Rama tampak lelah karena sparing hari ini, dia memijat pelipisnya dan mendadak dia mengingat wajah Natasya, perempuan yang sempat mengacaukan permainan. Entah apa dendam adik kelasnya Fatah ataupun Natasya. Rama memilih untuk cuek dan tidak memusingkan itu semua, baginya yang terpenting dia bisa memenangkan sparing hari ini. Hanya saja dia agak sedih melihat Atha yang memegang bola basketnya yang kempes. Bola kesayangannya, dari seseorang yang tidak pernah bisa lagi Atha lihat. Sama seperti Rama, seseorang yang berharga untuknya. Harusnya mereka berdua bisa menjaga pemberian bola itu, tapi mereka malah merusaknya. Hal yang menyakitkan apalagi Fatah tidak bertanggung jawab dan pulang begitu saja. “Tha, sorry.” Rama menepuk pundak Atha. Sahabat seperjuangannya hanya tersenyum getir, mau ba

