Chapter 16: Masa Lalu Hatra Edwin

1209 Kata
Nada terenyak. Perlahan dia berhasil menemukan pecahan-pecahan misteri yang menganggunya selama ini. Denial. Orang itu pasti yang dia lihat malam itu. Pasti dia! “Dia punya motif kuat buat ngebunuh kamu.” Hatra tak menatap Nada. Dia membuang pandangannya ke jendela. “Lewat aku.” Nada kehabisan suaranya. Rasanya seperti ribuan bom meledak di hatinya. Hidupnya seperti sebuah eksperimen gagal yang terus dicoba berulang-kali. Tubuhnya langsung gemetar. Gadis itu mengerti sekarang. Hatra adalah kakak dari Insi yang merupakan korban kasus bunuh diri lima tahun lalu. Hatra juga merupakan korban kejahatan ayahnya yang telah menutupi kasus tersebut demi melindungi Nada. Kemudian Denial langsung memanfaatkan Hatra untuk membekap kesaksian Nada. Karena gadis itu adalah kunci satu-satunya yang mengetahui penyebab sebenarnya kematian Insi. Satu hal yang tidak diketahui Hatra. Nada bukanlah pelaku utama dari kasus ini. “Dan kamu juga berniat ngebunuh aku, kan? Karena aku adikmu meninggal secara nggak adil. Kamu yang waktu itu ngunci aku di kamar mandi. Kamu juga yang nabrak aku sampe kakiku cacat kayak gini. Kamu, kan?” “Emang! Tapi asal kamu tahu, itu semua ide Denial. Dia berusaha ngebunuh kamu pake suntikan potasium. Kamu bisa mati!” Hatra menggertakkan gigi. “Dan aku sudah nyelamatin kamu, dan dengan bodohnya kamu angkat telepon Denial, augh!” Dia memukul tembok lagi. “Sekarang bukan cuma kamu yang diincer, aku juga! Gimana caramu ngatasin ini?” Nada menggigit bibirnya. “Ki-kita laporin polisi?” “Ide bagus.” Hatra tersenyum sumringah, detik selanjutnya wajahnya kembali menyeramkan. “Kamu bisa sekalian menyerahkan diri, aku juga bisa dijerat kasus percobaan pembunuhan, dan Denial juga. Bagus. Ide bagus.” Nada menepuk bibirnya. Dia salah ngomong. Seharusnya dia diam saja dan biarkan Hatra meledak-ledak. Kalau begini, bisa-bisa hidupnya kembali dipertaruhkan. “Denial itu bukan sembarang orang yang bisa kamu lawan.” Akhirnya Hatra duduk di sofa. “Dia berbahaya.” Diam-diam Nada mengangguk setuju. Dia menyeret pelan tubuhnya dan mendekat pada Hatra. Setelah Hatra tenang, Nada berbisik. “Kenapa kamu nggak nyuntik aku pake potasium?” “Kamu mau?” Nada langsung menggeleng cepat. “Tapi, kan, kamu benci banget sama aku. Gara-gara aku dan papaku, adikmu jadi begitu.” “Makanya. Serahin. Dirimu. Ke. Polisi,” kata Hatra penuh penekanan. “Waktumu nggak banyak. Sampai saat itu, aku beneran nyuntik kamu pake potasium.” Nada menelan salivanya dan menatap Hatra memasuki kamar. “Tapi bukan aku pelakunya,” katanya lirih. ***   Grizzly pulang ke rumah. Ayahnya tadi menelepon untuk mengajaknya makan malam bersama. Sudah lama sejak Grizzly terlalu fokus pada taekwondonya sehingga jadi jarang pulang. Sebelum sampai rumah, Grizzly menyempatkan diri untuk membeli ikan kerapu matang kesukaan ayahnya dan beberapa soda. Sekalian merayakan kemenangannya di kompetisi taekwondo. Di rumah, dia langsung disapa beberapa pengurus rumah. Saat Grizzly sampai di dapur, dia bertemu bibi yang paling dirindukannya. “Bibi!” seru Grizzly sambil merentangkan tangan. “Aku pulang!” Bibi Son terkejut dengan kedatangan anak tuan rumahnya yang begitu tiba-tiba. Daging rendangnya dia tinggalkan begitu saja dan memeluk Grizzly. Wanita itu masih mengenakan celemek dan rambutnya diikat berantakan seperti biasanya. “Ini ada kerapu, nanti diangetin buat papa, ya, Bi. Gimana kabarnya?” tanyanya setelah menaruh barang-barang belanjaan di atas meja dapur. “Baik kayak biasanya. Kamu tumben pulang.” Bibi mencubit pipi Grizzly seperti biasa. Katanya, beliau nggak pernah bertemu laki-laki setampan Grizzly, maka dari itu dia gemas dan mencubit pipinya. “Iya, Papa sama Mama kangen katanya. Mumpung aku dapet libur, sekalian pulang. Kakak ada, kan?” “Iya, lagi di kamarnya.” Bibi kembali mengaduk rendang. “Aku ke sana, ya.” Di sana tak ada siapa pun. Grizzly masuk dan duduk di tepi kasur. Dia mengotak-atik ponselnya saat tiba-tiba kakaknya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit. “Loh, Griz. Pulang?” “Enggak, berangkat!” Grizzly tertawa. Kakaknya mengeringkan rambut dengan handuk, kemudian berpakaian. Dia duduk di samping Grizzly sambil menikmati acara televisi. “Oh, ya. Gimana sama hacker-nya? Udah dapet file-nya?” “Besok baru bisa diambil.” “Emang ada apa, sih, di hapenya?” Kakaknya penasaran. “Kayaknya penting banget, ya.” Grizzly merebahkan tubuhnya menikmati semburan pendingin ruangan. Kamar itu begitu wangi dan rapi, tak seperti kamarnya yang berantakan. Penuh dengan poster dan kaset-kaset petarung. Kemudian di sudut ruang ada samsak untuknya berlatih. “Temenku diculik. Kami curiga ada sesuatu di hapenya, makanya,” kata Grizzly. Kakaknya mengangguk. “Kalo butuh bantuan lagi bilang, ya.” Saat makan malam, Grizzly terus dipenuhi dengan pertanyaan dari kedua orangtuanya. Bagaimana pertan-dingannya? Bagaimana lawannya? Apa yang sakit? Serta pertanyaan lainnya. Grizzly sampai kewalahan menjawabnya, sehingga dia memutuskan untuk bercerita dari awal hingga akhir tanpa ada yang terlewatkan. Dia juga membawa medalinya untuk dipampang di rumah. “Kalo pacar, gimana?” Ayahnya mengedipkan mata. Grizzly langsung salah tingkah. “Apa, sih?” Dia tertawa. Ibunya menyahut, “Jangan tiru Denial, lah. Sampai sekarang masih betah single.” Kakaknya, Denial, pura-pura memasang ekspresi tersakiti. “Fokus dulu sama perusahaan. Nanti kalo berantakan, aku lagi yang disalahin.” “Ya, benar.” Ayahnya berkata lagi, “Grizzly yakin nggak mau ambil bagian dari perusahaan?” Grizzly menggeleng. “Aku nggak pandai begituan. Kak Denial aja, udah jago begitu.” Denial mendengus. “Padahal lebih enak kalau dibagi, kan ringan bebannya.” Sejak kecil Grizzly memang tak menunjukkan bakat dalam mengurus perusahaan. Dia cenderung berbakat pada bela diri, sesuatu yang menekankan fisik. Berbeda dengan Denial. Terlepas dari anak tertua, dia juga menunjukkan ketertarikan dalam bisnis. Oleh sebab itu, ayahnya telah membuat keputusan untuk memberikan seluruh perusahaannya pada Denial, sedangkan Grizzly akan mendapatkan yang lainnya, yang sebanding harganya dengan milik Denial. Mereka berdua pun sudah sepakat. Tak perlu dipermasalahkan. Makan malam telah usai. Grizzly duduk di tepi kolam renang bersama Denial. Membahas banyak hal yang menyenangkan, seperti pertandingan bisbol antara Dodgers dan Astros beberapa hari yang lalu. Selain kegiatan mereka yang berbeda-beda, kedua kakak-beradik ini sama-sama menyukai bisbol. Dahulu mereka rutin melakukannya. Sejak kesibukan merenggut kebebasannya, akhirnya bisbol tak pernah tersentuh lagi. “Selain bisbol, kayaknya aku mulai tertarik sama bela diri, deh. Ajarin, dong,” kata Denial. “Enak aja. Nanti aku saingan sama kamu, dong.” Denial tertawa. Lalu mengganti topik yang tadi belum sempat terselesaikan saat makan malam. “Kamu beneran nggak punya pacar? Aku punya banyak temen cewek. Mau kukenalin?” “Apa, sih.” Dia masih memberikan respons yang sama. “Pacar nggak punya, tapi kalo orang yang disuka, ada.” Denial membulatkan mata, penasaran. “Siapa? Wah, aku nggak dikenalin, nih.” “Masih tahap suka aja, kok.” “Berarti berencana buat naik ke tahap selanjutnya, dong?” Grizzly terkekeh. “Nggak tau, ya. Dia aja masih hilang nggak tau ke mana.” “Loh? Dia yang diculik itu?” Denial tampak terkejut. Laki-laki itu hanya mengangguk. Grizzly menatap air kolam renang yang begitu tenang. Andai hatinya bisa setenang air itu. Akhir-akhir ini hatinya seperti air yang bergejolak. “Pantes. Kamu sebegitu paniknya. Kubantu ya, biar cepet ketemu.” Denial menawarkan. “Apa aja datanya?” Grizzly mengeluarkan ponsel Nada. “Datanya ada di sini. Ini yang hasilnya baru keluar besok.” “Oke. Berarti urusan hape itu udah selesai, ya. Aku bakal cari tau yang lainnya. Oh ya, siapa namanya?” “Nada Sweizerika.” Denial langsung terdiam. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN