Zian tersenyum senang, ia menghampiri Elara dan membantu mengikat rambut Elara yang panjang. Tubuh Elara yang putih hanya berbalut bra. "Ini lepas saja! Nanti terkena minyak jadi ikut panas," ucap Zian. Dasar m***m! Batin Elara. "Tidak perlu." "Baiklah." Zian mulai mengoleskan minyak gosok pada punggung Elara. Elara memeluk bantal untuk menutupi dadanya. Tangan Zian yang kasar mengoleskan perlahan demi perlahan, ia melakukannya sambil menahan nafas. "Tangan Papa Zi bergetar," ucap Elara. "Sudah belasan tahun aku tidak menyentuh wanita seperti ini." "Benarkah? Papa Zi 'kan bisa jajan diluar." Zian menggeleng." Laki-laki jika sekali mencicipi seperti itu maka seterusnya akan menjadi kebiasaan. Cari uang sangat susah ketimbang seperti itu lebih baik untuk jajan anak." Elara mengern

