Lagi-lagi kecolongan
*****
Entah kenapa aku sangat merasa terganggu kali ini dengan kehadiran Tiara.
"Dipta!"
Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Aku melipat sajadah dan menaruhnya di tempat semula dan bergegas keluar untuk menemui Tiara.
Aku harus melakukan ini, biarpun nanti aku kehilangan pekerjaan. Luna lebih penting dari itu semua. Semoga saja Tiara mengerti posisiku.
*****
"Dipt, ayo makan dulu! Aku bawain soto betawi kesukaan kamu nih," teriak Tiara yang terdengar dari ruang makan.
Aku bergegas keluar menghampiri Tiara dengab ponsel di tangan yang mungkin akan selalu kubawa, bila perlu sampai ke kamar mandi.
Untuk apalagi, kalau bukan menunggu balasan dari pesan-pesan yang kukirim untuk Luna. Centang dua tapi belum berubah warna jadi biru. Sepertinya, istriku belum mengecek ponselnya, padahal jika dihitung-hitung seharusnya mereka sudah tiba di rumah jam segini. Mengingat lokasi rumah mertuaku tidak terlalu jauh dari sini.
Mungkin, Luna masih sibuk dan belum sempat membukanya.
"Duduk dulu, Dipt! Biar aku ambil piringnya di dapur" ujar Tiara setelah melihatku.
Tanpa banyak komentar, aku mendaratkan tubuh di kursi. Melihat bungkusan sota di atas meja sudah membuatku ngiler. Apalagi perut belum diisi dari tadi.
Tiara muncul dengan perlengkapan makan di tangannya, entah kenapa malam ini dia mau turun ke dapur. Selama tinggal di sini, aku belum pernah melihatnya membantu Luna atau Mbok Asih memasak atau sekedar menata piring di atas meja.
Lagi-lagi aku merasa bersalah dengan Luna. Tanpa sadar aku sudah menukar posisinya dengan Tiara, padahal istriku tuan rumah. Tapi, setiap hari dia sibuk melayani Tiara dan aku. Seolah posisi Luna sama dengan Mbok Asih, sedangkan Tiara sudah seperti istriku.
Mendadak selera makanku hilang. Aku hanya menatap kosong pada soto yang sedang disiapkan Tiara.
Kamu sedang apa, Luna? Apa dia sudah makan?
Haha. Kenapa pertanyaan konyol itu muncul dalam kepalaku? Tentu saja Luna sudah makan. Keluarganya pasti memperlakukan istriku dengan baik di sana. Jauh berbeda saat dia tinggal di rumahku.
Kalau aku bisa menjaga Luna dengan baik selama ini, istriku masih di sini, tidak akan dibawa pulang keluarganya.
"Dipt,"
"Eh, iya Ra," jawabku kaget.
"Dari tadi dipanggil kok malah bengong. Ayo makan!"
Aku menatap ke arah dua mangkok soto yang sudah siap disantap. Kok aneh ya?
"Kamu belinya cuma dua?" tanyaku bingung.
"Iya, buat kita."
Dia tidak lupa 'kan di sini ada Luna. Kan Tiara belum tahu kalau Luna sudah pergi. Terus kenapa cuma dua. Atau jangan-jangan. Ah, semoga saja tidak benar.
"Buat Luna?"
Tega sekali kalau dia lupa dengan istriku. Apa Tiara tidak menganggap Luna ada selama ini.
"Eh ... itu aku kira ... eum Luna nggak suka soto. Jadi, aku cuma beli dua," jawab Tiara gelagapan sambil menggaruk kepalanya.
Lucu sekaligus perih. Kenapa aku baru sadar sekarang gimana posisi Luna di mata Tiara.
"Oh. Habiskan makananmu ! Aku tunggu di ruang tamu. Ada yang ingin kubicarakan."
Aku menggeser mangkok soto yang belum tersentuh sama sekali ke tengah meja.
" Terus kamu nggak makan? Kenapa kok tiba-tiba jadi nggak mau?"
" Maaf ya, Ra! Aku nggak bisa makan kalau istriku nggak ikut."
Aku gegas beranjak dari sana, tanpa menghiraukan Tiara.
Belum sampai lima menit aku di ruang tamu, Tiara sudah muncul menghampiriku. Sepertinya, dia tidak menyelesaikan makannya. Entahlah, aku tidak peduli. Aku merasa kecewa dengan sikapnya pada Luna.
"Dipt, aku minta maaf soal tadi. Aku ...."
"Lupain aja! Ada hal lebih penting yang mau aku omongin."
"Soal apa?" tanya Tiara saat sudah duduk di sofa.
"Sebelumnya aku minta maaf, Ra! Tapi, aku nggak bisa izinin kamu tinggal di sini lagi. Rumah tanggaku dengan Luna diambang kehancuran, tadi, Luna dijemput keluarganya, dan alasannya karena aku izinin kamu tinggal di sini. Aku harap kamu ngerti, Ra! Istri aku nggak nyaman ada orang luar di rumah kami. Selama ini dia selalu merasa tersisihkan karena kehadiran kamu. Luna jadi lebih pendiam, apalagi setelah dia mengalami keguguran dan aku malah lebih milih nganterin kamu."
"Apa? Jadi, Luna udah pergi? Segitu bencikah Luna sama aku? Sampai-sampai harus mengadu sama orangtuanya? Terus, kamu mau ngusir aku gara-gara Luna marah? Aku sahabat kamu loh Dipt. Kalau kamu nggak ngizinin aku tinggal, terus aku tinggal di mana sampai papa sama mama pulang. Kamu tahu 'kan aku paling nggak betah tinggal sama pembantu," ujarnya terdengar lirih.
Entah kenapa tidak ada lagi rasa simpati saat aku mendengarnya seperti waktu pertama kali Tiara minta tinggal di sini. Yang ada malah kesal. Tapi, aku tetap mencoba bersabar menghadapinya. Walau bagaimanapun, Tiara adalah orang yang pernah menolongku.
"Kamu bisa tinggal di apartemen." Aku memberi saran, walaupun alasan Tiara terdengar tidak masuk akal.
"Kamu tahu 'kan kenapa sampai sekarang aku tidak punya apartemen pribadi? Karena aku penakut kalau sendirian. Makanya ... aku tinggal di rumah kamu yang udah aku anggap keluarga. Aku tuh susah percaya sama orang, aku cuma percaya sama kamu, Dipt. Makanya aku milih tinggal di sini. Tapi, ternyata istri kamu nggak suka sama ...."
" Cukup Tiara! Aku nggak suka kamu nyalahin Luna atas kejadian ini. Bukannya aku lupa atas jasa-jasa kamu untuk aku. Aku masih ingat semuanya, tapi kamu tahu 'kan aku udah berumah tangga. Aku bukan lagi Dipta yang dulu, yang bebas punya teman perempuan sana sini. Sekarang beda, ada hati yang harus aku jaga, Luna istri aku."
"Selama ini aku salah karena ngizinin kamu tinggal tanpa lersetujuan dari Luna. Luna juga pemilik rumah ini, karena kami sudah menikah. Tapi, aku mengabaikan haknya demi kamu. Itu kesalahan terbesar aku hingga membuatnya pergi."
Aku memberi jeda dan menarik nafas dalam-dalam. Seketika muncul rasa iba melihat Tiara dengan muka sedihnya, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak mau kehilangan Luna dan jadi duda di usia 26 tahun seperti sumpah Riko.
"Sekarang aku ingin memperbaiki semuanya. Tolong kamu ngertiin aku. Aku ini suami orang, nggak seharusnya bawa perempuan tinggal serumah apalagi bukan kalangan keluarga. Apa kata orang-orang, bagaimana tanggapan keluarga Luna. Aku harap kamu ngerti, Ra. Kita nggak bisa lagi berteman sebebas dulu. Ada batas yang tidak bisa kita lewati."
"Ja–di ... kamu nggak mau lagi jadi sahabat aku, Dipt?"
"Maaf, Tiara! Kita bisa berinteraksi layaknya sesama teman kantor pada umumnya. Tidak sedekat sebelumnya."
"Aku nggak bisa,Dipt. Kamu tega ngomong gitu sama sahabat sendiri. Aku ...."
"Sekali lagi maaf Tiara. Tolong jangan membuat keadaan semakin buruk. Keputusan aku nggak akan berubah, sekalipun ... aku kehilangan pekerjaan." Aku berkata pelan, Tiara tampak kaget mendengar apa yang baru saja kukatakan.
Ya, aku sudah berpikir dengan matang. Apa yang baru saja aku ucapkan bukan hanya wacana. Aku sudah siap kehilangan semuanya, kecuali ... Luna.
"Tinggallah di apartemen atau rumah teman-teman kamu yang cewek. Aku yakin banyak kok teman-teman kamu yang tinggal di kota ini."
Semoga opsi kali ini berjalan, aku lumayan banyak kenal dengan teman-teman Tiara. Apalagi teman-teman satu angkatan.
Tiara tidak menjawab ucapanku. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan terdengar terisak. Sementara, aku memilih tetap diam walaupun merasa iba.
Rasa simpatiku mulai berkurang, setelah mengetahui bagaimana dia memperlalukan Luna. Biarpun Tiara sempat berkilah, aku tetap merasa sesak membayangkan istriku tidak dianggap sama sekali.
Aku sengaja memberinya waktu agar bisa mencerna semua ucapanku. Apapun alasannya, dia tidak bisa tinggal di sini lagi. Entah bagaimana menghadapi Pak Handoko nantinya.
"Maaf sudah merepotkan, Dipt! Maaf juga, gara-gara aku hubungan kamu dengan Luna jadi berantakan. Aku akan pindah dari rumah kamu. Soal pekerjaan, kamu nggak usah khawatir, aku nggak akan bilang apa-apa sama papa," seru Tiara beberapa saat kemudian sembari menghapus air matanya.
Seketika, ada rasa bersalah yang seketika muncul, saat Tiara bawa-bawa nama Pak Handoko. Huft.
Tidak-tidak. Aku harus fokus pada Luna. Hanya pada Luna.
"Terus kamu mau tinggal di mana sampai Pak Handoko pulang?"
"Eum ... di rumah Feni, teman aku. Ya nanti biar aku coba hubungi Feni. Ya kalau dia ... nggak keberatan sih."
Yaudah, hubungi aja sekarang! Nanti biar aku anterin. Ini 'kan udah malam, nggak baik kalau kamu pergi sendirian."
Tiara tampak salah tingkah mendengar perkataanku.
" Gimana ya Dipt? Aku nggak berani hubungin orang malem-malem gini. Takutnya ganggu, apalagi Feni biasanya lagi di luar jam segini. Ntar larut baru dia pulang."
"Terus gimana?"
"Izinin aku nginep di sini malam ini, please ya! Aku janji besok langsung pergi deh. Tolong ya, Dipt. Pokoknya besok aku akan langsung pergi," mohon Tiara dengan menangkupkan tangan di d**a.
Sebenarnya, agak aneh dengan alasan Tiara yang tidak berani menghubungi Feni karena takut mengganggu malam-malam. Padahal, sekarang kan baru habis magrib, belum larut.
Sepertinya, aku tidak punya pilihan, selain membiarkannya menginap sekali lagi. Aku juga tidak tega menyuruh Tiara keluar malam-malam begini. Yang penting, besok Tiara akan pergi seperti ucapannya barusan.
"Oke. Kamu boleh menginap satu malam lagi. Sekali lagi aku minta maaf! Istirahatlah! Aku mau tidur dulu."
Aku meninggalkan Tiara di sofa menuju kamar. Rasa sakit di kepalaku semakin terasa. Mungkin efek terlalu banyak pikiran. Entahlah.
Tapi, setidaknya, aku merasa sedikit lega sekarang. Dan kedepannya, tinggal fokus pada Luna.
Ah, mengingat nama Luna membuatku rindu berat.
Kamu sedang apa sih, Lun? Apa nggak kangen sama Mas, biarpun sedikit.
Tunggulah, Sayang! Mas pasti akan menjemputmu.
Di kamar aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan Luna. Ada banyak ketakutan yang tiba-tiba menghampiri dan menari-nari dalam kepala.
Bagaimana kalau Luna tidak mau memaafkanku dan menuntut berpisah?
Bagaimana kalau seandainya keluarga Luna diam-diam mendaftar perceraian kami ke pengadilan agama?
Bagaimana aku bisa hidup tanpa Luna? Ya Tuhan, sungguh aku begitu takut kehilangannya.
Tapi, mengingat perlakuanku padanya selama ini. Membuat dadaku semakin berdenyut. Aku benar-benar sangat keterlaluan sebagai suami.
Kumohon, Sayang jangan gegabah mengambil keputusan. Aku siap dihukum dengan cara apapun selain berpisah.
Sepertinya, aku harus memberitahu Luna soal Tiara. Agar istriku tidak lagi salah paham.
[Sayang, Mas sudah menyuruh Tiara pergi dari rumah kita. Mari kita perbaiki semuanya ya! Mas sangat merindukan kamu, Sayang] Send.
Semoga Luna membacanya.
*****
Pagi hari.
Aku terbangun hampir jam tujuh. Saat ku periksa ponsel, ternyata aku lupa mengatur alarm. Pantas saja. Aku lupa, jika Luna tidak di sini. Jadi, tidak ada yang membangunkanku seperti biasa.
Lihatkan, Sayang! Gimana jadinya aku setelah sehari kamu tinggal?
Aku nggak bisa kalau nggak ada kamu. Tanpa pakaian yang sudah disiapkan, tanpa senyumanmu yang sudah seperti sarapan.
Tanpa membuang waktu, aku langsung membersihkan diri dan siap-siap ke kantor sambil terus mengumpat dalam hati.
Sepertinya aku akan sial hari ini.
Saat keluar hendak ke garasi, aku dikejutkan oleha suara seseorang.
"Dipt, aku boleh numpang?" Aku menoleh heran pada Tiara yang sedang turun dari tangga. Dia belum pergi?
Sepertinya Tiara mengerti arti tatapanku. "Maaf, Dipt! Aku kesiangan jadi belum sempat beres-beres. Boleh ya aku ikut satu mobil dengan kamu? Nanti sepulang kerja aku langsung pergi."
"Ya udah. Yok!"
Aku mencoba memaklumi Tiara, walaupun merasa berbohong sama Luna. Semalam aku mengabarinya jika Tiara sudah pergi.
Aku bergegas memeriksa ponsel, ternyata Luna sudah membaca pesanku sekitar20 menit yang lalu.
Ada rasa bahagia yang tidak bisa kujelaskan, walaupun dia tidak membalasnya.
Kali aku memilih jalan yang agak sepi karena buru-buru. Sebenarnya banyak jalan yang bisa dilewati menuju kantor tempatku bekerja. Karena tempatnya yang strategis.
Tapi, untuk memangkas jarak di waktu kepepet seperti ini adalah lewat jalan ini, yang bisa dibilang dekat dengan rumah mertuaku. Di depan nanti akan ada persimpangan, jika ke rumah mertuaku tinggal belok kiri, jika ke kantor langsung lurus dengan jarak yang masih lumayan jauh.
Selama dalam perjalanan, aku dan Tiara lebih banyak diam. Hampir tidak ada percakapan di antara kami. Mungkin karena pembahasan semalam, sehingga terkesan canggung sekarang.
Ini lebih baik, aku harus bisa menjaga jarak dengan Tiara atau setiap lawan jenis. Aku akan berubah demi Luna.
"Eum, Dipt di depan sana ada warung bubur ayam. Boleh nggak kita berhenti sebentar. Aku laper banget, kamu juga belum sarapan 'kan? Nanti dibungkus aja, kita bisa makan di jalan."
"Iya boleh."
Aku juga merasa sangat lapar, sejak semalam belum ada makanan yang masuk.
Aku menepi di depan warung yang Tiara maksud. Aku mendesah lega. Sedang tidak terlalu rame, jadi tidak banyak memakan waktu.
"Biar aku aja yang turun," ujarku pada Tiara kemudian langsung keluar.
"Buk, bubur ayamnya dua ya. Di bungkus," ujarku pada ibu penjual.
"Baik. Sebentar ya!" Ibu itu bersikap ramah sembari melayani seseorang yang mengantri di depanku.
Sambil menunggu, aku mengamati sekitar sini. Masih tampak asri dengan banyak pepohonan di sekitar. Sejuk.
Aku tersenyum mengingat Luna, istriku suka sekali dengan bubur ayam yang di jual di warung-warung pinggir jalan seperti ini. Katanya lebih enak daripada di resto. Entah kapan terakhir kali kami jajan makanan pinggir jalan seperti ini.
Benar, setelah Tiara tinggal bersama kami. Aku jarang menghabiskan waktu dengan Luna.
"Ini kembaliannya. Makasih, Neng."
"Luna?!"
Aku tercengang melihat siapa yang baru saja berbalik. Jadi, yang sedari tadi mengantri di depanku Luna?
Dia mengenakan hoodie warna peach dengan bawahan celana dan sepatu sport. Dan menutup kepalanya, makanya aku tidak mengenal Luna dari belakang. Sepertinya Luna habis jogging.
Aku terpana beberapa saat, istriku tampak lebih seksi dan tampak segar. Padahal, baru sehari dia keluar dari di rumahku. Apa batinnya sangat menderita di sana?
Aku mencekal lengannya dengan cepat saat Luna hendak pergi. Aku tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sini.
"Lepasin!" ketus istriku.
"Sayang, kita harus bicara! Please!" Semoga Luna luluh dengan ucapanku.
"Dipta, udah belom. Kita udah telat nih."
Seketika aku kaget dan melihat Tiara yang sedang berjalan arah kami. Sementara, Luna menatapku ... sinis.
Bersambung ...