20. Dalam Perjalanan Ke Sekolah

1426 Kata
Thalia menggigiti kuku jarinya, sembari terduduk bersandar diatas kasurnya. Thalia sedang gelisah, ia gelisah memikirkan perkataan Agren padanya sore tadi. Jadi, setelah Thalia berteriak heboh pada Agren yang sedang menyapu, dan mengaku kalau dirinya mengidap penyakit jantung. Reaksi Agren sangat datar, dengan tenang Agren berbicara seperti ini : "Yang ada gue kali yang punya penyakit jantung, jantungan gara - gara punya adek kek lu." Namun karena Thalia terus merengek ketakutan, akhirnya Agren menyuruh Thalia bercerita. Thalia menceritakan semuanya, tentang kenapa jantungnya tiba - tiba berdetak kencang, tentu saja tanpa menyebutkan nama Rida. Setelah mendengar itu, Agren malah terlihat emosi dan kira - kira kata - katanya seperti ini, "Lo itu jatuh cinta bego! Yaampun kok bisa sih gue punya adek bego kek lo! Capek gue ngeladenin lo!" Hardik Agren dengan wajah frustasi. "Hahaha gila kali lo! Masa karena deg - degan doang tandanya gue jatuh cinta. Terus, pas kemarin - kemarin gue kesetrum, jantung gue berdebar kencang banget tandanya gue jatuh cinta gitu!" Sanggah Thalia tak mau kalah. "Ya beda pe'a!" Hardik Agren lelah. "Kalau lo mikirin seseorang terus jantung lo berdebar, berarti lo suka sama dia!!!" Teriak Agren hilang kesabaran. Setelah itu Agren pergi dengan misuh - misuh, meninggalkan Thalia yang masih dalam posisi kebingungan. Kembali ke masa kini, Thalia masih menggigiti kuku jarinya, hatinya gelisah teringat perkataan Agren. "Masa sih gue suka sama Rida?" Gumam Thalia tak percaya. "Ihhh!" Sedetik kemudian Thalia bergidik ngeri, mendengar perkataannya sendiri. "Emang gak mungkin gue suka sama dia. Orangnya nyebelin gitu juga. Mending Kak Nathan kemana - mana." Gumam Thalia lagi ketus. "Iya, gue yakin gue gak suka sama Rida! Gue deg - degan karena teringat waktu gue mau jatuh!" Sangkal Thalia meyakinkan dirinya. "Iya bener! Gue deg - degan karena jatuh dari tangga muter yang kalau gue jatuh gue bisa - bisa geger otak!" Teriak Thalia yakin. "Gue yakin, gue gak suka sama Rida. Dan gue bakal biasa aja ketika ketemu dia. Gue gak bakal deg - degan!!!!" Thalia berteriak lagi, membulatkan rasa yakinnya. Dengan tekad yang kuat, Thalia mengambil handphonenya diatas nakas lalu mengetikkan sebuah pesan dan mengirimnya. Pesan itu berisi : Besok jemput gue ke rumah, kita berangkat bareng. Dan pesan itu dikirimkan kepada Rida. Dengan senyuman puas karena berhasil membuktikan kalau ia tidak punya perasaan pada Rida. Thalia menyimpan handphonenya kembali, lalu memejamkan matanya dan tertidur dengan tenang. ••• Thalia sudah siap didepan rumahnya, duduk diatas kursi yang disediakan untuk tamu, menunggu kehadiran Rida untuk membawanya ke sekolah. Thalia benar - benar sudah siap untuk bertemu Rida, bahkan ia sudah menggunakan celana panjang dibalik rok SMA nya. karena ia tahu ia akan naik motor dan rok SMA nya hanya yang sepanjang lutut itu akan terbang - terbang jika dipakai naik motor, dan itu sangat berbahaya. Mata Thalia memandang lurus ke depan, tekad yang kuat begitu terpancar dari kedua matanya. Lima menit Thalia sudah terduduk disana dan ia tidak melakukan apapun, hanya terduduk sambil memandang lurus kedepan. Padahal sesungguhnya, didalam hati Thalia terus merapalkan sebuah kata - kata. "Bersikap biasa bersikap biasa bersikap biasa." Ya kata - kata itulah yang terus Thalia rapalkan didalam hatinya. Bersikap biasa. Maksudnya ialah, Thalia yakin jika ia tidak suka pada Rida ia akan bersikap biasa dihadapan Rida nanti. Dan Thalia yakin kalau ia pasti akan bersikap seperti biasanya dihadapan Rida nanti. Karena Thalia tidak suka pada Rida!!! Kobaran api tekad Thalia terasa semakin kuat. "Hmm..." Thalia menyunggingkan senyumnya, merasa puas. Tik... tok... tik... tok... Sepuluh menit berlalu, total jadi lima belas menit sudah Thalia menunggu, tetapi Ridha belum datang juga. Thalia bersandar pada kursi dengan malas, sambil sesekali melihat jam tangannya. Ia jadi khawatir jangan - jangan Ridha lupa dan malah pergi duluan. "Huh.." Thalia menghela nafas. Seharusnya ia tidak perlu melakukan hal ini, toh ia bakal ketemu juga disekolah, mana sebangku pula. Thalia kembali melihat jam tangannya. Disitu tertera angka - angka yang menunjukan kalau sekarang pukul.. "6 lebih 40. Huh.." Thalia menghela nafas malas. Kemudian merebahkan kepalanya pada sandaran kursi. Namun, sedetik berikutnya Thalia langsung meloncat dari duduknya dengan wajah kaget. "Yaampun gila! Udah jam segini! Apa gue berangkat sendiri aja ya? Tapi, kalau naik angkot pasti kesiangan! Ah gila! Gila! Nyesel gue gak nebeng Agren!" Thalia mengacak - ngacak rambutnya, frustasi. "Apa gue gak usah sekolah aja ya?" Tanya Thalia pada diri sendiri sambil memangku dagunya dengan kepalan tangan nya. "Tapi, kalau mamah nanya. Gue harus jawab apa?" Tanya Thalia lagi, sambil terus memutar otak. "Ah! Gue bilang aja sakit. Lagipula jantung gue emang lagi gak sehat kok bener." pikir Thalia, memikirkan rencana tidak baik Tin! Tiba - tiba terdengar suara klakson motor diiringi suara deru motor yang meredup. Membuat Thalia tersadar dari pikiran busuknya. Dengan segera Thalia berdiri dari duduknya, dan menatap sosok Rida yang terduduk di atas motor, sedang mematikan mesin motornya. Entah kenapa Thalia merasa.... Kok hari ini lebih keren? Tubuhnya yang dibalut jaket jeans belel yang pas di badannya, gesturnya saat membuka helm, rambutnya yang acak-acakan karena habis pake helm. "Keren banget..." Gumam Thalia tanpa sadar. Eh? Sedetik kemudian Thalia tersentak mendengar perkataannya sendiri. 'Kok gue...?' bingung Thalia. 'Bersikap biasa, bersikap biasa.' Rapal Thalia dalam hati, setelah itu Thalia menarik nafasnya lalu menghembuskan nya. "Motornya." Gumam Thalia menambahkan kata - katanya yang diawal. Thalia berjalan menghampiri Rida dengan wajah datar, dalam hati ia terus merapalkan mantra andalannya. 'Biasa aja, biasa aja.' Rida mengambil helm cadangan didalam bagasi, lalu menyerahkannya pada Thalia. Tanpa ba-bi-bu Thalia langsung mengenakan helm itu ke kepalanya, dan langsung naik ke atas motor Rida. Membuat Rida cengo seketika. Thalia mengerutkan dahinya, melihat ekspresi Rida. "Kenapa lo?" Tanya Thalia bingung, padahal Thalia merasa ia sudah bersikap seperti biasa. "Lo yang kenapa? Kok malah duduk didepan?" Rida balik bertanya. "Ha?!" Thalia mengerutkan keningnya tak paham, tapi saat ia melihat lagi posisinya. Barulah ia sadar jika ia malah naik di tempat pengemudi. Mata Thalia membulat kaget, lalu ia mengerjapkan kedua matanya, tak malu. Kok bisa sih ia duduk disitu tanpa sadar? 'Aduh!!! Ini mah apa nya yang bersikap biasa?!!' Thalia merutuk dalam hati. "Hm... Gue... Emang mau nyetir kok." Alibi Thalia sambil memegang kedua stang motor agar terlihat lebih meyakinkan. Rida mengangkat sebelah alisnya. "Emang lo bisa?" Ragu Rida. "Bisalah!" Jawab Thalia ketus, merasa diremehkan. "Yakin?" Tanya Rida lagi, masih tak percaya. "Iya, bacot deh lo! Buruan naik udah telat ini, gara - gara lo jemputnya kelamaan!" Titah Thalia. "Ya maaf, gue telat bangun soalnya." Rida menurut, lalu menaiki jok penumpang sambil memasang helm kekepalanya. Thalia pun mulai menstater motor Ridha dengan lancar, membuat Rida menganggukkan kepalanya, mulai percaya. "Kapan terakhir kali naik motor Thal?" Tanya Rida kembali memastikan. "Dua tahun lalu." Jawab Thalia singkat. Seketika Rida melongo kaget mendengar jawaban Thalia. "Apa?!" NGEEEEEENNNGGGGGG!!! Belum beres kekagetan Rida, tiba - tiba motor melaju dengan sangattt kencang. Membuat Rida refleks memeluk pinggang Thalia dengan eray, kedua mata Rida melotot lebar, tanda jika ia sangat shock dengan motor yang tiba - tiba melaju dengan cepat. "Argh! Thalia ini cepet banget gila!" Teriak Rida masih dengan wajah ketakutan. "Ya, gakpapa biar gak telat." Jawab Thalia pura - pura yakin. Padahal dalam hatinya Thalia juga cemas, ia juga takut karena motornya melaju dengan sangat kencang, padahal Thalia hanya memberi gas pada motor itu. "Tapi ini kecepatan! Lo mau bunuh gua hah?!" Teriak Rida lagi dengan panik, membuat Thalia juga jadi ikutan panik. Thalia menggigit bibir bawahnya. "Ya terus gimana cara berhentiinnya!!" Teriak Thalia tak sanggup lagi menahan rasa takutnya. Jantungnya benar - benar berdebar keras, karena motor yang ia naiki melaju terlalu cepat, untuk saja jalanan lenggang, kalau tidak mungkin sudah ada korban jiwa dari tadi. "Lah! Gila lo! Katanya bisa naik motor!" Hardik Rida menyalahkan. "Ya kan dua tahun lalu gimana sih?!!" Balas Thalia tak mau disalahkan, meski dalam keadaan chaos. "Kurangin gas nya Thalia!!!! Cepetan!!!!" Teriak Rida takut, masih dengan memeluk pinggang Thalia. "Gimana caranya?!!" Histeris Thalia hampir menangis karena panik. "Ah bangke." Rutuk Rida, ia sangat menyesal mempercayai Thalia, seharusnya ia saja yang bawa motor tadi. "LEPASIN TANGAN LO!" Titah Rida. Tapi Thalia malah melepaskan kedua tangannya, mengangkatnya keatas. "JANGAN DUA - DUANYA!!!!!" Teriak Rida panik luar biasa, apalagi ketika stang motor mulai bergerak ke segala arah karena kehilangan keseimbangan. "HA?!!" Thalia terkejut saat mendengar perkataan Rida, dnegan panik Thalia berusaha mengambil lagi alih kendali motor itu. Namun karena panik Thalia tidak bisa menahan stang motor tersebut agar kembali seimbang, motor terus bergerak tak tentu arah. Wajah Thalia dan Rida sudah panik luar biasa hingga tak terdefinisikan lagi. "ARGHHHHH!!! INI GIMANA?!!!!" Thalia berteriak histeris, sambil terus berusaha mengambil alih kendali motor. Sementara Rida dengan wajah pucat memejamkan matanya dan mulai berdoa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN