BAB 2

1492 Kata
Pesta penyambutan Kaisar Li berjalan dengan lancar. Ditutup oleh penampilan tarian kagura yang dipersembahkan oleh geisha, pesta ditutup tanpa kendala. Memuaskan para tamu undangan beserta Kaisar Minamoto dan Kaisar Li. Para geisha sukses memberikan kesan memukau pada malam hari ini.   Terutama geisha bermata hijau yang berhasil menghipnotis Xiao Lang.   Masih segar terekam dalam ingatan Xiao Lang, tarian geisha tersebut benar-benar lincah namun penuh keanggunan. Tiap sudut gerakan yang ia buat tidak sia-sia sama sekali. Tak hanya gerakan tubuh, mata hijau cemerlangnya menjadi poin utama yang menyihir Xiao Lang. Satu-satunya anggota tubuh di wajah yang bisa dilihat sebab geisha tersebut mengenakan cadar berwarna merah. Seolah sengaja memusatkan perhatian penonton pada kedua bola mata hijaunya. Xiao Lang tidak akan berbohong, mata hijau itu berhasil membiusnya. Seperti firasat Xiao Lang sesaat sebelum berangkat ke Jepang, akan ada hal menarik yang terjadi. Kasim Wei memasuki kamar tidur Xiao Lang setelah Xiao Lang memanggilnya. Kasim berusia setengah abad itu memberikan hormat kepada Xiao Lang sebelum berdiri tegak menunggu Xiao Lang bersuara. Gurat wajah tua penuh aura kebapakannya menatap Xiao Lang yang hanya memberikan punggung padanya karena Kaisar itu sedang berdiri menatap ke luar jendela. “Apakah ada masalah, Yang Mulia?” tanya Kasim Wei tenang, menginterupsi keheningan karena menduga sang Kaisar tenggelam dalam lamunannya hingga tidak menyadari kehadiran Kasim Wei. “Kau tahu dari mana para geisha yang tampil tadi berasal?” tanya Xiao Lang menyuarakan rasa penasaran dan ketertarikannya membuat sang kepala kasim Kerajaan Li sedikit tersentak kaget. “Menjawab Yang Mulia Kaisar, para geisha yang tampil hari ini berasal dari Okiya Wagataki,” jawab Kasim Wei tenang, tidak menyiratkan rasa terkejutnya. Kening Xiao Lang sedikit mengernyit. “Okiya?” “Okiya adalah rumah geisha. Tempat resmi yang menaungi, mendidik, dan mempekerjakan geisha, Yang Mulia.” “Lalu, di mana Okiya itu berada?” “Okiya Wagataki berada di kerajaan tetangga, Kerajaan Oita. Letaknya berada di ibu kota kerajaan, Ouita. Butuh waktu enam jam perjalanan dengan menaiki kereta kuda.” Xiao Lang tidak memberi respon lagi. Pria itu diam menatap langit malam. Membiarkan kasimnya berdiri diam pula di belakangnya, menunggu tanpa kejelasan. Katakan saja Xiao Lang mulai keluar dari batas kewarasannya karena mulai terlintas niat gila dalam kepalanya. Jika saja ada Eriol di dekatnya, sudah pasti sepupunya itu akan meledeknya habis-habisan. Puas bagi Eriol untuk menertawakan Xiao Lang yang kebingungan hanya karena seorang perempuan biasa. Bagi mayoritas pria biasa, menghampiri perempuan yang berhasil memikat hatinya adalah hal yang wajar. Tapi tidak bagi pria bangsawan seperti Xiao Lang yang tidak perlu repot-repot mencari pasangan hidup. Mereka hanya perlu diam, menjalankan seluruh aktivitas seperti biasa dan menunggu pihak keluarga perempuan mengajukan pernikahan. Suka tidak suka, pernikahan tetap terjadi. Sejauh ini, Xiao Lang memiliki tujuh istri di Istana Harem. Di antara ketujuh istrinya, tidak ada yang benar-benar berhasil menarik perhatian Xiao Lang. Istri pertama Xiao Lang—Selir Mei—yang merupakan sepupu jauh dan teman masa kecilnya pun tidak membuat Xiao Lang jatuh cinta. Belum ada satu pun yang menarik perhatian Xiao Lang. Kini, muncul satu objek yang berhasil melakukannya. Geisha bermata hijau. “Maafkan kelancangan saya untuk menanyakan ini, apakah Yang Mulia tertarik kepada salah satu geisha?” tanya Kasim Wei kembali memecah keheningan, kali ini membuat Xiao Lang hampir mati kutu di tempat karena tebakan Kasim Wei tepat sasaran. Xiao Lang yang memiliki harga diri setinggi langit, menyangkal mentah-mentah demi menyelamatkan harga dirinya. “Tentu saja tidak, apa-apaan itu. Aku hanya tertarik pada seniman kebanggaan Jepang ini.” Bagaimanapun juga, Kasim Wei sangat mengenal kepribadian Xiao Lang sampai ke akar-akarnya. Pria itu tidak akan mudah tertipu oleh Xiao Lang. Alih-alih sekedar kasim, Kasim Wei lebih pantas disebut ayah maupun kakek Xiao Lang. Semua pekerja istana pun menyetujuinya sebab anggapan itu tidaklah berlebihan. Buktinya saja Kasim Wei tersenyum lebar mendengar bantahan Xiao Lang. Pertanda ia mengetahui Kaisar muda itu baru saja berbohong. “Jika begitu, maafkan kelancangan saya, Yang Mulia,” Kasim Wei membungkuk sejenak sebelum melontarkan penawaran yang benar-benar menarik Xiao Lang, “apakah Yang Mulia ingin mengunjungi Okiya Wagataki agar dapat mengetahui geisha dengan lebih detail?” Tawaran Kasim Wei tepat seperti niat yang sudah jutaan kali melintas di kepala Xiao Lang. Jika saja Xiao Lang tidak dapat mengendalikan diri, dia akan langsung mengiyakan penawaran Kasim Wei dan berujung rasa malu yang melukai harga dirinya. Syukur saja Xiao Lang bisa memertahankan ketenangannya. Meski tidak sepenuhnya karena tangannya bergerak bersedekap, gestur yang terjadi tiap Xiao Lang berusaha tenang. Tiba-tiba saja ucapan Yukito berputar dalam kepalanya. “Eh? Tampaknya mengambil hari lebih lama tidak akan menjadi masalah, Yang Mulia. Hitung-hitung sebagai jatah istirahat anda untuk menikmati negara tetangga.” Menikmati negara tetangga, huh, batin Xiao Lang diikuti senyum lebar terukir di wajah tampannya. Xiao Lang berdehem singkat, hendak menjawab penawaran Kasim Wei. “Sebenarnya aku memiliki banyak jadwal dengan Kaisar Minamoto hingga nyaris tidak ada jeda istirahat. Aku tidak yakin apakah aku bisa keluar dari istana ini.” Kasim Wei mengangguk takzim, sangat memahami itu hanyalah bualan Xiao Lang semata agar terlihat tidak begitu tertarik pada penawarannya. “Sesungguhnya besok Yang Mulia memiliki waktu bebas, tidak ada jadwal apa pun dengan Kaisar Minamoto. Jadi, Yang Mulia bisa pergi menikmati waktu anda.” Xiao Lang kembali berdehem. “Begitukah? Baguslah, atur keberangkatanku besok. Pastikan tidak ada prajurit yang mengikutiku dari dekat, kau mengerti?” Diam-diam Kasim Wei menghela napas panjang. “Saya mengerti, sesuai perintah anda, Yang Mulia.” *** “Onee-chan, onee-chan, bagaimana keadaan di istana Kerajaan Minamoto?” “Apakah banyak lentera dan hiasan di kota? Bagaimana dengan makanannya?” “Onee-chan, apakah onee-chan bertemu dengan tamu penting Kaisar Minamoto?” Pertanyaan demi pertanyaan terlontar pada Sakura yang kikuk sendiri, kebingungan. Baru saja Sakura sampai di Okiya dan membersihkan diri, namun para maiko sudah menyerbu melontarkan ratusan pertanyaan. Tentu Sakura tidak memersalahkannya, sudah sewajarnya terjadi bagi mereka merasa penasaran. Tapi Sakura tentu tidak bisa menjawabnya sekaligus, bukan? Ah, bahkan Sakura belum sempat mengistirahatkan diri setelah melalui perjalanan panjang menaiki kereta kuda. “Hei, sabar. Aku tidak bisa menjawabnya sekaligus,” ujar Sakura kewalahan diserbu para maiko. Chiharu langsung mengangkat tangan untuk mengklaim giliran pertama. “Baiklah, onee-chan. Bagaimana pesta penyambutan tamu penting Kaisar Minamoto?” Para maiko segera berbaris duduk di hadapan Sakura. Menantikan jawaban dan cerita panjang Sakura membuat Sakura terkekeh gemas. “Pestanya sangat meriah. Ada banyak hiasan di sepanjang jalan ibu kota seolah-olah sedang mengadakan festival, nah bahkan lebih meriah dari festival,” jawab Sakura membuat para maiko berseru antusias, “kondisi istana lebih ramai lagi. Banyak penari dan seniman musik tampil. Penampilan geisha menjadi penutup pesta. Benar-benar membuatku sangat gugup karena artinya penampilan kami harus sempurna. Syukurlah segalanya berjalan lancar.” Gumam kagum meluncur dari bibir para maiko. Mata bulat mereka membulat penuh kekaguman terhadap senior mereka yang berkesempatan tampil di acara penting kerajaan tetangga. Benar-benar sebuah prestasi dan kebanggaan besar. “Apakah onee-chan bertemu dengan tamu penting Kaisar Minamoto? Dengar-dengar tamu penting itu seorang Kaisar dari kerajaan di Cina,” tanya Akane mengajukan pertanyaan kedua yang langsung disambut celetuk-celetuk antusias teman-temannya. Sakura menahan kekehannya melihat wajah gadis-gadis muda di hadapannya penuh rasa penasaran. Sudah pasti selama ini mereka membayangkan figur Kaisar dari Cina berpenampilan super tampan dan tidak tua. “Aku tidak bertemu dengan beliau,” jawab Sakura disambut hela napas dan wajah kecewa yang spontan membuat Sakura tersenyum geli, “hei, kenapa kalian langsung tidak bersemangat?” Akane mencebikkan bibirnya. “Semua orang ramai membicarakan Kaisar dari Cina itu. Kalau saja onee-chan bertemu langsung dengannya, bukankah itu benar-benar menakjubkan?” Sakura tersenyum simpul. “Tentu saja, benar-benar menakjubkan. Kaisar itu memimpin Kerajaan Li di Cina. Kerajaan Li sangat maju dan berkuasa di Cina. Kerajaan Minamoto benar-benar beruntung dapat menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Li.” “Kami ingin tahu penampilan Kaisar Li seperti apa, onee-chan,” dengus Chiharu sebal diikuti anggukan setuju teman-temannya. Koharu mengangguk paling setuju. “Kabar burungnya mengatakan Kaisar Li masih berusia muda. Jika memang begitu, pasti sangat tampan, bukan?” “Dibandingkan Kaisar-Kaisar di Jepang yang semuanya berusia tua, mendengar ada Kaisar yang masih muda benar-benar membuat penasaran,” tandas Chiharu. Dalam hati, Sakura menyetujui ucapan Chiharu. Reaksi Sakura kala mengetahui Kaisar Li masih berusia muda pun sama seperti para maiko, antusias dan penasaran. Ketiadaan Kaisar muda di Jepang membuat Sakura cukup tertarik untuk melihat penampilan Kaisar Li secara langsung. Sayangnya, Sakura tidak bisa melihatnya lebih dekat karena para geisha hanya sebatas penampil untuk penutup acara. Tidak ada jeda waktu bagi mereka untuk mencuri lihat figur sang Kaisar dari Cina. Cukup disayangkan. Ketika Sakura hendak kembali berbincang dengan adik-adik maikonya, sebuah ingatan terpampang dalam kepalanya. Membuatnya mengurungkan niat untuk bersuara. Ingatan samar yang menampilkan aula istana Kerajaan Minamoto, tempat Sakura tampil. Kening Sakura mulai mengernyit seiring berusaha mengingat ingatan samar yang tiba-tiba muncul tersebut. Sepasang mata berwarna cokelat. Cokelat madu, lebih tepatnya cokelat getah kayu. Mata cokelat getah kayu itu menatapnya intens selama Sakura menari. Sepasang mata yang sempat membuat Sakura bergidik karena mendapat efek dingin yang aneh menjalar di sekujur tubuhnya. “Tapi onee-chan pasti melihatnya sekilas di aula istana, bukan? Bagaimana, nee-chan?” tanya Akane kembali menyeletukkan pertanyaan membuat lamunan Sakura buyar. Sakura mengerjap cepat, menoleh. “Apa?” “Ah, onee-chan melamun. Apa yang onee-chan pikirkan? Kaisar Li? Nee-chan melihatnya?!” sembur Chiharu kembali bersemangat dalam sekejap. Kaisar Li? batin Sakura meragu bersamaan dengan ingatan sepasang mata cokelat kembali terpampang di kepalanya. “Ya, mungkin aku memang melihatnya,” jawab Sakura akhirnya dengan sejuta keraguan. TO BE CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN