Bidak

1154 Kata
Sudah beberapa minggu berlalu sejak pertama kali Sora meminta bantuan Kairi untuk mencari bukti perselingkuhannya. Meski begitu, yang dimintai bantuan tak kunjung memberikan bukti apapun. "Akeno membutuhkan uang lagi," kata Kairi. Mereka berdua saat ini tengah berada di sebuah kafe kecil yang tidak begitu ramai. Kana tidak masuk sekolah hari ini karena sedang berkunjung ke rumah neneknya. Maka dari itu, mereka tidak bertemu di sekolah seperti biasanya. Wanita itu berbicara seolah hal yang sangat sepele. Ya, itu karena bukan ia yang harus mengeluarkan uang. Dia dengan santai menyesap kopi yang masih hangat. sedangkan lawan bicaranya menautkan jemarinya. "Aku tidak bisa memberikan uang lagi, Kairi," ucap Sora pelan nyaris tidak terdengar. Sebelah alis Kairi terangkat. Cangkir menggantung di ujung bibirnya. Lalu ia letakan perlahan dengan memberikan tatapan tajam pada Sora yang tengah menunduk. "Apa maksudmu?" Sora tampak salah tingkah. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Kau tahu? Sudah banyak uang yang kukeluarkan sampai saat ini. Akihiko mulai mempertanyakan ke mana saja uang itu. Tidak mungkin bagiku untuk mengatakan yang sebenarnya. Terlebih lagi setelah kami sering bertengkar akhir-akhir ini," jelasnya. Mata Kairi menyipit. "Kau bertengkar dengan Akihiko karena menuduhnya berselingkuh?" "Ya. Tentu saja. Kau melihat secara langsung, kan? Aku sudah menjelaskannya. Lalu dia malah menuduhku tengah berkhayal. Karena aku terus menuduhnya berselingkuh, ia pun meminta bukti. Tapi ... kau ahu sendiri yang terjadi." Kairi tidak suka ini. Bukan hanya pemberian uangnya yang tersendat, tetapi juga rasa percaya Sora yang menurun. Jika itu terjadi, maka dapatkan dipastikan ia kehilangan tambang emas. Selama beberapa minggu ini, kehidupan Kairi bagaikan di surga. Dirinya bisa membeli berbagai macam benda mahal dengan uang pemberian Sora. Tas baru, baju mahal, alat rias berkualitas, perhiasan, dan bahkan ia bisa pergi ke salon ternama. Kairi sudah mulai terbiasa hidup dengan segala kemewahan instan itu. Tidak mungkin baginya untuk melepaskan semua begitu saja. Ia tidak rela. "Tapi kau tahu sendiri jika mencari bukti juga bukan barang mudah. Akeno sudah berusaha keras untuk melakukan tugasnya. Apa kau tega membiarkannya bekerja tanpa imbalan?" Kairi sengaja memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya. Dengan memanfaatkan empati dan kenaifan Sora, ia ingin menekan psikologisnya. "Tentu, aku tega. Namun, aku harus bagaimana? Aku sudah tidak memiliki tabungan. Uang bulananku saja sudah sangat terbatas karena Akihiko mulai membatasi pengeluaran." Sora sendiri tidak bisa melakukan banyak hal lagi seperti dulu. Akihiko mencurigainya menggunakan uang untuk kepentingan yang tidak perlu. Tidak mungkin baginya untuk memaksa sang suami membayar jasa seorang detektif yang tengah memata-matainya. Kairi mengetukan sebelah jari telunjuknya ke atas meja. "Aku memiliki ide." Kepala Sora yang tadinya menunduk, kembali terangkat. "Benarkah?" Ada nada penuh harap dalam suaranya. Sebuah senyuman penuh arti menghias wajah Kairi. "Bagaimana kalau kita ke rumahmu? Aku bisa memberitahukanmu di sana." *** "Wah, kau memiliki selera yang bagus dalam emilih tempat tinggal, Sora," puji Kairi melihat megahnya bangunan apartemen tempat keluarga Igarashi tinggal. "Menurutku, memiliki rumah masih lebih baik. Karena lingkungan apartemen terkadang kurang bagus untuk perkembangan anak." Kairi mendecih dalam hati. Peduli setan dengan lingkungan untuk membentuk pekembangan anak. Dengan senang hati, dirinya akan memilih tinggal di apartemen ini dibandingkan tinggal di rumah pinggir kota temparnya sekarang seandainya memiliki uang dan jabatan seperti keluarga Igarashi. Toh, bagaimana pun lingkungannya, anak-anak tetap akan berkembang dengan sendirinya. "Silakan masuk," ucap Sora mempersilakan Kairi masuk. Kairi tidak bisa lebih terpana lagi melihat kemewahan yang menyilaukan di ruangan itu. Seolah setiap sudut ruang di sana berhias benda-benda mahal yang tidak mungkin sanggup ia beli. Ah, ini surga, batin Kairi. Sudah lama ia memimpikan kehidupan seperti ini. Tapi pernah sekalipun ia dapatkan. Yang ada justru ia harus berpindah tempat dari satu rumah kumuh ke rumah lainnya karena menghindari penagih hutang yang mengejar orang tuanya. Mereka sekeluarga bahkan harus mengganti identitas beberapa kali untuk bersembunyi. Pengalaman yang sama sekali tidak indah untuk dikenang. Berbeda dengan kehidupan Sora. Wanita itu pastinya selalu merasakan kehidupan bagai ratu sepanjang hidupnya. Sial. Ia jadi makin membenci Sora. "Kau juga senang memajang keramik seperti ini, Sora?" Kairi bertanya sambil mengambil salah satu bidak catur kecil antik yang terbuat dari tembikar. Bidak-bidak itu berdiri di atas papan catur dengan tidak beraturan. Sepertinya bidak itu habis dimainkan. "Bukan aku, tapi Akihiko. Dia senang mengoleksi benda-benda antik." Sora mendekat pada Kairi. Lalu ikut menatap bidak di tangan temannya. "Kami sempat berdebat ketika ia akan membeli papan catur ini. Aku lupa di negara mana ia membeli yang satu itu. Yang kuingat ketika ia pulang ke hotel dengan membawa benda itu, aku marah besar karena harganya yang terlalu mahal. Menurutku benda yang hanya dipajang tidak perlu mahal. Tapi berbanding terbalik dengan pendapatnya," kata Sora menjelaskan. Kairi meletakan kembali bidak itu ke tempatnya sedikit kasar. Sora yang melihatnya sempat terkejut sebelum ia menatap Kairi dengan senyum kikuk. "Itu ... salah satu benda kesayangan Akihiko. Mungkin kau bisa meletakannya lebih hati-hati lain kali." "Oh, maaf. Aku tidak tahu," sahut Kairi sekenanya. Wanita itu tidak peduli. "Boleh aku lihat kamar kalian?" Kairi berjalan menuju salah satu ruangan yang ia predeksi itu adalah kamar utama. Sora segera menyusulnya. "Ah, itu bukan kamar utama. Itu kamar Kana." Ternyata yang Kairi buka bukanlah kamar utama, melainkan kamar anak keluarga Igarashi. Kamar anak mereka saja sebenar ini, apa lahi kamar utamanya? Kamar Kana terlihat begitu cerah meski tidak terlalu banyak boneka seperti di film yang pernah Kairi tonton. "Lalu di mana kamar kalian?" Kairi kembali menutup pintu dan berbalik menghadap Sora. Sora tersenyum dan menuntun Kairi ke kamar utama. Sekali lagi,Kairi terperangah melihat isi kamar Sora dan Akihiko. Ukuran kasur yang sangat besar dengan seprai berwarna emas kecokelatan dan motif klasik, lemari berukiran rumit, dan jangan lupakan lemari kaca penuh barisan tas mahal. Kairi mendudukan diri di atas kasur empuk itu, meraba halusnya kain sprei dengan tangan. "Kau pasti selalu tertidur pulas di kamar ini?" Sora tersenyum,"Tidak juga. Terkadang aku bermimpi buruk." Tidak mungkin. Di atas kasur seempuk dan selembut ini, siapapun pasti tertidur pulas seperti puteri dongeng. "Aku baru menyadarinya. Tidak ada foto pernikahan kalian di kamar ini," ujar Kairi. "Ah, itu. Aku melepasnya setelah bertengkar dengan Akihiko. Dia melempar sesuatu ke sana ketika kami berdebat dan membuat kacanya pecah tempo hari. Jadi, aku meletakannya di gudang." Kairi melirik sekila spada Sora yang tampak menunduk dari sudut matanya. "Biasanya orang memang mudah marah ketika ketahuan bersalah." Sora tidak menjawab. Lalu Kairi meneruskan, "Mengenai rencana yang tadi kubicarakan. Bagaimana kalau kau menjual barang-barang berhargamu?" Sora yang awalnya antusias berubah heran. "Apa?" "Ya, kau kan memiliki banyak benda mewah yang dipajang. Tentu tidak masalah bila dijual sebagian. Apalagi papan catur dari tembikar itu. Nilainya pasti tinggi." "Itu ... Papan catur itu sering dimainkan oleh Akihiko saat senggang. Rasanya tidak mungkin jika harus menjualnya," tolak Sora halus. "Kalau begitu lainnya. Akihiko tidak mungkin hapal semua benda pajangan itu, kan? Kau juga bisa menjual tas-tasmu itu." "Hm, baiklah. Aku akan memikirkannya." Kairi tahu pada akhrinya Sora tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti sarannya. Selama perjalanan hidupnya menipu orang, Sora adalah yang paling berkesan dan paling memberikan banyak keuntungan. Ia ... sangat bahagia mengenal Sora.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN