Para pria di sana yang memiliki posisi ingin mengambil pistol di belakang tubuhnya seketika berhenti bergerak. Aria menggunakan Ruben sebagai pelindungnya. Aria tidak tahu apakah dia sudah bisa lega sekarang atau tidak namun dia sudah mengucapkan terima kasih kepada Tuhan berulang kali di dalam hati dengan tubuh gemetarnya. Untung saja kru sebelumnya memberinya pisau kecil ini. Dia menyimpannya di dalam saku celananya dan Ruben beserta anak buahnya tidak memeriksanya. Akan tetapi walaupun begitu, Aria masih saja gemetar. Terlihat jelas tangannya yang memegang pisau lipat dengan kuat sampai tidak sadar benda pipih dan tajam itu juga menyakiti kulit tangannya. “Oke, oke. Tidak apa-apa…” Ruben menenangkan Aria dan juga bawahannya. “Omong-omong, apa itu pisau sungguhan? Bukan mainan?” “Kau

