Chapter07

1045 Kata
Kalau dulu, sikap Caleb seperti itu akan menghancurkan Willow. Ia akan menangis sampai napasnya habis, mengurung diri, dan menghabiskan malam dengan mencari kesalahan yang bahkan tidak pernah ia buat. Sekarang tidak. Bukan karena ia lebih kuat. Tapi karena ia sudah terlalu lama lelah. Saat Caleb kembali berjanji—lagi-lagi tanpa keberanian untuk menjauhi Meisie—Willow tidak merasa sakit. Tidak ada tusukan di da da, tidak ada sesak yang biasa membuatnya sulit bernapas. Yang ia rasakan justru muak. Muak pada kebohongan yang selalu dibungkus kata “tanggung jawab”. Muak pada dirinya sendiri yang dulu percaya bahwa kesabaran bisa mengubah seseorang. Ia berjalan menyusuri trotoar dengan langkah pelan. Angin sore menerpa wajahnya, kepalanya terasa sunyi. Tidak ada pertanyaan “kenapa”, tidak ada harapan kecil yang memaksa bertahan. Hanya kelelahan yang akhirnya diakui. Willow baru menyadari sesuatu yang selama ini ia hindari: yang membuatnya bertahan bukan cinta, melainkan kebiasaan mengorbankan diri sendiri. Selama enam tahun, ia selalu menempatkan dirinya di urutan terakhir. Mengalah lebih dulu, meminta maaf lebih dulu, dan memaafkan tanpa pernah benar-benar dipulihkan. Ia terbiasa hidup dalam kondisi setengah terluka, setengah berharap. Dan ketika ia berhenti melakukan semua itu—Caleb terlihat kehilangan kendali. Di dalam mobil, Caleb memukul setir dengan keras. ‘Sial!’ Yang membuatnya kesal bukan hanya penolakan Willow, melainkan cara perempuan itu berbicara dan menatapnya tadi. Tatapannya datar, seolah percakapan itu hanya formalitas yang harus diselesaikan. Tidak ada suara yang bergetar, tidak ada jeda ragu ataupun ada upaya menunggu penjelasan seperti biasanya. Nada bicara Willow tenang Ia menyampaikan keputusannya tanpa meninggikan suara, tanpa membela diri, seolah apa pun yang akan Caleb katakan setelah itu tidak lagi relevan. Biasanya, Willow akan mendengarkan. Akan membiarkannya bicara panjang lebar, lalu mengalah dengan alasan yang bahkan tidak ia pahami sendiri. Kali ini, ia tidak memberi ruang. Kalimatnya singkat, jelas, dan berhenti tepat di sana. Rasa aneh itu muncul tanpa peringatan, seperti nyeri kecil yang tiba-tiba menetap di da da. Caleb menarik napas lebih dalam, mencoba mengabaikannya, tapi perasaan itu tidak pergi. Selama ini, Willow selalu berhenti saat ia bicara. Selalu menunggu hingga ia selesai, lalu menyesuaikan diri. Kali ini tidak. Cara Willow berbalik tadi—tenang, pasti, tanpa ragu—membuatnya sadar bahwa ia tidak lagi menjadi sesuatu yang perlu dipertimbangkan. Itu bukan kemarahan yang ia rasakan, melainkan ketidakbiasaan. Sebuah sensasi asing ketika kata-katanya tidak lagi punya daya tarik, ketika kehadirannya tidak cukup untuk membuat seseorang bertahan. Pikiran itu membuat rahangnya mengeras. Ia tidak suka perasaan ini. Dan lebih dari itu—ia tidak tahu harus menyebutnya apa. Perasaan itu bertahan lebih lama dari yang Caleb mau akui. Ia duduk diam di balik kemudi, mesin mobil masih menyala, pandangannya kosong menembus kaca depan. Jalanan mulai padat, klakson terdengar bersahutan, tapi semuanya terasa jauh. Yang tertinggal hanya sensasi asing di da danya—bukan luka besar, hanya tekanan kecil yang mengganggu, seperti sesuatu yang bergeser dari tempatnya dan tidak bisa dikembalikan begitu saja. Caleb menyalakan lampu sein dan melajukan mobil. Ia tidak tahu harus melakukan apa dengan perasaan itu. Maka, seperti biasa, ia memilih mengabaikannya. Dan dia yakin, kalau perasaannya sudah membaik Harlow pasti akan menghubunginya dulu, seperti biasa, meminta maaf. Dia melakukan itu hanya ingin mencari perhatiannya dan dia berhasil. Tapi, Caleb tidak akan membiarkannya menang begitu saja. Dia lelaki, mau ditaruh dimana harga dirinya jika harus meminta maaf pada Willow terus menerus. Willow tiba kembali di apartemen kecil itu menjelang senja. Apartemen ini dia beli saat dia masih bekerja di perusahaan Caleb. Ia meletakkan tas di atas meja, melepas sepatu, lalu berdiri sejenak di tengah ruangan. Sunyi. Tidak ada suara lain selain detak jam dinding dan napasnya sendiri. Ia tidak langsung duduk. Ia berjalan ke jendela, membuka sedikit tirai, memandangi langit yang mulai berubah warna. Di apartemen ini, Willow akhirnya bisa diam tanpa harus berpura-pura baik-baik saja. Ia mengambil ponsel dari saku mantel. Jarinya sempat berhenti di atas layar. Nama itu sudah lama tidak ia hubungi secara langsung, meski selalu ada di sana—sebagai pilihan terakhir, sebagai pintu yang tidak pernah benar-benar ingin ia buka. Willow menarik napas, lalu menekan panggilan. Nada sambung terdengar singkat sebelum sebuah suara lelaki yang ramah namun profesional menjawab. “Selamat sore. Kantor Harrington & Cole, dengan saya Daniel Harrington.” “Ini Willow McRide,” ucap Willow pelan. Nada di seberang sana langsung berubah. “Nona Willow,” kata Daniel Harrington dengan sopan. “Sudah lama sekali. Kalau Tuan Rowan tahu Anda menelepon, beliau pasti akan sangat bahagia.” “Jangan,” potong Willow cepat, tanpa emosi. “Tolong jangan mengatakan apa pun pada kakakku. Aku menghubungimu secara pribadi.” Ada jeda singkat. “Tentu, Nona,” jawab Daniel. “Ada yang bisa saya bantu?” Willow duduk di sofa, menatap lantai di depannya. “Aku ingin kamu menyiapkan draft perjanjian perceraian,” katanya. “Dan di dalamnya, tulis dengan jelas bahwa aku tidak menuntut apa pun.” Daniel tidak langsung menjawab. Willow melanjutkan, nadanya tetap tenang, seolah membacakan catatan lama. “Aku tahu, sesuai perjanjian keluarga dan wasiat nenek, aku berhak atas lima puluh persen saham jika perceraian ini terjadi.” Ia berhenti sejenak. “Tapi aku tidak menginginkannya. Aku tidak mau rumah, tidak mau saham, tidak mau kompensasi apa pun. Aku hanya ingin bebas dari pernikahan ini.” Di seberang sana, Daniel Harrington menghela napas pelan. “Nona Willow,” katanya akhirnya, lebih hati-hati, “apakah keputusan ini sudah Anda pertimbangkan matang-matang?” Willow menutup mata. “Aku sudah mempertimbangkannya,” jawabnya.“Apa bisa draft itu selesai hari ini?” “Secara teknis, bisa,” “Kalau begitu, aku tunggu hari ini” “Baik,” kata Daniel. “Saya akan mengurusnya.” “Terima kasih.” Willow menatap ponsel di tangannya beberapa detik, lalu meletakkannya. Tidak ada dorongan untuk menarik kembali keputusannya. ‘Nona Willow membuat keputusan seperti ini pastinya dia sudah melewati pernikahan yang sangat berat.’ Malam mulai turun perlahan, Willow bangkit untuk menyiapkan makan malamnya. Malam ini dia memutuskan untuk tidak pulang ke rumah pernikahan mereka. Besok, kalaupun dia kembali kesana hanya untuk mengemasi barang-barangnya. Dia akan tinggal di sini untuk sementara waktu sebelum kembali ke kota Flora. Kalau Caleb sadar dan peduli dia pasti akan mencarinya. Namun, WIllow yakin kalau suaminya tidak akan pernah mencari. Dia ada di dekatnya saja dia tidak peduli apalagi kalau dia pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN