Keduanya sampai di sebuah gedung yang terlihat begitu mewah. Orang yang berlalu lalang dengan menggandeng pasangan masing-masing.
Benar, bahkan bisa dikatakan wanita yang jadi gandengan memang mengenakan pakaian sejenis yang dikenakan Andine. Glamour dan terbuka lebih tepatnya. Mungkin dari sekian banyak wanita yang ada di acara ini, dirinyalah yang masih berstatus siswi SMA. Lebih tepatnya siswi SMA yang gagal.
Ternyata Dinner yang dikatakan Dimas bukanlah makan malam berdua, tapi justru lebih terlihat menghadiri sebuah pesta. Ia benar-benar merasa risih sekarang dengan pakaian yang dikenakannya. Bukan takut salah kostume, tapi risih karena merasa merasa ini begitu terbuka.
Dimas mengarahkan Andine agar menggandeng tangannya. Tapi seolah bingung, tentu saja dia hanya diam. Hingga akhirnya Dimas menarik paksa.
"Bisa tidak, jangan menggunakan ekspressi wajah penuh keterpaksaan seperti itu jika bersamaku?" tanya Dimas saat mulai melangkah memasuki ruang acara.
"Maaf ...."
Dimas mengajaknya menemui beberapa orang yang ada di sana. Ya, terlihat sekali kalau mereka adalah kolega bisnisnya. Meskipun mereka menggandeng pasangan masing-masing, terlihat jelas kalau mata dan pandangan para lelaki itu begitu liar.
"Siapa gadis ini, Dim?" tanya salah satu dari mereka.
Dimas mengarahkan pandangan pada Andine yang hanya menunduk. "Ini Andine, calon istri saya," jelas Dimas memperkenalkan Andine yang berada di sampingnya.
Dimas yang melihat ekspressi Andine, memberi kode agar menyapa rekan-rekannya. Lagi, gadis itu hanya jadi penurut. Dia tersenyum manis.
"Saya Andine, calon istrinya Dimas," ujarnya singkat.
"Sepertinya dia gadis baik-baik dan polos. Tumben seleramu kali ini belok," ledek yang lainnya sambil diiringi sedikit tawa.
"Karena menaklukan yang polos, itu lebih mudah daripada yang liar. Dan tentunya, masih original tak tersentuh," balas Dimas dengan senyuman nakalnya, kemudian melirik kearah Andine.
Jangan dikira saat mendengar penjelasan Dimas, Andine hanya biasa saja. Tidak. Jantungnya seakan bergetar. Darahnya berdesir. Perkataan macam apa yang dikatakan Dimas. Begitu buruk terdengar di telinganya. Tak seperti seseorang yang punya pendidikan tinggi sesuai dengan statusnya yang dia bilang bos besar.
Andine mendekatkan dirinya dengan Dimas. "Aku ke kamar mandi bentar, ya," bisiknya.
Sedikit berpikir saat mendengar itu, hingga akhirnya Dimas mengangguk dan melepaskan pegangan tangannya pada tangan Andine yang sedari tadi seolah tak berniat dia lepas.
Andine melangkah menjauh dari Dimas dan rekan-rekannya yang masih sibuk mengobrol. Ya, seperti perkataannya pada Dimas ... ia mencari keberadaan kamar mandi. Tapi ternyata tak dapat ia temukan hingga memilih untuk keluar dari ruangan itu.
Duduk di sebuah kursi taman yang berada di depan gedung acara, kemudian menanggalkan hels yang seakan menyiksa kakinya.
"Gila! Bahkan di gedung yang segini besarnya, kamar mandi pun tak bisa dijumpai," umpatnya kesal.
Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas untuk melihat waktu, tapi apa yang terjadi ... penampakan seseorang yang membayang di layar ponselnya justru sukses membuatnya terlonjak kaget dan seketika beranjak dari posisi duduknya.
"Karena di gedung ini yang diutamakan adalah kamar tidur, bukan kamar mandi. Jadi, kalau mau ke kamar mandi, kamu harus melewati kamar tidur dulu. Mau saya antar?"
Seorang laki-laki berbadan tegap, kini sedang berhadapan dengannya. Bukan sok kenal, tapi ia mengenal sosok itu. Ya, salah satu rekan Dimas yang ada di dalam tadi.
"Maaf, nggak perlu," balas Andine.
Dia semakin mendekat kearah Andine, tentu saja itu membuatnya mulai cemas. Ya, sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Ayolah ... jangan takut pada Dimas. Lagian, kalaupun dia tahu, pasti akan memberikan izin, kok. Setidaknya dia adalah orang pertama yang sudah mengambil hal itu dari dirimu, kan," jelasnya.
Di dalam, ia sudah mendapatkan perkataan kotor itu dan sekarang, untuk kedua kalinya kembali ia dengar. Sepertinya masuk ke tempat ini benar-benar akan membawanya pada dunia yang begitu buruk.
Andine memasukkan kembali ponsel ke dalam tas nya. "Permisi," ujarnya singkat dan berlalu pergi dari sana. Tapi langkahnya ditahan oleh laki-laki itu yang dengan cepat dan kuat mencengkeram kedua tangannya. Bahkan mulutnya pun dibekap hingga dirinya tak bisa berbuat apa-apa.
"Anggaplah aku seekor kucing dan kamu adalah tikus kecil yang manis. Tentu saja aku tak akan membiarkan hal yang begitu menggoda, ku biarkan pergi begitu saja tanpa ku cicipi," bisiknya di telinga Andine.
Ini adalah ketakutan terbesarnya. Laki-laki ini seperti monster yang begitu menyeramkan yang siap membunuhnya.
Terus berontak saat dirinya dibawa paksa untuk masuk ke dalam sebuah mobil. Setidaknya ia harus berusaha agar dirinya tak sampai masuk. Karena kalau itu terjadi, jangan berharap dirinya bisa keluar.
Sampai di depan pintu mobil, ia menginjak kaki laki-laki itu dengan kuat. Meskipun terasa begitu sakit karena tak mengenakan alas kaki, tapi tak apa daripada kesakitan yang lebih parah ia alami. Setelah cengkeraman itu terlepas, dengan kuat ia memukul wajah laki-laki itu dengan tas nya dan segera kabur.
"Jangan kabur!!!!" teriaknya sambil menahan sakit dan kembali mengejar Andine yang sudah melarikan diri.
"Jangan sampai dia menangkapku ... jangan sampai," gumam Andine yang terus berlari keluar dari area gedung dan mulai menyusuri jalanan yang tampak sepi, jauh dari keramaian kota. Kiri kanan hanya dipenuhi pepohonan.
Sesekali ia mengarahkan pandangan ke belakang dan kembali mempercepat langkahnya saat melihat sosok yang terus mengejarnya.
Lelah, membuat langkahnya terseok-terseok. Apalagi kakinya bersentuhan langsung dengan batu-batu jalanan yang membuat rasa sakit itu mulai ia rasakan. Dan kini apalagi? Hujan tiba-tiba turun dengan begitu lebatnya. Tak hanya menakutkan dikejar laki-laki itu, tapi rasa takut akan keadaan di sekitarnya juga memenuhi pemikirannya.
Ia melihat ke belakang, sepertinya kali ini keberuntungan berpihak padanya karena laki-laki itu tak terlihat lagi.
"Aku harus kemana? Ini benar-benar menakutkan," gumamnya dengan keadaan yang basah kuyup berada di bawah guyuran hujan lebat. Bibirnya mulai membiru karena rasa dingin.
Berteduh di bawah sebuah pohon sambil mengarahkan pandangan ke sekeliling. Takut saja, jika sesuatu yang tak baik sedang mengitarinya.
"Aku harus hubungi Dimas," ujarnya segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Tapi saat kontak laki-laki itu ada di depan matanya, keinginan itu kembali surut. "Enggak, menghubungi Dimas bukanlah hal yang baik."
Hanya bersembunyi dibalik pohon, berharap hujan segera berhenti ... tapi sepertinya keinginan itu tak terkabul. Bahkan justru hujan semakin lebat, membuat area sekitar tampak semakin gelap dan mencekam.
Untuk kedua kalinya benda pipih itu ia keluarkan dari dalam tas-nya. Terlihat, sebuah garis merah sudah terpampang di sudut layar, menandakan nyawa dari ponselnya akan segera berakhir.
"Aku harus minta tolong sama seseorang," gumamnya mencari kontak yang bisa menolongnya dan jarinya malah berhenti mencari saat sampai di nama Farel.
Ragu, apa iya kini harus minta bantuan pada Farel? Apa ini tak begitu memalukan? Tapi, harus minta batuan sama siapa lagi? Mamanya? Itu sama saja dengan menghubungi Dimas.
Jarinya mulai mengetik pesan untuk Farel. "Maaf, aku mengganggumu malam-malam begini. Bapak bisa, nggak, menjemputku? Aku kehujanan, di sini gelap dan menakutkan."
Terkirim, tapi hanya centang satu. Lagi, Andine mengirimkan alamat dan posisinya kini berada. Tapi apa yang terjadi, saat proses mengirim, tiba-tiba ponselnya mati.
"Astaga!"
Ia berjongkok sambil menangis. Apalagi yang harus dilakukannya kini? Anggaplah Farel membaca pesan pertamanya, tapi bagaimana dengan alamatnya berada? Bahkan pesan itu belum terkirim.
Sesekali ia menyeka wajahnya yang sudah basah. Kalaupun balik pada Dimas, itu sama saja menyerahkan dirinya dengan sukarela pada macan kelaparan. Pakaiannya menerawang karena sudah basah kuyup.
Sudah hampir satu jam lamanya, tapi sepertinya hujan belum berniat untuk berhenti. Seolah memang mau menumpahkan semua isinya. Tiba-tiba terdengar deru mobil, perlahan ia mengintip. Bisa dipastikan kalau itu adalah para tamu di gedung tadi. Satu persatu, hingga matanya memastikan kalau yang kini lewat adalah mobilnya Dimas.
Kembali bersembunyi dibalik pohon, harapannya masih sama ... hujan segera reda dan ia bisa pergi dari sini. Dan di saat seperti ini, justru nama Farel yang menjadi fokusnya.
Ia menangis. Cairan bening itu terasa hangat membasahi pipinya. "Salahkah aku jika memang mengharapkanmu kembali setelah semua apa yang ku katakan? Salahkah aku jika malah membutuhkanmu di saat seperti ini? Ku akui, aku memang butuh kamu ... aku butuh kamu," isaknya tertahan.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba sebuah sentuhan ia rasakan di pundaknya, lebih tepatnya dari arah belakangnya. Isakannya terhenti seketika, berubah jadi sebuah rasa takut yang besar. Tangannya gemetar menahan rasa takut dibarengi menahan dingin. Tamat sudah dirinya kini.