Menjelang sore hari Reyna baru tiba di rumah kontrakannya dengan naik ojek. Ria tampak tercengang ketika melihat temannya pulang dengan wajah yang berseri-seri.
"Ria, gue dapat kerjaan, jadi sekretaris dan asisten pribadi orang kaya." Reyna kemudian menceritakan kenapa dia bisa mendapatkan pekerjaan itu dan berapa gaji yang akan diterimanya.
“Nasib lu hoki banget Rey, enak dong nggak keluar duit buat makan dan bayar kontrakan. Ajak-ajak gue dong!” ujar Ria yang jadi ikutan pengen.
Dengan penuh syukur Reyna pun berucap, “Alhamdulillah .., semoga gue betah di sana. Nanti kalau ada lowongan lagi, gue langsung kasih tahu lu ya,” sambungnya kemudian.
“Oke, tapi hati-hati Ren! Jangan-jangan lu mau dijadikan sugar baby lagi," celetuk Ria asal ceplos.
“Sembarangan, Pak Wily itu sangat baik, sopan dan ramah lagi, " ujar Reyna mengatakan apa adanya.
Ria kembali menyahuti, "Lu baru mengenalnya Rey. Belum tahu sifat aslinya!"
"Makanya gue nggak mau disuruh menginap di sana," ujar Reyna yang tetap waspada.
Ria kemudian memberitahu, "Oh ya, tadi kata tetangga sebelah ada cowok yang nyariin lu."
"Siapa tuh orang, mau apa cariin gue?" tanya Reyna dengan heran.
"Ya mana tahu, kan gue belum pulang kerja. Jangan-jangan dia orang suruhan Farel. Tapi mau apa ya dia cari lu?" sahut Ria sambil mengangkat kedua bahunya.
Reyna kemudian menebak, "Kalau dia orang suruhan Farel, berarti posisi gue udah nggak aman lagi tinggal di sini. Apa gue terima aja tawaran Pak Wily untuk tinggal di rumahnya ya?"
"Gue rasa itu lebih baik, kayaknya Farel belum puas bikin perhitungan sama lu," ujar Ria memberikan pendapatnya.
"Bener, lu nggak apa-apa gue tinggal sendiri kost di sini?" tanya Reyna kemudian.
"Iya lu tenang aja, gue akan baik-baik saja!" timpal Ria yang tidak masalah kalau Reyna mau pergi.
Reyna menghela nafas panjang dan bertanya, "Bilang aja lu mau bebaskan kalau diapelin sama Dio kan?"
"Tahu aja lu," sahut Ria sambil tersenyum.
Reyna tampak menggeleng seraya berkata, "Bisa-bisanya ngarang cerita dasar modus lu!" Ia segera menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhnya.
Ria tampak terkekeh melihat Reyna yang sangat serius dikerjai olehnya.
Malam baru saja merambat jauh, Reyna tampak berbaring di atas kasur untuk beristirahat. Besok dia harus berangkat pagi-pagi agar tidak datang terlambat datang ke rumah Pak Wily. Namun, baru saja hendak memejamkan mata tiba-tiba ponselnya berdering.
"Pak Toni," lirih Reyna dengan heran. "Halo Pak, ada apa?" tanya gadis itu kemudian.
"Halo Mbak Reyna bisa datang ke rumah sekarang. Sakit jantung Pak Wily kambuh. Saya telepon Tuan Muda tidak aktif, dokter yang biasa merawat beliau sedang ke luar kota. Jadi tolong bantu saya bujuk Pak Wily agar mau dibawa ke rumah sakit!" seru Pak Toni memberitahu.
"Apa?! Saya akan datang ke sana sekarang Pak!" ujar Reyna mengakhiri percakapan itu dan langsung memasukan ponselnya ke dalam tas kecil. Lalu segera pergi ke rumah Pak Wily.
**
Ketika sampai di tempat tujuan, Reyna langsung menuju ke kamar Pak Wily. Pak Toni dan asisten bagian pantry tampak menemani dengan wajah yang tegang.
"Pak, ayo kita ke rumah sakit!" ajak Reyna yang melihat Pak Wily sedang berbaring di atas kasur.
"Saya tidak apa-apa Rey, hanya butuh istirahat saja. Sudah aku bilang jangan panggil Reyna Ton!" sahut Pak Wily yang sudah merasa jauh lebih baik.
"Maaf Pak, saya panik," ujar Toni yang bertindak mengikuti nalurinya saja sebagai pengawal dan supir pribadi.
"Iya tidak apa-apa, maaf sudah merepotkan kalian semua. Tolong antarkan Reyna pulang ya Ton, kalau mau menginap tunjukkan ke kamar tamu!" ucap Pak Wily yang tidak mau menyalahkan Toni.
Akhirnya setelah gagal membujuk Pak Wily ke rumah sakit, Reyna, Pak Toni dan asisten lainnya segera ke luar dari kamar itu.
"Kalau menurut saya sebaiknya Mbak Reyna tinggal di sini saja. Sampai Pak Suryo asisten pribadi Pak Wily kembali dari cutinya!" saran Pak Toni yang khawatir dengan kesehatan majikannya.
"Betul itu Mbak, kasihan Pak Wily kadang suka lupa minum obat!" sahut Mbak Rumi menimpali.
Reyna tampak berpikir sesaat dan memutuskan, "Baiklah mulai malam ini saya akan tinggal di sini. Tapi besok tolong antarkan saya untuk mengambil barang-barang ya Pak!" pintanya yang dijawab anggukan oleh Pak Toni.
**
Sementara itu Darel dan teman-temannya sedang berkumpul di salah satu klub malam yang terkenal cukup elit.
"Malam ini kalian boleh minum sepuasnya, nanti aku yang bayar!" ujar Rio yang sedang berulang tahun.
"Oke Bro, happy birth day, sukses terus ya!" ucap rekan-rekan Rio bergantian.
Mereka kemudian mulai memesan berbagai merek minuman beralkohol, kecuali Farel.
"Awas kalau sampai mabuk, aku tinggal kamu!" ancam Farel ketika Roy memesan martini.
Dengan santai Roy pun menjawab "Cuma segelas, sudah beberapa kali Pak Toni menelepon Bos," ujarnya memberitahu.
"Jangan diangkat, abaikan saja!" seru Farel yang dijawab anggukan oleh Roy.
Farel memang sangat menjaga kesehatan tubuhnya. Ia tidak membiasakan diri untuk merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol dan melakukan seks bebas.
"Masih alim saja kamu Rel, jangan-jangan bercinta pun belum pernah lagi. Ha .., ha ...," ledek salah satu teman membuat yang lainnya ikut tertawa kecil.
Farel hanya tersenyum simpul baginya candaan mereka seperti angin berlalu yang tidak akan mampu menggoyahkan prinsipnya.
Tiba-tiba datang tiga orang perempuan cantik dan seksi yang ikut membaur dengan mereka. Salah satunya Farel mengenal dengan baik dia adalah Lusi.
"Halo Rel, apa kabar senang bertemu denganmu," ucapnya sambil duduk di sebelah Farel.
Sambil memasang wajah acuh tak acuh Farel menjawab dengan singkat, "Baik."
Lusi tampak tersenyum mendengar jawaban Farel. Jemari lentiknya kemudian mengambil segelas martini dan meneguknya dengan perlahan.
"Kenapa kamu masih saja begitu kepadaku, dingin dan cuek. Takut kalau kita dijodohkan?" ujar Lusi yang merasa tersinggung dengan sikap Farel. "Kalau mau, aku bisa memilikimu dengan mudah. Tapi aku bukan wanita seperti itu."
Farel tidak menanggapi omongan Lusi. Akan tetapi, kalau dipikir-pikir ada benarnya juga wanita itu berkata demikian. Lusi adalah putri salah satu konglomerat di Indonesia yang harta keluarganya tidak habis tujuh turunan. Dengan apa yang dimilikinya ia bisa melakukan apa pun karena kedua orang tua mereka berteman baik.
Namun, Farel tidak nyaman berteman dengan Lusi yang sangat posesif dan menganggap semua pria itu kedudukannya lebih rendah darinya. Wanita itu merasa sombong dengan apa yang dimilikinya.
Dengan gemulai Lusi pindah tempat duduk. Seolah dia meninggalkan Farel dan memilih bersama yang lain. Lagi-lagi Farel tidak merespon sikap Lusi seperti itu, tetapi membuatnya jadi tidak mood lagi dan illfeel.
"Sory semuanya, aku duluan ya," pamit Farel yang segera meninggalkan tempat itu dan disusul oleh Roy.
"Kenapa buru-buru pulang sih?" protes Rio yang diabaikan oleh Farel.
Roy yang masih ingin menikmati malam di klub itu segera mengikuti Farel. Ketika sampai di parkiran, ia segera mengeluarkan kunci mobil dan menekannya. "Miss Lusi cantik banget ya Bos," pujinya ketika sampai di dalam mobil.
"Hemm ...." Farel tidak menyahuti, tetapi sudah cukup membuat Roy mengerti.
Roy tahu Farel tidak suka sama Lusi yang cantik dan seksi. Entah wanita seperti apa yang mampu menaklukan hati bosnya itu. Padahal menurutnya Farel dan Lusi itu cocok. Meraka itu sebelas dua belas, sama-sama egois dan penuh ambisi.
"Baru kali ini Pak Toni menghubungi saya sebanyak itu. Jangan-jangan telah terjadi sesuatu di rumah. Apa kita pulang saja ke rumah Bos?" tanya Roy sambil fokus menyetir.
Farel terdiam dan menelaah apa yang dikatakan oleh Roy. Haruskah ia pulang malam ini? Sungguh semua di luar rencananya.
BERSAMBUNG