“Aku sudah merancang tempat ini untuk pendaratan jet dan juga heli,” jawab Andi.
“Pantas saja,” ucap Bayu.
“Dan satu lagi. Tempat ini juga sudah mempunyai keamanan berlapis-lapis.”
“Apakah bisa mendeteksi musuh secara mendetail?”
“Untuk saat ini aku belum bisa. Aku sama March masih mengembangkan sistem mendeteksi musuh.”
Andi dan Bayu bergegas menuju ke jet. Mereka segera menaiki jet dan duduk di kursi masing-masing. Tak lama jet itu lepas landas. Kemudian Bayu dan Andi segera membuka laptop dan memeriksa keuangan Asco di cabang Balikpapan.
“Sebelum aku pulang ke sini. Pusat Asco beserta cabang-cabangnya baik semua,” ucap Bayu.
“Apakah kamu tidak curiga? Kalau cabang di Balikpapan sudah di gabung sama Wiguna Grup?” tanya Andi.
“Apa!!!” pekik Bayu.
“Kejadian ini sudah berlangsung selama tujuh bulan terakhir. Dan papamu sudah menyetujuinya tanpa sepengetahuan kamu. Kami sudah melarangnya. Tapi Papamu enggak mendengarkan apa kata kami,” ucap Andi. “Selain cabang Balikpapan, Samarinda, Pontianak dan juga Banjarmasin juga digabungkan ke Wiguna Grup.”
“Apa-apaan ini? Kenapa aku tidak diberi tahu soal ini? Aku juga CEO di sana!” kesal Bayu. “Kenapa kok jadi kacau begini? Harusnya Pak Aryo masih bisa menahan diri untuk tidak menggabungkan Asco dan Wiguna!!!”
Bayu semakin frustrasi ketika mendapat info dari Andi. Selama beberapa bulan terakhir Aryo tidak mengadakan meeting dengan dewan direksi.
“Apa yang harus kamu lakukan setelah ini?” tanya Andi.
“Aku harus bertindak cepat. Agar masalah ini tidak berlarut-larut,” jawab Bayu. “Bagaimana dengan yang lainnya?”
“Sebastian, Tristan, Anders, SW dan Pradipta masih aman.”
Sementara di Wiguna Grup. Yoga dan Rina tertawa terbahak-bahak karena usahanya berhasil. Mereka sedang bergembira karena sudah mengambil sebagian aset Asco.
“Bagaimana selanjutnya?” tanya Rina.
“Kita harus memancing Bayu keluar dari persembunyiannya. Setelah keluar dari persembunyiannya kita culik. Lalu kita paksa dia untuk menikah dengan putri kita. Jadi kita bisa mengambil seluruh aset Asco sepenuhnya,” jawab Yoga.
“Ide bagus itu,” puji Rina.
Tak selang berapa lama. Laras datang dengan memakai baju serba ketat dan juga seksi. Laras segera mendekati kedua orang tuanya dan duduk di tengah-tengah mereka.
“Papa,” seru Laras sambil menghempaskan bokongnya di tengah-tengah mereka.
“Tumben pulang. Ada apa?” tanya Yoga.
“Bayu Pa. Bayu tidak pernah mengajakku kencan,” rengek Laras.
“Apakah itu benar?” tanya Rina.
“Iya itu benar,” jawab Laras.
“Gampang. Nanti aku hubungi calon mertuamu. Aku akan bilang kalau anaknya tidak pernah mengajak Laras jalan-jalan,” usul Rina.
“Memangnya kamu ingin ke mana?” tanya Yoga.
“Aku ingin ke Maldives,” rengek Laras.
“Oh... Tenang saja. Biar mamamu yang beraksi,” hibur Yoga.
Rina segera meraih ponselnya lalu menghubungi Santi. Dengan wajah merah padamnya Rina ingin sekali memarahi keluarga Bayu yang membiarkan putri satu-satunya seperti patung.
Setelah nada panggilan tersambung. Rina menloud speaker agar terdengar suara Santi di ruangan tersebut.
“Hey... Jeng...,” sapa Santi yang basa-basi.
“Jeng... Aku mau protes sama kamu soal anakmu itu. Bisa-bisanya Bayu tidak pernah mengajak Laras keluar jalan-jalan,” kesal Rina.
“Oh... Mungkin saja Bayu sedang sibuk akhir-akhir ini. Kamu tahu kan kalau Bayu adalah CEO Asco. Jadi maklum saja,” jawab Santi.
“Ya tidak bisa begitu donk. Memangnya Laras patung yang dianggurin saja. Laras juga adalah manusia jeng!!!” kesal Rina.
“Berarti Laras yang kurang pintar mendekati Bayu. Coba dekati lagi,” saran Santi.
“Tapi Ma. Bagaimana aku mendekati? Kalau Bayunya aku Wa jawabannya sibuk. Padahal aku ingin berduaan sama calon suami,” sahut Laras dengan mode manja.
“Ya nanti Mama coba dekati Bayu agar mau kencan bersamamu,” ucap Santi dengan lembut.
“Jangan lama-lama ya ma,” ketus Laras.
“Iya tenanglah,” sahut Santi.
Santi langsung memutuskan sambungan teleponnya. Sementara itu Laras tertawa terbahak-bahak karena rencananya akan berhasil.
“Setelah itu rencana kamu apa?” tanya Yoga.
“Nikah lagi donk pa,” seru Laras sambil tertawa-tawa.
“Terus kalau sudah miskin kamu ceraikan gitu?” tanya Yoga.
“Iyalah. Itukan rencana awal yang membuatku ingin menikahi Bayu. Setelah Papa berhasil mengambil seluruh harta Asco. Aku akan menceraikan Bayu,” jawab Laras.
“Baguslah. Setelah itu kamu dekatkan diri ke Bayu,” suruh Rina.
Sementara di mansion. Santi sangat kesal oleh ulah Bayu. Bagaimana tidak Laras sampai mengadu ke Santi tentang Bayu. Karena selama ini Bayu tidak pernah mengajak Laras kencan. Akhirnya Santi menghubungi Bayu.
Bayu yang sudah sampai markas White Eragon cabang Balikpapan langsung membuat rencana. Tak lama ponselnya berdering. Melihat nama yang tertera dalam ponselnya Bayu sengaja mengabaikan. Karena tahu yang dibahas oleh Santi adalah Laras. Bayu menaruh ponselnya agak jauh darinya. Lalu Bayu melanjutkan idenya. Sebelum mengeluarkan suara March, Joko, Saga dan Irwan mendekati mereka.
“Hey... Kamu tidak mengajak kami?” tanya Irwan dari jauh.
“Aku sangka kamu masih di sekolah,” jawab Bayu.
“Kamu tahu kalau salah satu dari kita lagi kesusahan. Kita harus saling memegang tangan dengan erat. Kenapa kamu tidak bilang kalau Asco Balikpapan lagi gonjang-ganjing?” tanya Joko.
“Bukan masalah itu Joko. Gue enggak mau merepotkan kalian. Aku hanya meminta bantuan Andi. Karena aku membutuhkan IT,” jawab Bayu.
“Terus gunanya kita apa? Kalau salah satu perusahaan dari kita gonjang-ganjing begini?” tanya Irwan menohok.
“Ya bukannya gitu bro. Gue mau nangani satu persatu masalah perusahaan sendiri,” jawab Bayu.
“Enggak bisa begitu. Kita sudah buat perjanjian. Jika salah satu perusahaan sedang mengalami goncangan. Seharusnya kita bersatu untuk membereskan semua masalah. Kalau kamu tidak mengajak kami. Awas saja kalian. Seluruh investasiku akan aku cabut semua dari semua sektor Asco,” ancam Saga.
“Baiklah. Aku akan mengajak kalian dalam misi ini,” ajak Bayu.
Akhirnya Bayu pun mengalah dan tidak akan membiarkan mereka mencabut investasinya ke Asco. Mereka akhirnya duduk bersama secara berhadapan.
“Sebelum aku pulang ke Jakarta. Aku sudah mengecek pusat dan kantor cabang. Menurutku semuanya baik-baik saja. Siang tadi aku mendapat laporan bahwa cabang Balikpapan sedang ada masalah. Saham Asco menurun secara drastis dan juga banyak yang korupsi. Aku ingin malam ini semuanya beres. Dan tidak bisa ditunda sampai besok,” ucap Bayu.
“Beres itu bro... Itu semuanya bisa diatur,” sahut Joko.
“Ok... Malam ini kita kerjakan bersama,” ujar Irwan dengan semangat.
“Kita bagi tugas satu persatu. Andi kamu harus mengecek seluruh keuangan dari yang kecil hingga besar. Joko kamu harus mengecek satu persatu barang-barang yang sedang di produksi nantinya ke mana? Irwan tolong kamu pergi ke ruangan pemasaran. Aku ingin tahu semuanya barang-barang yang dijual. Saga tolong kamu cari surat tentang kerja sama Wiguna. March kamu retas semua sistem informasi keuangan. Dan kumpulkan semua ke mana semua aliran dana tersebut. Aku mulai curiga bahwa ada campur tangan keluarga Wiguna di Asco,” kesal Bayu.
“Kapan waktunya?” tanya Irwan.
“Jam sepuluh malam sampai jam empat pagi,” jawab Bayu yang serius.
Meeting telah selesai. Bayu meminta mereka bubar dan berkumpul di Asco jam sepuluh malam. Sedangkan ponsel Bayu masih saja berdering. Lalu Bayu meraih ponsel itu dan melihat nama yang tertera di ponsel. Bayu mengusap lambang hijau dan mencoba untuk sabar menghadapi Santi.
“Hallo,” sapa Bayu.
“Kamu ke mana saja?” tanya Santi.
“Tidak ke mana-mana. Aku masih di tempat,” jawab Bayu yang agak malas.
“Seharusnya kamu mempunyai waktu untuk Laras,” tegur Santi.
“Apakah itu perlu buatku?” tanya Bayu.
“Ya itu perlu. Saat kamu berduaan dengan Laras. Kamu bisa menjalin hubungan yang lebih erat. Kamu tahu Mama sangat senang sekali jika kalian menikah,” ujar Santo dengan antusias.
“Kalau aku tidak ingin menikah dengan Laras?” tanya Bayu yang serius.
“Jangan harap kamu bisa mendapatkan hak ahli waris dari Asco Group International. Mama dan Papa akan mencoret namamu dari kartu keluarga,” jawab Santi sambil mengancam.
“Oh... Begitu. Terus bagaimana nasib putri mama yang sudah ditendang dari kartu keluarga? Apakah Mama puas dengan sikap Mama?” tanya Bayu.
Santi terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Santi sangat bingung sekali dengan keputusan yang diambil ketika sudah mengusir Icha.
“Mama malah membela orang lain. Yang jelas-jelas belum resmi menjadi menantu mama. Kalau mencoret aku dari kartu keluarga silahkan ma! Aku tidak peduli dengan keputusan Mama. Tapi yang perlu mama ingat satu hal kebenaran. Siapa itu calon menantu kesayangan mama dan juga keluarganya? Suatu hari mama akan menyesal,” ucap Bayu dingin.
“Apa yang kamu katakan Bayu?” tanya Santi.