Bab 5 Pria Asing

1762 Kata
HAPPY READING ❤️ "Iya, sekalian belajar ... menggantikan posisiku." Deg. Tubuhku menegang, setelah mendengar ucapan istriku. Luna berucap sangat pelan, tapi masih bisa tertangkap oleh telingaku yang memang duduk di sampingnya. Maksudnya apa berkata absurd seperti itu? Apa Luna ingin meninggalkanku? Bukankah kami baru saja berbaikan. Sekarang istriku kenapa lagi? Wajah Tiara juga berubah tidak jauh berbeda sepertiku. Sedangkan Luna hanya tersenyum dan lanjut menikmati makanannya, tanpa terganggu sama sekali. Sementara aku tak berani bersuara karena takut akan berakhir dengan pertengkaran, apalagi di depan Tiara yang notabenenya orang lain. Kenapa istriku jadi penuh misteri. Aku sangat merindukan Luna yang dulu. "Kok pada tegang?" Luna menatapku dan Tiara secara bergantian. "Aku cuma bergurau, jangan dimasukkan hati, hehe," sambungnya lagi dengan kekehan kecil. Tiara tersenyum hambar, sediki dipaksakan. Mungkin tersinggung dengan candaan Luna. Tapi, aku merasa sedikit lega, setidaknya ... istriku hanya bercanda. Ya Luna hanya bercanda, kami sudah berbaikan bukan? Walaupun istriku masih terkesan dingin dan irit bicara, setidaknya Luna mulai mengerti dan mendengar penjelasanku tadi. Tapi, kenapa selera humor istriku aneh begitu. Dan senyum miliknya seperti menyimpan misteri. Kenapa Luna hobi sekali membuatku merasa takut begini. Ah, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal-hal yang membuatku pusing. Aku harus mempersiapkan diri dengan baik untuk presentasi saat meeting nanti siang. **** Dalam mobil, aku dan Tiara hanya membisu. Tidak seperti biasanya, yang asik bercerita banyak hal saat kami dalam perjalanan. Apa ini ada hubungannya dengan perkataan Luna tadi. "Ra, maaf ya! Kalau perkataan Luna tadi menyinggungmu. Tadi, Luna hanya bercanda, jangan dimasukin hati," ujarku menyesalkan sikap Luna. "Iya, nggak papa, Dipt. Aku cuma ngerasa Luna nggak suka aku tinggal di rumah kalian. Apa aku pulang aja, daripada nanti kalian bertengkar. Maaf ya Dipt, aku sudah merepotkan." Tiara menatapku dengan rasa bersalah. Aku yang tadi lega, kini mendadak begitu menyayangkan sikap istriku. "Ya ampun, Ra. Kamu itu sahabatku. Aku nggak ngerasa direpotin sama sekali. Ini nggak seberapa dari apa yang kamu lakukan untuk aku selama ini. Udah kamu jangan pulang sebelum papa sama mama kamu pulang! Soal itu biar aku yang bilang sama Luna nanti." "Makasih ya,Dipt. Semoga Luna nggak membenci aku lagi dan bersikap seperti beberapa hari yang lalu, waktu kamu keluar bersama Riko." Hah, apa Luna kembali macam-macam pada Tiara kalau aku sedang tidak ada. Benar-benar. "Bersikap seperti apa? Memangnya apa yang Luna lakukan pada kamu?" tanyaku panik. "Eum ... aduh gimana ya, Dipt? Aku nggak mau kalau kalian berantem cuma gara-gara aku." "Udah nggak usah khawatirkan itu. Sekarang kamu bilang sama aku Luna ngapain kamu?" "Waktu itu Luna ... Luna menyuruhku untuk cepat-cepat pergi dari rumah kalian dan menuduhku ingin merebut kamu darinya. Kamu tahu 'kan Dipt, aku gimana, aku nggak ada niatan buruk sama sekali. Aku hanya nggak betah tinggal di rumah kalau nggak ada mama sama papa, apalagi cuma sama pembantu. Aku mau tinggal sama kamu karena kamu udah seperti keluargaku. Maaf ya, Dipt! Gara-gara sikap aku yang kekanakan, istrimu jadi nggak nyaman dan membenciku." Tiara menjatuhkan kepalanya di pundakku yang sedang menyetir. Rasa bersalah dan kasihan membuatku tidak tega untuk menolaknya. Aku tidak percaya Luna sekejam itu, istriku adalah orang yang tidak tegaan sama orang lain. Luna juga wanita yang lembut dan baik. Tapi, melihat kesedihan Tiara dan sikap yang Luna tunjukan selama ini, bukan tidak mungkin istriku telah berubah. Denganku saja dia sudah berani membangkang, apalagi dengan Tiara. Sepertinya aku harus lebih tegas kali ini, istriku bukan lagi Luna yang dulu. Dia sudah keterlaluan. "Maafin aku, Ra. Aku belum bisa mendidik Luna dengan baik. Aku nggak nyangka dia berani seperti itu sama kamu. Udah jangan nangis lagi, biar nanti aku yang bilang sama Luna!" "Iya, Dipt. Tapi, tolong jangan dimarahin ya!" Tiara memang sangat baik. Dia bahkan masih membela istriku setelah apa yang dilakukan terhadapnya. Aku sangat beruntung memiliki teman sepertinya. Rasa risih yang tadi sempat hinggap karena Tiara yang masih bersandar di pundakku kini perlahan hilang berganti rasa bersalah karena mengingat kelakuan Luna yang tidak terpuji. Memalukan. Andai saja istriku tahu, bahwa Tiara bahkan masih membelanya setelah apa yang Luna lakukan karena alasan cemburu yang bahkan sudah membuatku muak mendengarnya. Kenapa akhir-akhir ini Luna bersikap egois dan membuatku kecewa? ***** Di Kantor. Aku membuka setiap laci untuk mencari berkas yang diperlukan untuk meeting nanti siang. Namun, setelah mencari ke sana ke mari, berkas itu tidak juga kutemukan. Sial. Kenapa hari ini banyak sekali hal yang merusak moodku. Tadi Luna, sekarang berkas itu. Nanti apalagi? Aku mengusap wajah dengan kasar. Rasanya ingin sekali meninju tembok, tapi sekarang bukan saatnya meluapkan amarah. Aku harus berpikir jernih untuk mengetahui di mana berkas itu? Jika hilang, bisa mati. Apa mungkin tertinggal di rumah? Mengingat aku sempat membawa pulang untuk menyelesaikan sisanya waktu itu. Spertinya aku harus pulang untuk mencarinya. Waktunya juga masih lama sampai meeting berlangsung. ***** Tanpa kusadari, mobil yang kukendarai dengan kecepatan tinggi sudah berbelok memasuki halaman rumah. Hufft, akhirnya sampai juga. Tunggu. Itu mobil siapa? Siapa yang datang ke rumahku pagi-pagi begini. Mama, itu bukan mobil mama. Apa orangtua Luna? Saat hendak turun dari mobil, tiba-tiba seorang pria yang tidak kukenal keluar dari rumahku. Lalu, disusul Luna di belakang. Mereka tampak berbincang di teras, bisa kulihat sesekali Luna sampai tertawa. Melihat cara mereka berinteraksi, sepertinya mereka sudah lama saling mengenal. Apa yang sedang mereka bicarakan, Luna bahkan sudah lama tidak menunjukkan wajah bahagia seperti itu saat bersamaku. Melainkan tatapan kosong, dan senyum terpaksa yang selalu ditunjukkan. Kira-kira siapa pria itu? Apa saudara jauh Luna. Jika memang iya, Luna pasti akan memberitahuku jika ada tamu. Aku bahkan belum pernah melihat pria itu sebelumnya. Sekilas, wajahnya tampak sangat mirip Hamid Fadaei, model Iran. Karena rasa penasaran, aku memilih berada di dalam mobil untuk melihat apa yang mereka lakukan. Dari sini aku bisa melihat dengan jelas mereka yang sedang berdiri di teras, sepertinya pria itu hendak pulang tapi, kenapa masih asik berbicara dengan istriku. Luna bahkan melihat ke sini, ke arah mobilku, berarti dia sudah tahu kalau aku sudah pulang, tapi mereka masih juga belum menyudahi. Mungkin, pria itu memang keluarga istriku. Aku harus segera keluar, mungkin mereka menungguku ke sana. Namun, saat ingin membuka pintu mobil. Tanganku seketika terhenti. Pria asing itu terlihat mengacak-ngacak rambut istriku. Seperti yang sering aku lakukan. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak dalam d**a. Tidak, bukan tindakannya yang membuatku berburuk sangka, walau merasa sangat risih. Tapi, tatapannya untuk Luna. Aku seorang pria jadi, tahu sekali arti tatapan yang pria itu berikan untuk istriku. Apa selama ini ... Luna bermain di belakangku? Rasanya tidak mungkin, istriku adalah wanita yang baik, walaupun tampak berubah akhir-akhir ini. Tapi, sebagai suami aku merasa terhina dengan apa yang pria itu lakukan. Seketika ingatanku melayang pada perkataan Luna pada Tiara tadi pagi. "Iya sekalian belajar ... menggantikan posisiku." Apakah itu ada hubungannya dengan apa yang sekarang aku lihat. Ah, memikirkannya saja, membuat tubuhku gemetar. Aku merasa takut jika hal yang tidak kuinginkan terjadi. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku harus segera turun untuk memastikan. Dan mengingatkan pria itu untuk tidak berlaku seenaknya pada istri orang. Apalagi sampai menatap Luna seperti itu. Dalam, lama dan terdapat rasa sayang yang menggebu yang bisa kutangkap dari tatapannya. Lucunya, bukannya merasa risih atau malu, istriku malah tidak canggung sama sekali. Apa Lunaku yang lugu dan polos benar-benar sudah berubah. Saat pintu mobilku terbuka, pria itu sudah lebih dulu masuk ke dalam mobilnya dan pergi. Mereka bahkan sempat melambaikan tangan segala. Cih. Menyebalkan. "Luna." Istriku yang sudah berbalik hendak masuk ke dalam menoleh ke arahku yang sudah berdiri di belakangnya. Lihatkan, padahal dia sudah melihat mobilku dari tadi, tapi tidak ada niatan untuk menyambut sama sekali. "Iya, Mas," jawabnya datar. Tidak kutemukan raut kebahagiaan seperti saat berhadapan dengan pria itu, tadi. Tatapannya juga masih seperti semalam, dingin dan tidak bisa kujelaskan. Tingkah Luna benar-benar membuatku geram. Aku merasa kurang dihargai. "Tadi, siapa?" tanyaku to the point. "Oh itu, Emir ... sahabat lamaku." Luna tampak sangat santai. "Kebetulan dia sedang di Jakarta, jadi ingin mampir." "Apa?! Sahabat? Kamu berani menerima laki-laki lain saat suamimu tidak ada dengan status sahabat?!" bentakku emosi. Dadaku naik turun, aku semakin dibuat murka dengan sikapnya. Apa seperti ini kelakuan seorang istri di saat suaminya bekerja. Luna tersenyum sinis lalu menatapku dengan tatapan meremehkan. "Aku hanya mengikuti apa yang imamku ajarkan. Ada yang salah?" Mengikuti imam? Apa maksud Luna? Raut wajahnya seperti menantangku. Apa dia ingin menguji kesabaranku. Belum sempat aku bersuara, Luna kembali melanjutkan perkataannya. "Apa yang salah, Mas?! Aku hanya menerima sahabatku untuk sekedar bertamu dan berbincang di sofa. Bukan menyuruhnya menginap di rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu dengannya dengan dalih pekerjaan! Apa yang salah?! Jawab, Mas jawab!" Luna membentakku dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa tidak tega, tapi aku harus tegas untuk membuat istriku sadar. "Jadi, kamu masi mempermasalahkan hal itu. Itu beda kasus Luna ...." "Beda? Emir juga sahabatku sama seperti Tiara," sahutnya datar. "Ya beda, aku dan Tiara murni berteman . Aku bisa melihat pria itu menatapmu dengan penuh cinta. Atau jangan-jangan kamu malah suka jika laki-laki itu memiliki rasa sama kamu." Aku benar-benar tidak tahan untuk tidak mengatakan apa yang aku lihat tadi. Aku kecewa dan ... cemburu. "Suka? Tentu saja tidak, Mas ... tentu saja aku tidak suka karena baru mengetahuinya sekarang. Mungkin jika aku tahu Emir menyukaiku dari dulu, aku sudah bahagia bersamanya. Bukan malah terjebak dalam pernikahan menyakitkan ini. Apa kamu tahu Mas, menjadi istrimu adalah hal yang kusesali ...." PLAK. Tanganku bergetar. Rasa cemburu dan rasa sakit setelah mendengar perkataan Luna membuatku khilaf. Luna baru saja mengatakan menyesal hidup denganku. Perih. "Sayang ... maaf! Mas tidak sengaja menyakitimu. Mas hanya tidak suka mendengar apa yang kamu katakan barusan. Maafin, Mas!" Namun, istriku tidak bergeming. Bekas tanganku tampak terlihat samar di pipinya. Ya Tuhan apa yang sudah aku lakukan. Belum pernah aku sekasar ini pada Luna. Saat ingin menyentuh pipinya yang tampak memerah, Luna memundurkan tubuhnya ke belakang. Dan berlari masuk ke dalam meninggalkanku dengan segenap rasa bersalah. Ya Tuhan apa yang baru saja kulakukan? Tanpa membuang waktu, aku bergegas menyusul Luna untuk meminta maaf. Tapi, sampai di depan kamar kami. Pintunya dikunci dari dalam. Istriku pasti sedang menangis karena ulahku. "Sayang, buka pintunya!" "Ayo kita bicara! Mas tidak bermaksud menamparmu. Lun!" Hampir setengah jam aku berdiri di depan pintu. Memanggil, menggedor. Tapi, tidak ada tanda-tanda Luna akan keluar. Tiba-tiba aiu teringat tujuan aku pulang ke rumah. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin meninggalkan Luna dalam keadaan seperti ini. Tapi, nanti siang ada meeting dengan setiap kepala divisi dan aku yang bertugas untuk presentasi. Setelah berpikir keras, aku bergegas ke ruang kerja di lantai dua. Aku akan mencoba berbicara pada Luna setelah pulang dari kantor, nanti. Maafkan, Mas, Luna! *** Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN