Bunyi beep menyeramkan menjadi penyebab aku membuka mata. Mendapati sekitarku bukan lagi ruangan dengan interior warna krem dan putih, dengan beberapa peralatan kesehatan di sekitarku, dan bunyi beep horor itu berada di sampingku. "Aku mau mati?" tanyaku pelan, dan segera, kepala yang semula telungkup di sampingku langsung terangkat. "Kamu sudah sadar?" Revan bertanya cemas. Ia memanggil perawat dengan menekan tombol, kemudian fokus padaku. "Kamu pingsan semalam." "Dipasangin itu ...." Aku melirik ke alat pendeteksi detak jantung itu. "Aku ... udah mau mati?" "Tidak, Salwa. Itu cuman untuk pantau detak jantung kamu—" "Yang bisa berhenti berdetak, kapan pun itu?" lanjutku, bahkan sebelum Revan menyelesaikan kalimatnya. "Bukan begitu, Sayang." Revan mengusap rambutku. Abai dengan do

