Mataku kesulitan terbuka, dan butuh pemaksaan agar bisa melihat sekitar. Sungguh, kelopak mataku seperti dilem, sehingga sulit diangkat. Sementara ada sentuhan asing di perut yang tidak bisa aku abaikan. "Kamu sudah bangun?" Pertanyaan itu membuatku mencari-cari sumber suara. Aku bahkan tidak tahu kanan atau kiri sekarang. Hanya bisa menyipitkan mata, mencoba menjernihkan pandangan. Lalu, tawa ringan terdengar. "Serius, secapek itu?" Aku masih sibuk mencerna kondisi sekitar ketika dua telapak tangan mendarat di pipiku, mengarahkanku ke satu titik. Aku hampir ingin melompat pergi, tetapi pria ini sudah lebih dulu mendekap. Dalam keadaan linglung, kaku, dan kurang kesadaran—aku memaksa memoriku untuk terulang lagi mengenai semalam. Dan, aku hanya menemukan perempuan t***l kuadrat ya

