"Aaaaarrrrrhhhh...." teriak Elara.
Zian yang berada diatasnya terkejut setengah mati. Telinganya berdengung saat mendengar teriakan Elara. Elara mendorong Zian, ia meringkuk ketakutan.
"La, Kau kenapa?"
"Wajah Papa Zi sangat mirip dengan Denish, aku gak mau."
Tangan Zian mencoba memegang kepala Elara tetapi langsung dipukul wanita itu. Zian menghela nafas memperhatikan Elara yang sangat ketakutan.
"Ada apa? Denish melakukan apa saja padamu hingga kau ketakutan seperti ini?" tanya Zian.
Elara menggeleng, ia mulai bangun lalu duduk tetapi tidak mau melihat wajah Zian. Zian menangkup pipi Elara, mata indah Elara menatap wajah Zian yang sangat mirip dengan Denish.
"Kau masih mencintai Denish?" tanya Zian.
Elara mengangguk pelan, tentu saja dia mencintai Denish. Jika dia ingin menikahi pria itu maka sesungguhnya memang dia sangat mencintainya tetapi si pria b******k itu telah menghancurkan ekspetasinya.
Flashback saat masih berpacaran dengan Denish.
"Denish, kenapa kita ke diskotik?" tanya Elara.
Denish tidak menjawab, ia menarik tangan Elara masuk kedalam ruangan yang bersifat pribadi. Mata Elara terperanjat saat melihat banyak sekali pria berjas dengan para wanitanya.
Denish mendekati salah satu dari mereka, seorang pria Jepang dengan rambut panjang yang diikat kencang.
"Saya sudah membawanya, jadi mohon pertimbangkan kerja sama kita," ucap Denish.
"Baiklah, gadis yang kau bawa cantik sekali."
Denish mendorong Elara untuk duduk disebelah pria Jepang tersebut. Elara akan berdiri tetapi dicegah oleh para pengawal dari pria itu.
"Malam ini temani aku minum, cantik. Biarkan pria yang tidak pecusmu pergi!"
"Tidak mau!"
Elara berusaha untuk berdiri, Denish yang melihatnya langsung keluar setelah pria Jepang itu menandatangi kontrak kerja samanya.
"Denish, jangan tinggalkan aku!"
Tetapi Denish pada akhirnya pergi meninggalkan Elara. Dia menjual harga diri pacarnya hanya untuk kerja sama kontrak. Elara sangat ketakutan, ia tidak bisa pergi dari tempat itu. Pada akhirnya ia menemani pria belang itu untuk minum. Walau hanya menemani tetapi dia tidak ikut minum karena takut mabuk.
Setelah beberapa jam kemudian.
Dia diperbolehkan pulang, Elara berjalan dengan linglung keluar dari tempat diskotik itu.
Denish menghampirinya lalu menariknya untuk masuk ke mobil.
"Kenapa kau tega menjual pacarmu sendiri?" tanya Elara kecewa.
"Aku tidak menjualmu, aku hanya menyuruhmu untuk menemani pria itu supaya mau menandatangani kontrak kerja denganku."
"Sangat rendahkan harga diri pacarmu sampai kau tukar dengan pekerjaan?" tanya Elara.
Denish memukul setir mobil, ia sangat kesal dengan Elara. Elara hanya menangis sedih, sampai hati pria yang sangat dicintainya menjualnya seperti itu.
"Kontrak itu sangat penting. Aku kerja juga untuk masa depan kita, mau sampai kapan kita menumpang rumah dengan papaku? Bahkan untuk membayar cicilan mobil masih dibantu papa. Kau sangat enak, papamu kaya raya bisa dengan mudah membelikanmu mobil dan rumah. Sedangkan papaku harus menjadi babu orang dulu, mempertaruhkan seluruh waktunya untuk melayani orang lain,"jelas Denish.
"Kau bisa sadar akan perjuangan papamu tapi tapi kau tidak sadar saat muda dulu selalu menghamburkan uangnya. Sekarang saat akan menikah kau bingung bagaimana memberi makan istrimu," ucap Elara.
Plaaaaaak...
Tamparan keras mendarat dipipi Elara. Elara yang tidak terima memukul balik. Pertengkaran hebat terjadi didalam mobil, bukan hanya adu mulut melainkan fisik. Elara naik ke pangkuan Denish lalu mencekiknya, Denish mencoba mendorong Elara sampai terpentok pintu mobil.
"Dasar cewek gila! Huh... Kau ingin membunuh calon suamimu sendiri?" teriak Denish.
"Iya aku akan membunuhmu," jawab Elara juga berteriak.
Denish menghela nafas panjang, ia menyabarkan dirinya. Dia tidak mau menyakiti Elara. Dengan perasaan tenang ia menyetir mobil pulang ke rumah. Dalam perjalanan mereka hanya saling diam, malam ini mereka melalui dengan pertengkaran.
Sesampainya dirumah.
Mobil papanya sudah ada dihalaman, Elara masuk ke rumah dengan wajah cemberut. Denish mengikutinya sampai kamar dan pertengkaran dilanjutkan lagi.
Denish melihat Elara mengemasi kopernya tetapi ia langsung menendangnya.
"Jangan harap kau bisa keluar dari rumah ini!" teriak Denish.
"Apa urusannya denganmu? Aku akan pulang ke apartemenku."
Denish menyeret Elara ke ranjang lalu membantingnya, ia melepas kancing kemejanya.
"Malam ini kau harus melayaniku! Jangan harap bisa pergi."
"Dasar cowok b******k! Kita belum menikah, aku gak mau melayanimu!" teriak Elara.
"Ha? Lalu kenapa kau mau tinggal di rumahku?"
Elara berdecih, ia anak broken home menjadikan tak ada pilihan lain untuk mengisi kekosongan hatinya melalui tinggal di rumah Denish walau hanya beberapa hari sekali.
Denish mulai menindih Elara lalu mencekiknya. Bibirnya mulai menciumi bibir Elara.
BRAAAAAK....
Zian masuk ke kamar setelah mendengar keributan. Denish lalu melepaskan Elara. Mereka sangat terkejut dengan kedatangan Zian yang masih memakai jaket kerjanya.
"Elara, mohon maaf. Kau tidak boleh tinggal disini lagi. Papa sudah di tegur dengan Pak RT. Kalian belum menikah dan belum boleh tinggal satu rumah walau ada papa disini. Namun sesekali kau boleh datang kesini tapi jangan menginap," ucap Zian.
"Apa urusan Pak RT? Kenapa dia ribet sendiri? Elara, kau harus tetap disini. Jangan urusi omongan orang lain!" jawab Denish.
.
Flashback selesai.
"Elara... Kenapa melamun?" tanya Zian yang heran ketika melihat istrinya melamun.
Elara terkejut. "Eh... gakpapa kok. Ehmm... Aku mau kembali ke kamar dan jangan lupa minum obatnya!"
Saat akan beranjak tangan Zian menahan tangan Elara. Mereka bertatap membuat Elara memalingkan wajah lagi.
"Aku hanya berharap malam ini kau bisa merawatku. Sudah lama aku menduda dan tidak ada yang memperhatikanku," ucap Zian sedikit malu.
Elara berdehem pelan lalu menepis tangan Zian. "Aku sudah memijat Papa Zi dan memberi obat, itu saja sudah cukup. Aku masih belum bisa menerima pernikahan ini dan aku masih berharap Papa Zi cepat menceraikanku. Maaf jika aku jahat tapi Papa Zi sudah kuanggap sebagai papaku sendiri tetapi tiba-tiba menjadi seorang suami rasanya sangat aneh."
Zian tersenyum kecil, ia meremas kedua tangannya. Terlalu percaya diri jika ia berharap lebih. Dia hanya pria tua yang masih butuh perhatian akan tetapi ia sadar jika pernikahan ini membuat Elara sangat tidak nyaman.
"Maafkan aku!" ucap Zian menunduk.
Elara mengangguk lalu mulai berjalan meninggalkan kamar Zian, menutup pintu pelan-pelan dan berharap Zian bisa mengerti atas keadaannya.
Elara masuk ke kamarnya sendiri sambil melamun tidak jelas. Dia merasa bersalah sebab menyakiti suaminya.
Disisi lain, Zian mendapat telpon dari putranya. Sudah seminggu mereka tidak berkomunikasi.
"Bagaimana kabarmu, Denish?" tanya Zian.
"Suara papa kok bergetar, papa sakit?" tanya Denish.
"Tidak, hanya sedikit lelah saja."
"Oh begitu, aku sudah menstransfer uang ke rekening papa. Papa bisa menggunakannya untuk kebutuhan papa."
Zian menaikkan alisnya. "Kau simpan saja uangmu. Papa sudah ada uang sendiri."
"Aku sudah menabung sendiri, pah. Aku akan membeli rumah lalu mengajak Elara untuk menikah. Selama ini aku sangat merasa bersalah padanya."
Ponsel yang dipegang Zian seketika terjatuh. Dia sangat syok atas ucapan putranya. Menikah? Bagaimana jika Denish tahu jika ia menikahi calon istrinya? Bagaimana ini? Apa yang harus Zian lakukan?
"Hallo, pah? Papa masih disana?" ucap Denish.
Zian meraih ponselnya lalu mengatur nafasnya. "Hallo, Papa tutup dulu telponnya. Kita bicara besok lagi."
"Okelah, pah. Salam buat Elara jika bertemu dengannya," jawab Denish.
Kenapa ini? Denish akan mengajak menikah Elara? Apa yang dipikirkan anak itu? Suka sekali mempermainkan perasaan perempuan. Aku harus bagaimana? Jika Elara juga tahu apakah dia akan menerima ajakan Denish untuk menikah?