Eugene terlalu kuat.
Bukannya membiarkan Asia pergi, Eugene malah mendekatkan Asia ke tubuhnya. Sebelah tangannya yang bebas malah dia gunakan untuk menjepit pipi Asia.
“Jangan bercanda tentang hal yang membahayakan nyawa. Terlebih aku sudah menyelamatkanmu, aku merasa sia-sia melakukannya.” Setelah mengatakan itu pandangan mata Eugene melembut. Tangannya yang ada di pipi Asia terlepas, begitu juga dengan genggamannya.
Dia mengusap kepala Asia beberapa kali sebelum berbalik. “Aku akan mandi, kamu bisa tidur jika kamu ingin.”
Asia berjalan gontai dan terduduk di atas tempat tidur. Dia memandangi Eugene yang pergi menuju ke kamar mandi.
Eugene memang terasa lebih memperhatikannya, bahkan dia tidak segan untuk menyentuhnya. Tapi, pembicaraan seputar nyawa sepertinya harus dia hindari. Eugene selalu sensitif masalah nyawa dan Asia tidak ingin membuat Eugene kesal.
Tempat tidur yang terasa empuk membuat Asia tergoda untuk merebahkan tubuhnya di sana. Yang awalnya hanya berniat untuk rebahan, tanpa Asia sadari dia pun tertidur.
Eugene yang selesai mandi mendapati Asia tidur dengan nyenyaknya. Bukannya ikut tidur di samping Asia, Eugene malah berjalan membuka pintu kamar dan mengambil botol wine yang dia pesan.
Wine yang dipesannya itu dinikmati di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela kamar. Sambil menikmati wine, Eugene membuka buku yang dia belikan untuk Asia.
Halaman pertama penuh dengan gambar bunga. Di halaman selanjutnya, gambar pemandangan dan di halaman ketiga, Eugene akhirnya melihat gambaran dirinya yang tengah tidur sambil melipat tangannya. Bukan gambaran yang utuh, tapi Eugene bisa tahu jika itu adalah gambar dirinya. Tiga halaman selanjutnya kembali memperlihatkan gambaran dirinya.
Pandangan Eugene bergerak memandangi Asia yang tidur dengan nyenyaknya. Terdengar tawa pelan dari Asia dan itu membuat Eugene tidak bisa menahan senyumnya. Dia lebih suka mendengar Asia yang tertawa seperti ini ketika tidur. Itu artinya dia sedang bermimpi indah bukan?
Buku gambar itu kembali Eugene letakkan ke tempatnya semula. Dia tidak ingin Asia sadar jika dia membuka buku yang dia jaga itu. Setelah itu Eugene kembali menikmati wine miliknya.
“Eugene….”
Suara lemas itu membuat Eugene mengalihkan pandangannya dan mendapati Asia tengah mengusap-usap matanya.
“Apa yang kamu minum?”
“Jus.”
Asia tampak memicingkan matanya dan menggeleng. “Itu wine, benarkan?” tebaknya.
“Jangan meminum minuman beralkohol, itu tidak baik untuk kesehatanmu.” Asia kembali merebahkan tubuhnya. “Ayo cepat tidur, aku tidak ingin kamu sakit.”
Eugene bangun dari duduknya, dia berjalan dengan pelan menghampiri Asia. Sampai di depan tempat tidur, matanya memandangi Asia yang sudah memejamkan matanya.
“Tempat tidurnya sangat nyaman,” ucap Asia parau.
Tangan kanan Asia mengusap sisi kanan dari tempat tidur yang kosong. “Ayo tidur di sini.”
Eugene naik ke atas tempat tidur dan menahan Asia di antara tangan dan tubuhnya. Tangan kanannya dia gunakan untuk menjepit dagu Asia yang membuat Asia membuka matanya.
“Sakit,” keluh Asia.
“Iblis kecil,” desis Eugene.
“Ah?” Asia tampak kebingungan.
Hembusan napas Eugene yang menerpa wajahnya terasa panas dan hal itu membuat Asia mencoba untuk menoleh ke sisi lain. Hal itu malah membuat Eugene menjepit pipi Asia.
“Jangan mencoba untuk mengalihkan tatapanmu dariku.”
“Kamu mabuk?” tanya Asia.
Tidak ada jawaban dari Eugene, dia malah tersenyum kecil. Dia mendekatkan wajahnya hingga hidungnya dengan Asia saling bersentuhan.
“E-Eugene….”
“Ya, Asia?”
“Sakit.”
“Aku tidak akan menyakitimu.” Pipi Asia diusapnya dengan pelan.
Sentuhan tangan Eugene sukses membuat Asia bergidik dan menutup matanya. Eugene tersenyum kecil lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Asia. Begitu bibir mereka bersentuhan, Asia seketika membuka matanya. Dia kaget dengan apa yang terjadi antara dirinya dan juga Eugene.
Bibir Eugene yang awalnya hanya menempel perlahan meminta untuk lebih. Asia yang terlalu kaget segera mengatup bibirnya rapat dan hal itu membuat Eugene mulai menggigit bibir Asia.
“Akh!” rintih Asia saat Eugene menggigit bibirnya dengan keras.
Bibir Eugene mulai mengecap bibir Asia. Dia tampak sangat rakus dan ingin semakin memperdalam ciumannya. Bahkan lidahnya tidak segan-segan untuk menerobos masuk ke dalam mulut Asia dan mencari lidah Asia untuk diajaknya saling bertautan.
Asia berusaha mendorong tubuh Eugene, tapi tubuh itu hanya bergeming. Tenaganya yang lemas dan juga kepalanya yang mendadak terasa pening membuat Asia benar-benar pasrah. Dia sangat tegang dengan apa yang Eugene lakukan. Ciuman yang diberikan Eugene tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Saat ciuman itu melembut, entah kenapa Asia jadi terbawa suasana dan mulai ikut andil dalam ciuman itu. Eugene membuka matanya dan memperhatikan bagaimana saat Asia juga larut dalam ciuman mereka.