PROLOG

944 Kata
Semester 7 Setelah Insiden  ORANG terus berkata jika kau memiliki bola kristal, maka kau akan menemukan apa yang kau cari. Di manakah aku dapat membeli bola itu? Akhir-akhir ini semuanya terasa aneh. Bagaimana caraku berdiri, berpakaian, bahkan menatap, aku tak merasa itu diriku. Apakah aku ini jiwa yang tertukar? Atau mungkinkah dunia pararel itu benar adanya? Orang-orang terus berdatangan seakan-akan mereka mengenalku dengan sangat baik. Aku tak tahu siapa mereka. Begitu aku membuka mata, semua terasa asing. Apakah aku terlahir kembali? Setiap malam aku seperti merasa ada yang salah dengan hatiku. Rasanya seperti aku telah melupakan sesuatu yang sangat berarti. Bagaimana menjelaskannya? Seperti kau berada di sebuah kehampaan tanpa tahu apa itu dan hatimu menjerit kesakitan, berteriak sedih, dan menangis meraung-raung. Seperti kau mengharapkan kehadiran seseorang. Aku telah banyak membacanya melalui novel-novel atau menonton film romantis bahwa perasaanku ini bisa jadi karena cinta pertama. Aku tak pernah tahu bahwa diriku mampu mencintai. Apakah aku telah mencintai seseorang di kehidupanku yang lalu? Apakah aku terlahir kembali dan melupakan cinta pertamaku? Itu bisa jadi masuk akal. Sekarang aku penasaran. Siapakah cinta pertama yang kulupakan itu? ***   Dia berlari. Dalam lorong gelap tak berujung, dia terus berlari. Napasnya tersenggal-senggal, keringat hampir jatuh bersamaan dengan kulitnya yang melepuh. Matanya terbuka lebar. Sesekali mengintip ke belakang memastikan bahwa bayangan itu berhenti mengejarnya. Dia memasuki sebuah ruangan penuh kobaran api. Di sana hampir tak terlihat apa pun kecuali api yang meledak-ledak dan gumpalan asap tebal. Dia terbatuk-batuk. Dengan bertelanjang kaki, dia menerobos gumpalan asap dan menemukan sesuatu yang membuat langkahnya berhenti. “Kita bakar sekarang, Bos?” Gadis itu mendengar suara. Tapi tak ada siapa pun di sana. “Jangan sampai ada yang tersisa.” Seseorang menjawab. Suara itu … dia mengenalnya. Gadis itu menyentuh kepalanya yang terasa pening. Ini mimpi! Mimpi buruk yang sama! Dalam pandangan yang berkunang-kunang, dia menemukan seseorang terikat di tengah-tengah lingkaran api, sedang berusaha melepaskan diri dengan membakar ikatan di tangannya sendiri. Gadis itu menyaksikan hal tersebut dengan panik. “Awas! Tanganmu!” Kedua tangan orang tersebut langsung terbakar mengerikan. “Ah!” Gadis itu berteriak dan memejamkan matanya. Bangun, Bodoh! Bangun! Dia berusaha mengontrol dirinya agar segera terbangun dari mimpi buruk itu. DOR…! Seseorang menjerit saat suara pistol terdengar. Gadis itu terkejut dan membuka matanya. Semua adegan di depannya langsung berganti di mana seseorang mati tertembak. Tubuh gadis itu gemetar. Dia menutup mulutnya sendiri saat menyaksikan adegan demi adegan berganti. Mengapa hal ini terjadi padanya? Mengapa ia terus menyaksikan hal yang sama setiap malam? “AWAS!” Seseorang berteriak lagi membuat gadis itu menoleh ke belakang. Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan tak segan-segan langsung menghantam tubuh gadis itu. BRAK…! Saat itulah dia membuka mata untuk yang kedua kalinya dan terbangun dari tidurnya. Lehernya begitu nyeri seolah baru saja terlepas dari cekikan. Gadis itu—Nada Sweizerika—bangun dan duduk di tepi ranjang. Bahkan ketika mimpi buruk yang sama hadir kembali, tetap saja terasa begitu mengerikan. Rasanya bahkan nyata. Kulitnya seperti benar-benar terbakar. Rasanya seperti tenggelam di kobaran api. Sebenarnya apa maksud mimpi buruknya selama ini? .  . Beribu kesempatan yang jadi senyuman Tak satu pun jadi nyata .  . Nada cepat-cepat mengerjapkan matanya, lalu menoleh ke jendela. Laki-laki asing itu selalu ada di bawah jendelanya setiap ia terbangun dari mimpi buruknya. Menyanyikan lagu yang sama dengan gitarnya. Dia terus bertahan di bawah sana walau Nada menatapnya asing. Seolah-olah laki-laki itu sedang bertindak bahwa ia mengenal Nada. Gadis itu berjalan mendekat ke jendela dan menatap raut wajah laki-laki itu. .  . Mungkinkah kesalahan atau takdir Tuhan Yang inginkan aku begini .  . Walaupun bosan mendengarnya, tapi cukup menenangkan di pagi hari. Nyanyiannya mengalir mengusir mimpi buruknya. Pada akhirnya Nada tersenyum juga. “Nggak mau keluar?” tanya Henry, kakaknya. Nada menggeleng. “Aku nggak kenal dia siapa. Kenapa nggak diusir aja? Setiap pagi dia selalu ada di situ.” Henry melongok. “Beneran mau diusir, nih?” Nada terdiam, kemudian menggeleng pelan. Henry tersenyum. “Kalo gitu biarin aja dia di situ. Toh, buat hiburanmu juga. Atau kamu mau ketemu dia langsung?” “Emang dia siapa, sih? Kenal aku?” tanyanya. “Dan kenapa ekspresinya sedih begitu?” “Tanya dia aja langsung,” jawab Henry memasukkan kedua tangannya di saku celana dan berjalan keluar kamar. Nada kembali termenung dan menatap laki-laki di bawah sana yang masih bernyanyi untuknya. Laki-laki itu tampan dan tinggi. Rambutnya hitam, kulitnya putih, matanya sipit, dan bibirnya tipis. Tipikal laki-laki menarik. Mungkinkah dia seumuran? Nada masih berdiri di dekat jendelanya dengan pandangan yang fokus pada laki-laki itu. Mengikuti melodi indah yang mengalir, Nada semakin melebarkan senyumannya. Semakin terhanyut dalam lagu, gadis itu sampai tak sadar bahwa laki-laki itu melemparkan tatapannya pada Nada yang terpadu dengan sinar mentari pagi. Membuat kedua bola mata itu semakin indah. Nada langsung salah tingkah dan memundurkan langkahnya menjauhi jendela. Lalu gadis itu jatuh dan menjerit singkat, "Aw!" Dia mengusap-usap pergelangan kakinya yang nyeri. Sudah lama seperti ini. Pergelangan kakinya selalu sakit hingga dia kesusahan untuk menari, bahkan berjalan. Namun, Nada tak ingat kapan dan bagaimana bisa kakinya terluka. Seberapa kali dia berusaha mengingat, jawaban itu tak pernah muncul. Nada menarik napas panjang dan pelan-pelan bangkit berdiri. Dia kembali menyandar pada jendela dan menatap laki-laki yang masih berdiri di bawah sana. Laki-laki itu sedang mengenakan kemeja lengan panjang, menutupi punggung tangannya yang sibuk memetik senar gitar. Dia kidal, gumam Nada sesaat setelah menyadari gaya memetik gitarnya berbeda. Kemudian, lengan kemeja laki-laki itu tak sengaja tersingkap, memperlihatkan punggung hingga pergelangan tangannya. Gadis itu terenyak. Ada luka lepuhan seperti bekas terbakar. Tunggu! Luka itu ... bukankah luka lepuhan itu sama seperti yang ia lihat di mimpinya semalam?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN