Dengan mulut penuh makanan, Gia melirik ke pintu. Tiap kali orang yang datang bukan orang yang dia pikirkan selalu membuatnya menghela napas keras. Dia mengaduk-ngaduk makanannya dan kembali mengulangi hobi barunya beberapa menit ini. “Kak Gia mengkhawatirkan Kak Aria?” Tanya Juno yang makan di depannya. Dan Gia mengangguk. “Sangat.” Juno pun mulai mengambil ponselnya. Dia hendak ingin mengirim pesan singkat ke seseorang tepat ketika mendengar nada tajam dari Gia. “Jika aku melihat jarimu bergerak lebih jauh, demi Tuhan aku akan memotongnya dengan sendokku.” Berdesis, Juno meletakkan ponselnya sambil tertawa. “Aku tahu kau ditugaskan di sini untuk mengawasi Aria atas perintah kakak seppupumu, tapi bukankah kau sungguh kejam jika melakukannya di belakang Aria? Setidaknya tunggu wan

