DENIAL tersenyum miring saat menerima telepon dari Grizzly. Adiknya itu ingin segera bertemu dengan kakaknya di rumah. Denial berdiri dan melinting lengan kemejanya. Bagus. Seperti yang sudah diprediksi, gumamnya. Sudah cukup lama Denial pura-pura tertidur dan membiarkan mereka bertingkah semaunya. Tapi tidak untuk kali ini. Secepatnya dimusnahkan lebih baik. Dia tak punya banyak waktu untuk mengurus hal tak penting seperti ini. Target pertamanya akan ditembakkan pada Grizzly. Ada banyak keuntungan memanfaatkan bagian dari keluarga untuk kepentingan sendiri. Siapa yang mengerti Grizzly lebih dari Denial? “Sori, jalanan macet banget tadi,” kata Denial saat melihat Grizzly berdiri di dekat jendela kamarnya. Adiknya hanya tersenyum tipis. “Kenapa?” tanya Denial. Grizzly tak lagi

