Episode lima

1276 Kata
Mencintai tanpa di cintai Menyayangi tanpa disayangi Cukup bahagia menjaga jodoh yang tidak ditakdirkan. (Farasya Zahid) Siang itu, gue berada di rooftop gedung Fakultas Psikologi UMS. Melihat kota Pabelan yang memerah seolah terbakar sinar matahari yang memang sangat terik. Dari jauh gue dapat melihat jejeran mobil yang merangkak pelan di jalan Slamet Riyadi yang tak kalah padat dengan Jakarta. Panasnya hari itu sejalan dengan hati gue yang begitu terbakar dan sesak, semua karena satu nama, Deanova Azahra. Beberapa kali gue menyulut batang rokok yang gue harapkan bisa membantu gue, mengurangi rasa sesak yang ada di hati gue. Namun semuanya NIHIL. Rasa kecewa dan kehilangan itu kembali lagi. Bahkan kali ini lebih sakit. Pertama gue harus rela kehilangan mama yang begitu cepat, mama yang sangat membanggakan gue, mama yang menjadi semangat gue untuk meraih semua ambisi yang sedikit lagi gue raih. Tapi gue harus pasrah karena itu adalah ketentuan Tuhan yang tidak mungkin gue bantah. Dan yang kedua, hari itu gue harus rela mendengar Deanova Azahra, gadis yang gue kira milik gue, sudah bertunangan dengan orang lain. Dia mengatakan itu didepan mata gue. Gue hancur, gue jatuh dan gue hampir gila. Mungkin saat itu adalah fase terendah dalam hidup gue. Kehilangan orang yang dicintai secara bersamaan. Gue hancur saat itu, berkali-kali gue teriak, tapi berkali-kali itu juga gue merasa hati gue hancur. Wajah itu, senyum itu, tingkah petakilan itu semua nyata di hadapan gue, gue merindukannya selama beberapa hari, namun kenyataan itu menghancurkan gue seketika. "Nova gue cinta sama elo", kalimat itu yang terus gue ucapkan bersamaan dengan lelehan air mata yang membasahi pipi gue. Bahkan gue merasa saat itu Tuhan sangat tidak adil pada gue, kanapa gue harus kehilangan Nova saat gue merasa gue hanya punya gadis itu di dunia ini. Dia yang gue harapkan menjadi pasangan gue, menjadi teman hidup gue. Tapi bahkan Tuhan mengambilnya sebelum gue berani mengungkapkan perasaan gue. Apa justru ini kebodohan gue, gue yang terlalu introvet, atau gue yang terlalu baper dengan gadis itu. Gadis yang bisa membuat hati gue jatuh cinta. Apa ini yang di maksud kak Sajida, jika setiap wanita itu butuh kepastian. Sedangkan gue tidak pernah mengungkapkan semuanya. Tapi bukankah perlakuan gue selama ini menunjukkan bahwa gue sangat mencintainya. Bukankah itu lebih dari cukup dari sekedar kata "I Love you". Ya Tuhan Nova, what's a hell?, Kenapa kamu begitu bodoh?, Kamu naif va, kalau menganggap sikap gue ke kamu hanyalah sikap seorang teman biasa. Apa ada seorang laki-laki dan perempuan yang intens bertemu dan berkomunikasi secara pribadi menganggap hubungan mereka hanyalah teman. You are crazy Nova, kamu menyakiti gue terlalu dalam. Bahkan saat itu gue sudah menyiapkan sebuah kalung dengan liontin berinisial F dan D, begitu indah Karana ada bentuk hati di antara keduanya. Guepun sudah merancang untuk menemui orang tua Nova untuk meminta dia kepada ayahnya sebelum gue berangkat ke Sydney. Dan itupun hancur bahkan sebelum semuanya terjadi. Siapa yang pantas di salahkan dalam hal ini, bukan gue kan, karena jelas gue yang saat itu sakit. Mungkin saja Nova yang begitu jahat memberi gue harapan lalu mengambilnya tanpa basa-basi. Atau mungkin laki-laki itu, yang saat ini menjadi tunangan gadis gue. Kenapa dia datang disaat gue begitu sayang terhadap Deanova. Jelas dia orang ketiga disini, dia lebih dari orang b******k yang merusak hubungan kami. Gue nggak rela, gue cinta kamu Nova. Hanya kalimat itu yang berani gue ungkapkan dengan bebas di rooftop yang hanya ada gue disana. Yang suasananya telah berganti menjadi dingin. Karena matahari telah lelah melihat gue menggila disana, dan kini kembali ke peraduannya. Dia hanya meninggalkan semburat warna jingga diufuk barat, memberi kesan indah untuk gue saat itu. Gue keluarkan batang rokok terakhir, lalu gue Sulut api untuk menikmati suasana sore itu. Lalu gue melihat hp gue yang untuk memastikan waktu sore itu. Gue lihat ada dua puluh lima panggilan dari kak Sajida dan beberapa pesan dari Kakak gue itu. Gue dapati juga beberapa pesan dari Deanova yang entah mengapa ingin gue abaikan. Dert Dert Dert. "Halo kak". "Ya Allah hid, elo kemana aja?", Tanya kakak gue cemas. "Gue,", gue menjeda kalimat gue, gue bingung harus bicara apa pada kak Sajida. "Udah sekarang elo pulang, elo tenang". Gue hanya diam mendengar kalimat kakak gue yang tiba-tiba lembut. "Hid, Lo sabar ya, Lo pasti kuat, mungkin Allah punya jodoh yang lebih baik buat elo". "Elo tau kak?, Kak Nova kak.", Gue mulai terisak kembali. "Iya kakak udah tau, kakak lihat story' dia, elo harus kuat Zahid". "Tapi gue cinta sama dia kak". Tangis gue mulai pecah. "Kakak tau, tapi Allah punya rencana lain buat elo hid, elo ikhlasin dia sama cowok lain". "Gue sakit kak, gue nggak bisa tanpa dia kak". "Hid, denger kakak ya, kadang apa yang kita anggap baik itu belum tentu baik buat kita". Kakak Sajida berbicara dengan lembut. "Tapi Nova anak baik kak", sela gue saat itu. "Iya kakak tau, dia sangat baik, dia bahkan ada saat elo dikondisi terburuk. Saat mama nggak ada. Tapi Allah nggak memilih elo buat jadi jodoh Nova hid". Gue hanya bisa menangis mendengar ucapan kakak gue. "Nova sudah sangat baik mendampingi elo saat mama nggak ada, sekarang tugas elo ikut bahagia di pertunangan dia hid". "Tapi kak, gue sakit kak", gue bingung dengan apa yang Kaka gue katakan. "Mencintai itu tidak harus memiliki hid, tapi yang jelas mencintai itu membiarkan orang yang kita cinta bahagia, meskipun tidak dengan kita". Gue hanya diam mendengar ucapan kakak gue saat itu. "Tidak ada yang disalahkan disini hid, Nova nggak salah, dia nggak menyakiti siapapun saat ini, karena dia nggak pernah tau perasaan kamu, dia cuma jomblo yang dilamar orang, dia nggak punya alasan untuk menolak jika dia memang suka, karena dia nggak punya siapapun yang harus dijaga perasaannya". "Tapi gue cinta sama dia kak, ada gue". "Tapi elo nggak pernah bilang ke dia, dia nggak tau Zahid". Kakak gue seolah menekan kalimatnya. Kami sesaat diam, hanya air mata gue yang leleh memikirkan semua kalimat kak Sajida. "Cinta itu nggak cuma tindakan hid, cinta itu juga perlu diungkapkan", gue masih diam mendengar perkataan kakak gue. "Sekarang elo harus terima, jika Deanova memilih jodohnya. Dan elo cukup ikut bahagia dengan pilihannya. Lakukan tugas elo sebagai orang yang mencintai dia, pastikan dia bahagia dengan laki-laki itu sampai nanti dia menikah, saat itu tugas elo sudah selesai, saat itu elo hanya cukup melihat dia bahagia". Gue hanya diam mendengar kakak gue saat itu, gue benci dengan kalimat  dia, gue harus merelakan Nova bahagia dengan orang lain. Bahkan itu akan lebih sakit dari diri gue saat itu. "Kak gue benci dia". "Elo nggak benci sama dia Zahid, elo hanya kecewa karena elo terlambat mengungkapkan cinta Lo ke dia. Jelas ini bukan salah Nova, apalagi cowok itu. Lo harus tau, ini semua salah elo". "Lo gila kak, gue adik elo, tapi elo justru menyudutkan gue". "Karena elo adik gue ,gue tau elo Zahid. Gue nggak bisa pro dengan pendapat elo dalam hal ini". Kak Sajida terdengar yakin dengan kalimatnya. "Hid, dengerin kakak, elo harus fikirin apa yang udah Kakak bilang tadi, Lo biarkan Nova bahagia, kalau benar elo cinta sama Nova". Kakak Sajida memutuskan panggilan telvonnya. Gue memejamkan mata gue meresapi apa yang gue dengar dari kak Sajida. Apa iya ini semua salah gue yang tidak berani menyatakan cinta. Entahlah, yang jelas ini adalah Takdir dari Tuhan. That's all, no reasons. Hai readers semuanyahhhhh. Haduh kok masih sepi aja sih yaaaa. Thor sedih bener nih, hiks hiks. But bagi readers Budiman yang udah baca, please tinggalin jejak donkk, sukur sukur mau share.hehee Ok, ni cerita sebenarnya mau di end in, tapi belum k*****s ya gaes. Ntar bakal ada chapter end part 2 deh kayaknya... See you reader, tungguin Yaaa, chapter selanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN