Chapter 11

1700 Kata
Ponsel Willow bergetar. Sekali. Dua kali. Ia tahu siapa peneleponnya bahkan sebelum melihat layar. Nafasnya sudah tertahan lebih dulu. Namun tetap saja—dadanya serasa diremas saat nama itu muncul. Caleb Stirling. Suami—bukan! Sebentar lagi menjadi mantan suami. Willow menatapnya, lama. Terlalu lama. Seolah satu sentuhan akan membuka semua luka yang baru saja ia jahit dengan benang rapuh. Akhirnya, dengan tangan dingin, ia mengangkat panggilan itu. “Kemari. Sekarang!.” Tidak ada salam. Tidak ada jeda. Hanya perintah yang dipotong dingin, seperti pisau bedah. “Ada apa?” Suara Willow terdengar datar, meski jantungnya berdebar kencang. “Meisie hampir keguguran karena ulahmu,” suara Caleb seperti baja yang digosokkan ke beton. “Dia butuh ketenangan. Dan ketenangan itu dimulai dengan kamu—berlutut dan meminta maaf.” Willow menarik napas pelan. Dan fakta bahwa Meisie hamil semakin membuatnya muak “Aku tidak mendorongnya.” ucap Willow dingin. “Jangan.” Suaranya mendesis, penuh ancaman. “Jangan sekali-kali kau berbohong lagi di depanku. Aku lihat sendiri wajahmu yang penuh kebencian sebelum kamu angkat tangan. Meisie terlalu baik membelamu, bilang itu kecelakaan. Tapi aku tahu sifat aslimu, Willow. Kamu perempuan yang sakit.” Setiap kata seperti pukulan. Willow menggigit bibir bawahnya sampai terasa logam. “Dulu kamu gak begini,” lanjut Caleb, tiba-tiba nadanya berubah lebih halus, tapi justru lebih menusuk. “Dulu kamu patuh. Penurut. Kamu tau tempatmu. Sekarang? Kamu keras kepala, emosional, dan kejam. Lihatlah dirimu—mau jadi apa kamu tanpa aku? Bahkan untuk hal sekecil meminta maaf pun kamu harus dibuat-buat.**” Gaslighting itu bekerja dengan sempurna. Meragukan realitanya, mengikis keyakinannya. “Aku tidak akan meminta maaf untuk sesuatu yang tidak aku lakukan,” bantah Willow, suaranya mulai gemetar. “Baik,” Caleb mendesah, terdengar sangat kelelahan—seolah dialah korbannya. “Kalau begitu kita selesaikan dengan cara lain. Kau ingat surat cerai itu? Aku bisa tarik kembali. Aku bisa buat hidupmu jadi neraka dengan selembar kertas. Atau… kamu datang ke sini, ucapkan kata ‘maaf’ di depan Meisie, dan semua selesai. Kamu bebas. Pilih: tetap di rumah sakit jiwa seperti dirimu yang sebenarnya, atau dapat kebebasan dengan satu kata sederhana.” Sadis. Itu tawarannya. Memaksanya mengorbankan kebenaran dan harga dirinya untuk sebuah "kebebasan" yang seharusnya sudah menjadi haknya. “Kamu… benar-benar monster,” bisik Willow, suaranya parau. Caleb tertawa pendek, sinis. “Monster? Aku yang selama ini menopangmu. Aku yang mentolerir ketidakwarasanmu. Dan inilah balasan yang aku dapat? Baiklah, Willow. Aku beri waktu 30 menit. Kalau kamu tidak ada di sini, aku akan kirim orang untuk menjemputmu. Paksa, kalau perlu. Aku punya cukup koneksi untuk membuatmu ‘hilang’ beberapa hari—untuk terapi, tentu saja. Semua orang akan percaya karena mereka sudah tahu kondisimu… yang tidak stabil.” Ancaman itu jelas. Brutal. Ia akan diseret, dipaksa, dan dicap gila—seperti selalu. “Sialan!” umpat Willow. Willow menatap koper setengahnya. Tiket pesawat yang menganga. Mimpi tentang pelarian. Semuanya menguap oleh satu panggilan. “Jawab!” bentak Caleb tiba-tiba, membuat Willow terkejut. “Aku bosan dengan diam-diammu yang manipulatif itu!” Air mata panas menggenang di pelupuk mata, tapi tidak jatuh. Yang ada justru rasa hampa yang membeku. Dia bukan takut pada ancaman Caleb tapi dia sangat marah dan kesal, kalau saja tidak hidup di negara hukum, ingin sekali dia membunuh pria itu. “Baik,” akhirnya Willow berbisik, kalah. “Aku datang.” “Pintar,” sahut Caleb, nada puas dan merendahkan. “Jangan lupa, tersenyum dan tunduk. Itu saja harus kamu lakukan dengan baik.” Dan sambungan terputus. Bukan oleh sinyal. Tapi oleh kekalahan mutlak Willow—dan kemenangan mutlak Caleb dalam permainan kekejamannya yang sempurna. Danau kecil di belakang rumah sakit itu tenang, airnya kehijauan dan statis. Tapi udaranya beracun, dipenuhi oleh kebohongan yang belum terucap. Caleb sudah berdiri di sana, seperti batu nisan yang hidup. Di sampingnya, Meisie teronggok di kursi roda—wajahnya pucat sempurna, selimut tipis menutupi kaki, tangannya menggenggam lengan kursi dengan gemetar yang terlatih. Willow berhenti. Jarak tiga meter terasa seperti jurang. “Kita tidak punya seharian,” Caleb memecah kesunyian. Suaranya datar, tanpa toleransi. “Lakukan apa yang kau janjikan. Minta maaf. Sekarang.” Willow tidak melihat ke Caleb. Pandangannya menancap ke Meisie. “Aku di sini karena ancamanmu, Caleb. Bukan karena bersalah. Dan aku tidak akan meminta maaf untuk dusta yang kau reka.” Meisie menghela napas gemetar, sebuah suara kecil yang penuh penderitaan. “Willow… kenapa? Kenapa kau benci aku dan bayi ini sampai segitunya?” Air mata meluncur sempurna di pipinya. “Aku cuma… cuma ingin kita baik-baik saja. Aku sudah maafkan kamu untuk dorongan di tangga itu. Tapi kamu masih…” “Dia tidak memaafkanmu, Meisie,” Caleb menyela, suaranya berat berisi ‘kekecewaan’. “Dia menganggapmu musuh. Lihatlah matanya. Penuh kebencian.” Itu provokasi. Willow merasakan amarah mendidih. “Diam!” hardiknya, suaranya untuk pertama kali meninggi. “Kalian berdua… kalian pasangan yang sempurna. Kalian berdua sama-sama penuh kepalsuan!” Meisie menggerakkan kursi rodanya, pelan, mendekati Willow. “Tolong… jangan marah. Caleb, jangan… dia sudah cukup menderita.” Ucapannya terdengar seperti pembelaan, tapi matanya—dalam sekejap hanya terbaca oleh Willow—berkilat dengan kemenangan. “Jangan mendekat,” geram Willow, mundur selangkah. Tapi Meisie terus maju, mendesak, sampai roda depannya hampir menyentuh ujung sepatu Willow. “Aku hanya ingin pegangan tanganmu, Willow. Sebagai tanda damai—AAAH!” Teriakan itu melengking, tiba-tiba. Bukan teriakan ketakutan, tapi teriakan sinyal. Kursi roda itu meluncur terlalu tajam ke depan—bukan karena ketidakseimbangan, tapi karena dorongan kuat dari tangan Meisie sendiri ke roda—dan membuang tubuhnya ke arah tepi danau yang curam. Pada saat yang bersamaan, tangan kanannya mencengkram lengan baju Willow, menarik dengan kekuatan tak terduga. Dari sudut pandang Caleb, yang sengaja berdiri di posisi sempurna, adegannya adalah: Willow mendorong, lalu menarik, lalu mendorong lagi. BYUR! Bunyi tubuh Meisie menghantam air keruh. JATUH! Willow, yang kehilangan keseimbangan karena tarikan tadi, terseret dan ikut terguling ke danau. Dinginnya air menyergap seperti setumpuk jarum. Willow terbatuk, berjuang untuk muncul ke permukaan. Di depannya, Meisie sudah ‘tenggelam’—kepalanya terlihat timbul tenggelam, tangan menepuk air dengan panik yang terlalu teatrikal, tetapi kaki-kakinya diam, sengaja tidak mengayuh untuk tetap bertahan. “MEISIE!” Caleb berteriak, dan teriakannya penuh dengan kemarahan yang ditujukan untuk telinga-telinga lain yang mungkin mendengar. Dia melompat ke air, melewati Willow yang sedang berjuang, langsung menyambar Meisie. Dia mendekap Meisie erat, memapahnya ke tepi dengan mudah. Meisie terbatuk-batuk dramatis, mencemaskan bayi, menggigil kejam. Sementara itu, Willow baru sampai ke tepi, basah kuyup, kedinginan, dan—yang paling menghancurkan—melihat kerumunan beberapa perawat dan pengunjung lain sudah berkumpul, menarik oleh teriakan tadi. Mereka semua melihat Caleb, sang pahlawan, menyelamatkan cinta sejatinya dari danau. Usaha yang cepat, penuh perhatian, dan penuh penjiwaan. Mereka semua melihat Willow, 'si mantan yang putus asa', berdiri basah dan sendirian di air, wajahnya membeku dalam ekspresi yang tidak terbaca—yang dengan mudah bisa mereka artikan sebagai penyesalan, kejijikan, atau kebingungan seorang pelaku. Caleb menoleh ke Willow. Air menetes dari rambutnya. Di balik kepedihan yang dipentaskan untuk penonton, matanya—yang hanya terbaca oleh Willow—memancarkan kepuasan yang hampir sensual. Sebuah senyum tipis, hampir tak kasat mata, mengerling di sudut bibirnya sebelum hilang. "Lihat apa yang kamu perbuat?" Suaranya gemuruh, dipenuhi getaran 'kepedihan' dan 'kemarahan' yang dirancang untuk memantul di telinga para saksi. "Kamu tidak hanya mendorongnya! Kamu coba bunuh dia! Di depan mataku!" Meisie bersandar di d**a Caleb, tubuhnya menggigil dengan ritme yang sempurna. "C-Caleb… jangan marah… mungkin dia cuma panik…" bisiknya, suara kecil yang penuh 'pengertian' itu justru semakin membelenggu Willow dalam narasi 'wanita tak stabil' yang mereka bangun. Dan di tengah segala tatapan itu, sesuatu mulai terjadi pada Willow. Bukan rasa malu. Bukan marah. Tapi panik. Dinginnya air danau tiba-tiba tidak lagi sekadar dingin biasa. Rasanya menusuk, mengingatkan, membawa kembali sesuatu yang sudah lama ia kubur: Tekanan air yang menghantam, kegelapan yang menyedot, suara gemuruh yang meluluhlantakkan segalanya. Tsunami. Trauma yang ia bawa sejak kecil, yang telah menghilangkan kemampuan berenangnya yang dulu lincah seperti lumba-lumba. Kakinya terasa kaku. Napasnya menjadi pendek dan tersendat. Dadanya sesak, seperti dihimpit batu. "Tidak…" gumamnya lirih, tangannya meraba udara. Bukan untuk bersembunyi dari tatapan, tapi untuk mencari pegangan yang tidak ada. Air yang hanya setinggi d**a terasa seperti jurang tanpa dasar. Lututnya lemas. Dan Caleb melihatnya. Dari tepi danau, sambil memeluk Meisie, dia melihat perubahan di wajah Willow. Dia melihat kepanikan sejati itu. Dan dalam matanya, kepuasan tadi berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap: pengabaian yang disengaja. Dia sengaja tidak membantu. Dia sengaja membiarkan. Dia menganggap WIllow hanya pura-pura, hanya bersandiwara. Willow mencoba melangkah ke tepi, tapi kakinya terpelintir di lumpur dasar danau. Tubuhnya oleng. Sekali. Kepalanya menyentuh air. Dua kali. Dia terbatuk, air masuk ke mulutnya. Tatapan orang-orang berubah dari menghakimi menjadi bingung, lalu… acuh. "Tolong…" suaranya parau, tenggelam dalam gemericik air dan bisikan-bisikan kerumunan. Tapi tidak ada yang bergerak. Caleb malah memalingkan wajah, memeriksa Meisie dengan penuh perhatian palsu. "Sudah, sayang, aku di sini. Bayimu aman." Tenggelam. Itulah yang terjadi berikutnya. Bukan dramatis, tapi perlahan, seperti menyerah. Tubuhnya tak lagi melawan. Air menutupi kepalanya. Gelembung-gelembung kecil muncul ke permukaan, lalu pecah. Kerumunan mulai berbisik khawatir. Seseorang akhirnya berteriak, "Eh, dia tenggelam!" Barulah Caleb berpaling, wajahnya pura-pura terkejut. "Apa? Willow?" Dia berdiri seolah ragu, sengaja membuang waktu beberapa detik berharga yang membuat keadaan Willow semakin kritis. Baru kemudian, dengan gerakan yang tidak terburu-buru, dia masuk kembali ke air dan menarik tubuh lunglai Willow ke tepi. Willow tergeletak, pucat, tidak bergerak. Air danau mengalir dari mulutnya. Caleb berlutut di sampingnya, melakukan kompresi d**a—sebuah pertunjukan belas kasihan untuk para penonton. Tapi bisikannya, yang hanya untuk telinga Willow yang setengah sadar, menusuk lebih dalam dari air danau: "Lihat? Kau bahkan untuk sekadar berdiri pun butuh diselamatkan. Kau memang lahir untuk jadi beban, Willow." Caleb sangat kesal dan tidak menyangkah kalau demi mendapatkan perhatiannya WIllow sampai membahayakan nyawanya sendiri seperti ini. Pasir di tepi danau itu lunak. Tapi bagi Willow yang tergeletak, tersedak, dan dihancurkan untuk kedua kalinya—pertama oleh air, lalu oleh kekejaman yang disengaja—rasanya seperti kubangan beton yang baru saja mengeras, mengurungnya selamanya bukan hanya dalam frame ‘pelaku’, tapi juga dalam identitas ‘korban yang patut diabaikan’ yang telah mereka ukir dengan sempurna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN