Jasa Membantu

1096 Kata
"Ini oleh-oleh yang kubilang semalam, Kairi. Kuharap kau menyukainya." Kairi menyambut dengan bahagia cinderamata dari Sora. Tas pembungkusnya terlihat sangat menawan dengan lukisan gunung yang diberi sentuhan sedikit warna keemasa. Nampak elegan dan mewah. Pastilah barang ini berharga mahal. "Boleh kubuka sekarang?" tanya Kairi dengan antusias berlebih. Ia bagaikan anak kecil yang menerima kado di hari ulang tahun dan tidak sabaran ingin mengetahui isinya. Sora mengangguk sekali. Wajahnya berhias senyuman senang. Tanpa menunggu aba-aba, Kairi langsung membukanya. Meski sangat antusias, ia tetap berhati-hati membuka kertas pembungkusnya. Kertas itu terlalu indah untuk dirusak dengan kasar. Manik kecokelatan Kairi langsung berbinar senang. Cahaya di matanya nampak bersinar cerah begitu melihat pemberian Sora. "Kau menyukainya?" tanya Sora sambil memperhatikan wajah ibunya Hayate. "Tentu saja. Aku tidak pernah melihat warna mangkuk yang secantik ini," jawab Kairi dengan nada bersemangat. "Syukurlah" sahut Sora lega. "Tadinya kupikir kau tidak akan menyukainya. Karena kau pernah bilang tidak menyukai benda yang mudah pecah mengingat Hayate yang sering kali menjatuhkan piring di rumahmu." Kairi menoleh pada Sora dengan cepat. Lalu berkata, "Ya. Memang begitu. Tapi kali ini aku akan benar-benar menjaga dan merawatnya. Aku tidak akan membiarkan Hayate menyentuh mangkuk ini." Kemudian keduanya tertawa renyah bersama. "Jika kau akan menyimpannya, bukankah mangkuk itu akan kehilangan fungsinya?" Pertanyaan Nyonya Igarashi itu dijawab dengan enteng oleh Nyonya Takara. "Ya, mungkin memang begitu. Tapi bukankah orang-orang kaya juga suka memajang benda-benda seperti di lemari kaca mereka? Aku rasa aku juga bisa memajang yang satu ini di rumah." Keduanya kembali tertawa merdu. Lalu Kairi teringat rencananya hari ini. Wanita itu berdeham sekali. "Lalu bagaimana dengan yang kita bahas semalam? Apa kau setuju?" Dengan begitu hati-hati, Kairi kembali membungkus mangkuk itu. Ia pangku tas kertas tadi dan memeluknya seperti benda paling berharga baginya agar tidak dicuri oleh orang lain. Ini adalah benda mewah pertama miliknya. Dan untuk ke depannya, ia akan memiliki lebih banyak lagi hal-hal mewah seperti yang dimiliki oleh Nyonya Sora Igarashi. Sora nampak terdiam. Mereka duduk sedikit menjauh dari barisan ibu-ibu lain. Meski begitu, Kairi bisa melihat beberapa di antara mereka saling berbisik dan melirik pada cinderamata yang ia pangku. Mereka pasti iri setelah melihatnya, pikir Kairi. Ia merasa menang. "Apa kau sungguh bisa membantuku?" tanya Sora ragu. Kairi kembali fokus pada Sora yang tampak memainkan jemarinya di atas tas selempang kecil berwarna cokelat tua. Benda mahal lainnya yang membuat Kairi ingin memilikinya. "Tentu saja. Aku memiliki kenalan seorang detektif yang sangat andal dalam mencari orang hilang. Tentu ia akan dengan mudah menemukan bukti tentang perselingkuhan Akihiko," jelas Kairi panjang lebar. Ia sungguh berharap keluguan Sora kali ini akan terpikat dengan kalimatnya barusan. "Tapi Akihiko belum tentu berselingkuh. Aku hanya menaruh kecurigaan saja." Mendengar penuturan itu, Kairi tidak bisa tinggal diam. Dia harus bisa membuat Sora percaya bahwa Akihiko Igarashi telah berselingkuh. "Ya, aku tahu. Maka dari itu kita membutuhkan bukti untuk mengetahuinya, kan? Bisa saja dugaanmu salah. Dan pasti lebih melegakan jika memang terbukti Akihiko tidak melakukannya," bujuk Kairi. Mungkin Sora tidak menyadarinya saat Kairi memanggil nama suaminya dengan nama depannya. Bukan dengan nama keluarga seperti orang lain. Ia sengaja melakukannya agar Sora secara tidak sadar mengakui kedekatan dirinya dengan wanita itu dan akhirnya akan mengikuti semua ucapannya. Sora menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya berat. Tentu saja, istri mana yang tidak akan kepikiran jika suaminya berselingkuh. Melihat kegundahan Sora, Kairi memegang bahunya, meyakinkan sekali lagi bahwa tidak ada salahnya untuk mencoba. Toh apapun yang terjadi, semua keputusan akan kembali kepada Sora dan Akihiko. "Baiklah. Aku setuju untuk menggunakan jasa detektif itu." "Bagus." Kairi tanpa sengaja mendesah lega. Untung saja Sora tengah tidak memperhatikan. "Kalau begitu bagaimana caraku menghubungi detektif itu?" "Ah, detektif itu adalah temanku. Dia sangat sibuk. Jadi, biar aku saja yang menghubunginya. Kau cukup memberikan uang mukanya padaku." Mata Kairi berbinar penuh harapan akan uang yang segera ia dapatkan. "Tidak bisakah jika aku saja yang menghubunginya? Aku akan dengan mudah menjelaskan situasinya secara langsung," ucap Sora. Kairi berdecak dalam hati. Untuk urusan uang sebelumnya, temannya itu tidak masalah. Dengan mudahnya Sora mengeluarkan lembaran bernominal itu saat Kairi hendak meminjamnya. Kenapa sekarang ia menjadi lebih berhati-hati? Mungkinkah sebenarnya ia tidak sepenuhnya percaya pada Kairi? Sial, Kairi harus mengambil tindakan. "Apa kau tidak mempercayaiku?" Sora buru-buru menggeleng. Ia tidak ingin teman baiknya di kota ini salah paham. Kairi adalah teman baik pertamanya setelah kepindahannya sekeluarga. Jadi, ia tidak ingin jika Kairi berpikir yang tidak-tidak tentangnya. "Bukan begitu, Kairi. Sungguh aku mempercayai dirimu. Bahkan karena aku mempercayaimu, aku sampai membahas keraguanku hanya kepadamu," jelas Sora. "Lalu kenapa kau terdengar meragukanku begitu?" desak Kairi. Sora menggenggam tangannya erat. Dari sudut pandang Kairi, ia tahu ia sudah berhasil membuat Sora merasa bersalah padanya. "Hanya saja ... ini adalah masalah rumah tangga kami. Aku tidak ingin ada orang lain yang mengetahuinya. Karena jika perselingkuhan itu benar, tentu akan menjadi aib bagi keluarga kami." Kairi berpikir sejenak. Ia harus mencari akal. "Apa ... kau menganggapku sebagai orang lain?" Entah kenapa ia mengatakannya. Itu hanya untaian kalimat yang meluncur begitu saja sebelum sempat ia pikirkan dengan matang. Sora menggerakan kedua tangannya secara bersamaan di depan d**a. "Tidak. Kau bukanlah orang lain. Kau adalah temanku paling berharga. Karena kau adalah temanku satu-satunya di kota ini," ujar Sora pelan. Ia sendiri terlihat malu ketika mengatakannya. Namun, berbanding terbalik dengan Kairi yang mendengarnya. Hal itu seperti sebuah jimat keberuntungan baginya. "Kalau begitu, kau tidak perlu malu menjelaskan semuanya padaku. Aku akan tetap menjaganya sebagai rahasia di antara kita." Sora memberikan tatapan yang sama seperti nada bicaranya sebelumnya. Kairi menjadi tidak sabaran. Apa lagi sih yang ditunggu wanita naif ini? Tinggal mengiyakan saja, apa susahnya? "Baiklah baiklah. Kalau begitu aku saja yang mengalah. Aku akan memberikan nomer ponsel temanku itu. Kau bisa menghubunginya sendiri," ucap Kairi akhirnya. Untuk kali ini saja, ia akan mengalah pada Sora Igarashi. Pertama dan terakhir kalinya. Sora merubah ekspresinya. Ia terlihat semakin tidak enak pada teman baiknya itu. Apakah wanita itu tersinggung? Oh, tentu saja. Dari cara Kairi meresponnya saja sudah terlihat. "Apa kau tidak apa-apa? Kau marah padaku?" Kairi sengaja mengabaikannya. Ia ingin membuat Sora semakin merasa bersalah padanya. Tangannya sibuk mencari kontak seseorang yang bisa ia ajak kerjasama. Kairi yang tidak kunjung menjawab pertanyaan, sempat membuat Sora ingin menyerah dan membiarkan Kairi mengurus semua untuknya. Namun, wanita itu segera memberikan nomer ponsel seseorang padanya. "Catatlah. Namanya Akeno Bullet," katanya acuh. Karena salah tingkah, Sora jadi tergagap saat menanggapi perkataan Kairi. Ia bahkan sampai salah memencet tombol. Kairi tidak peduli dengan kekikukan Sora. Yang ia pedulikan hanyalah seseorang yang kemungkinan akan dihubungi oleh Sora nanti. Ia harus memastikan, suaminya, Takara Yamada, mau berkerjasama dengannya dalam menipu ibu dari Kana ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN