Aku sudah memutuskan secara bulat bahwa aku tidak lagi bekerja di kantor Mama. Belajar dari Revan yang menyia-nyiakan kesempatan dari keluarganya, aku tidak mau seperti dirinya. Meski begitu, aku tetap datang ke kantor untuk menemui pria itu. Sekadar ... sapa. "Kamu sibuk?" tanyaku ketika memasuki ruangan Revan. Pria itu hanya menoleh sebentar, kemudian fokus lagi dengan laptopnya. Aku tersenyum tipis, sama sekali tidak memedulikan lebih serius mengenai sikap dinginnya sekarang ini. "Kamu kenapa nggak datang ke rumah 5 hari ini?" tanyaku, ketika mulai mendudukkan diri di kursi yang berseberangan dengan Revan. "Sibuk." Ia menjawab tidak acuh. "Terlalu banyak kerjaan yang saya tinggalkan kemarin." Aku mengangguk-angguk mendengar jawabannya. Memilih berjalan di beberapa sudut ruang

